Satu Bulan Nenek dan Anak Cucu Hidup di Bawah Pohon

24 Juni 2018 - 19:13:03 | 1210 | HUMANIORA

DL/24062018/Bandarlampung

----- Kejamnya manusia yang menipu dan mengelabuhi nenek dan keluarga ini. Sejak sebulan lalu, Nurhayati (50) bersama anaknya Sintiya (35) dan cucunya Afan (6) hidup di bawah pohon Chery di kawasan sekitar terminal Rajabasa.

Nenek Nurhayati adalah korban penipuan dan pencurian dari seorang lelaki yang tidak dikenalnya di Semarang yang mengiming-imingi bisa kerja di kawasan perkebunan Sawit di Lampung.

Karena terbujuk lelaki durjana itu, N urhayati bersama anak dan cucunya berangkat dengan bekal harta yang ada bersama-sama naik bus jurusan Rajabasa dari daerah Semarang Jawa Tengah.

Namun sesampainya di terminal Rajabasa, Nurhayati dan keluarganya ditinggalkan begitu saja, sedangkan barang-barang dan data diri mereka dibawa kabur lelaki tersebut. Pupus sudah harapan mereka yang sudah membayangkan bisa bekerja di Lampung. "Saya sudah sebulan hidup dibawah pohon ceri beserta anak dan cucu saya," kata Nurhayati.

Selama sebulan ini untuk makan bertiga, mereka harus meminta-minta warga dan kadang nekat mencari barang bekas untuk dijual. “Untuk makan sehari-hari kami minta-minta kadang mencari barang bekas untuk dijual ke pengumpul,” tutur Sintiya.

Ditampung Dinas Sosial Lampung

Ketiganya kemudian ditemukan seorang aktivis BEM Fisip Unila, M Fadhel, yang merasa iba dengan kondisi mereka. Lalu Fadhel melaporkannya ke Yustin Ridho Ficardo pada Sabtu 23 April 2018.

Dari sini, Yustin mengarahkan ke Dinas Sosial provinsi Lampung. Lalu ketiganya dijemput petugas dari Dinas Sosial di Jln Abdul Muis Gedung Meneng Rajabasa dekat Lampung Futsal jalan terusan Perum Dosen Unila.

Sumarju Saeni, Kadis Sosial Provinsi Lampung yang dengan cepat merespon kondisi ini langsung membawa keluarga malang ini ke kantornya, Sabtu petang.

Kepada Sumarju, nenek Nurhayati dan Sintiya satu bahasa yang intinya tidak mau pulang lagi ke Semarang, karena sudah tidak punya apa-apa lagi. “Kami tidak mau pulang ke Semarang. Kami sudah tak punya tempat tinggal lagi. Kami ingin diantarkan ke anak saya di Mesuji,” tuturnya kepada Kadis Sosial.

“Mesuji adalah tempat dimana salah satu anak Nurhayati bernama Sundari tinggal. Tepatnya di Simpang Asahan Desa Muko Poso – RK 5 Kabupaten Mesuji.

Sambil menunggu informasi tentang Sundari dari Dinas Sosial Mesuji, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) atau Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) yang telah dihubunginya, nenek Nurhayati dan keluarganya tinggal di Panti Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial (PRSTS) Mardi Guna di Desa Hurun, Kecamatan Teluk Pandan, Pesawaran. (Ppid-dinsos)