Rachmat: Pentingnya Pengelolaan Air Terpadu

23 Maret 2017 - 22:53:59 | 653 | IPTEK

DL/23032017/Jakarta

--- Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim, Rachmat Witoelar, berpartisipasi pada acara peringatan Hari Air Sedunia yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan UNESCO Office Jakarta, Selasa, 22 Maret 2017.

Kegiatan yang dihadiri oleh sebagian besar pemuda ini berada dalam rangkaian acara Indonesia Funds-in-Trust (IFIT). Tema tahun ini yaitu Wastewater: The Untapped Resource, yang berfokus pada perubahan paradigma dunia bahwa air limbah adalah sumber daya, bukan limbah tak berguna, yang belum dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat dunia.

Rachmat Witoelar dalam keynote speech nya yang berjudul Peran Pemuda dalam Perubahan Iklim di Sektor Air menyatakan bahwa perubahan iklim memberi dampak besar terhadap beberapa sistem global, salah satunya terhadap sistem air global.

“Suhu yang makin panas karena konsentrasi gas rumah kaca yang makin tinggi, mengakibatkan makin banyak uap air di udara. Saat ini, uap air di udara sudah meningkat 4 persen dibanding 30 tahun yang lalu. Sehingga, frekuensi dan intensitas hujan deras makin tinggi, mengakibatkan semakin banyak kejadian banjir dan tanah longsor. Ini salah satu pengaruh perubahan iklim terhadap sistem air global.” Kata Rachmat.

Selain itu, peningkatan suhu mencairkan banyak es yang akhirnya mengalir ke laut. “Padahal, ini merupakan cadangan air bersih untuk manusia. Manusia juga masih kurang bijaksana dalam pengelolaan air, misalnya 80 persen air limbah tidak diolah dan langsung dibuang, padahal sebenarnya bisa dimanfaatkan kembali seperti untuk kepentingan pertanian dan peternakan, pembangkit energi, industri, dan lain-lain.” Tambahnya.

Rachmat Witoelar mengajak masyarakat termasuk pemuda untuk lebih kritis lagi menyikapi penggunaan dan pengelolaan air. “Perubahan iklim dan meningkatnya populasi manusia memberi tekanan yang besar pada sumber daya air kita. Sebanyak 40 persen populasi dunia mengalami kelangkaan air.” Ungkapnya.

Program adaptasi perubahan iklim harus dilaksanakan untuk mengatasi krisis air tersebut melalui penggunaan teknologi tepat guna. “Jika kita semua ingin agar generasi masa depan tercukupi kebutuhan air bersihnya, pengelolaan airnya harus benar dimulai dari sekarang.” Ujarnya. (lia)