Jambore Iket Sunda Bentuk Nyata Pelestarian Budaya

01 September 2013 - 12:37:22 | 3106 | SENI & BUDAYA

DL/01092013/Bandarlampung.

Beragam cara bangsa Indonesia untuk dapat melestarikan dan mengembangkan budaya negeri ini. Satu diantaranya adalah dengan mengangkat kearifan local ke tingkat nasional bahkan internasional. Seperti yang dilakukan oleh komunitas iket Sunda (KIS) Jawa Barat yang akan menghelat Jambore Iket Sunda tingkat internasonal di Pangandaran – Banten, 8 September mendatang.

Ini diungkapkan Gunawan Sejati, penggagas komunitas iket Sunda di Lampung, kepada detiklampung.com, Minggu (01/09). “Kami siap mengikuti Jambore Iket Sunda, karena selain itu event besar internasional, juga akan memberikan semangat bagi kami untuk membentuk KIS regent Lampung,” kata Gunawan.

Sementara ini, meskipun belum secara resmi dikukuhkan, KIS sudah mempunyai komunitas lebih dari 300 orang di seluruh Lampung. “Ini kan baru digagas, sambutannya cukup lumayan cepat dari teman-teman, bahkan bukan saja dari etnis Sunda, juga yang lain,” tambahnya.

Menurut  Gunawan, iket adalah sejenis penutup kepala yang berciri khas Sunda ada beberapa macam, seperti Barangbang  Semplak, Julangapak, Parengkos Jengkol, Parengkos Nangka, dan beberapa lagi, termasuk satu kreasi yang sedang diproduksi di Lampung Tengah adalah Parengkos Gajah Lampung.

“Ini kekayaan budaya yang harus dilestarikan, dan dapat dipadukan dengan khas daeah dimana kita tinggal. Seperti di Lampung ini. Ayah saya sudah merancang sebuah iket dengan corak Sunda namun berornamen batik Lampung. Ini akan menambah kecintaan kita terhadap budaya negeri ini,” kata staf Humas Kabupaten Lampung Tengah itu.

Sementara menurut ketua perguruan Sonia Wening, Amien, atau yang lebih akrab dipanggil Laleur Bodas (Lalat Putih), menegaskan bahwa saat ini Paguyuban Jawa Barat memang sedang mempersiapkan pertemuan se provinsi Lampung yang kebetulan juga direncanakan tanggal 8 September mendatang. “Tempatnya kami sepakati  SLB Bandarlampung. Ini juga dalam rangka tetap melestarikan budaya Indonesia. Bentuknya memang pagelaran Seni Sunda dalam rangka halal bihalal kami, Lampung Tengah mendapat tugas untuk mengirimkan kelompok pencak silat.” katanya.

Komunitas masyarakat Sunda di provinsi Lampung cukup besar, pada data BPS tahun 2009, dari 8 juta penduduk Lampung, etnis Sunda berjumlah 2 juta jiwa. Dan ini terus berkembang. “Kami tetap tidak melupakan budaya asal daerah, tetapi tetap menjunjung tinggi adat dan budaya dimana kami berada. Di mana bumi dipijak, di situ langit di junjung, begitulah kira-kira,” tambah Amin. (R-01)