Suhardi, Difabel Yang Rindu Kursi Roda Terus Dirundung Malang

DL/22072020/Bandarlampung

---- Jalan hidup manusia ternyata memang sangat beragam. Dunia panggung sandiwara, memang demikian adanya. Dan masing-masing makhluk menjadi perannya sendiri-sendiri.

Demikian pula yang dialami Suhardi, 56 tahun, warga Tanjung Mukti RT 10 RW 5 Trans Tanjungan Katibung Lampung Selatan.

Yang Maha Kuasa memberikan peran sebagai Suhardi yang tergolong sebagai difabel, kedua kakinya kecil dan tidak sempurna sehingga untuk berjalan sangat sulit.

Suhardi kini hidup menumpang di rumah adik perempuannya karena tidak punya tempat tinggal.

Kepada media ini, Suhardi bertutur tentang kondisinya saat ini, yang ternyata menderita sakit batu ginjal. “Saya dinyatakan ada batu ginjal di bagian ginjal sebelah kiri oleh dokter Nyoman,” kata Suhardi mengawali penuturannya, di kamar kost di kawasan Sukamenanti, Bandarlampung, Senin, 20 Juli 2020.


(Ditunggu adiknya, dan kerabat dari LKS PD Lamsel, tgriyanto cs.)

Nyeri Pinggang Bertahun-tahun

Saat usia 45 tahun, kata Suhardi, saya masih bisa berjalan meskipun pakai tongkat. Karena kedua kaki ini mengecil dan tidak kuat untuk menapak jika tidak ditopang dengan tongkat.

“Tapi lama kelamaan sudah tidak berdaya lagi sekian lama, saya sering sakit di bagian pinggang. Nyeri sekali. Dan saya gak tau harus bagaimana. Pokoknya setiap nyeri di pinggang, saya Cuma minum obat warung untuk mengurangi rasa sakit. Adik saya yang membantu semua ini,” katanya.

Adik Suhardi yang juga hidup seorang diri tanpa suami, dengan sabar merawatnya. Dia bekerja sebagai buruh congkel kelapa di tempat tetangganya.

“Tetapi kondisi saya, makin lama makin parah. Sakitnya makin menjadi-jadi, bahkan sampai bertahun-tahun. Pokoknya saya derita ini dengan sabar, karena memang tidak tau harus bagaimana,” tambah Suhar.

Singkat cerita, suatu hari Suhardi disarankan untuk ke dokter dan memeriksakan penyakit apa sebenarnya yang selama bertahun-tahun ini dideritanya.

“Kata adik saya, sudah ada sedikit uang yang dia kumpulkan untuk periksa ke dokter di Candipuro yaitu dokter Nyoman. Dan akhirnya saya dibawa ke sana dan dirawat empat hari, waktu itu bulan Juni lah. Dari sini saya dirongten. Hasilnya terlihat ada batu ginjal, dan harus dioperasi,” kata Suhar.

Uang Habis

Dalam  ketidaktahuannya untuk mengurus BPJS segala macam. Suhardi dan adiknya akhirnya kehabisan uang juga, untuk mengurus ke dokter dan lain-lain.

“Uang adik saya habis. Saya bingung. Akhirnya saya minta tolong tetangga untuk menghubungi LKS penyandang Disabilitas di Lampung Selatan untuk minta dibantu. Dan akhirnya datang mas Triyanto, pak Slamet dan bu Sulasmi. Mereka ini semuanya juga disabilitas. Mereka ini juga yang membantu saya mengurus kartu BPJS, dan akhirnya saya punya BPJS,” tuturnya makin sedih.

Dengan BPJS akhirnya Suhardi diantar ke Puskesmas terdekat yakni di Puskesmas Tanjung Agung untuk kembali mencoba peruntungan berobat. Dari sini akhirnya dirujuk ke Rumah sakit Graha Medika Bandarlampung.

“Senin, 13 Juli 2020, saya dan adik saya disampingi para pengurus LKS PD Lampung Selatan, ke Rumah Sakit Graha Medika. Ya tak seperti yang saya bayangkan, ternyata sampai sini setelah menunggu mengantri akhirnya saya disuruh ke Rumah sakit Abdul Muluk untuk scan dulu,” ujarnya.

Ternyata tak selancar yang dibayangkannya untuk bisa berobat di Kota besar. Nyata Suhardi harus kembali lagi ke desa dulu.


(dijenguk dan diberikan motivasi serta doa oleh pak Anton (baju putih), untuk menguatkan semangatnya)

Alat Scan Tiba-tiba Rusak

Akhirnya baru 20 Juli 2020, Suhardi dianter adiknya dan didampingi pengurus LKS Lamsel ke rumah sakit Abdoel Moeloek di Bandarlampung. “Ya Alhamdulillah, sampai di sana katanya alat scan rusak, dan entah sampai akapan bisa diperbaiki. Ya saya mencoba bersabar saja. Kalau balik ke kampung akan makin besar biayanya. Maka dari itu, disarankan untuk nunggu di rumah singgah di dekat Rumah Sakit DKT Bandarlampung,” tambahnya.

Jumat pagi itu, Suhardi kembali menuai hasil nihil dan harus bersabar, karena alat scan tiba-tiba rusak. Dan akhirnya menginap di sebuah kontrakan satu kamar, di depan rumah singgah, dengan biaya sendiri.

Dalam dua hari, beberapa pihak berusaha menolong Suhardi, diantaranya dari Sahabat Difabel Lampung (Sadila) yang kemudian menghubungi rumah singgah YPGL untuk memberikan fasilitas kepada Suhardi.

Selain itu, Minggu sore, ada anggota DPRD Provinsi Lampung asal Lampung Selatan, Anton, yang juga berkesempatan menjenguk Suhardi di kamar kost nya. Saat itu, Suhardi ceritakan kejadiannya saat periksa ke RS AM.

“Nah gak lama dari itu, pak Anton menelpon entah menelpon siapa. Lalu beliau memberitahu saya kalau Senin pagi sudah bisa scan di Rumah sakit. Alhamdulillah, kok bisa cepat begitu yaa Scan nya selesai,” kata Suhardi tidak bisa menutupi kegirangannya.

Perjalanan Suhardi untuk ke meja operasi masih sangat panjang dan perlu perjuangan berat, untuk menunggu uluran tangan pihak-pihak yang punya akses ke sana.

Sementara ini masih tetap menunggu dulu dan menunggu sampai datangnya hari baik. “Saya pasrah saja, akrena sudah tak punya apa-apa. Tinggal semangat saja yang masih ada. Saya ucapkan terima kasih kepada Pak Anton, kepada adik-adik dari LKS PD Lamsel mas Tri dan kawan-kawan, serta kepada adik-adik Sadila yang sabar membantu saya selama ini. Dan tentu kepada adik saya yang sangat sabar ini,” katanya sambil memegang tangan adiknya, yang tampak tetap berusaha tegar.

“Saya Cuma bisa mimpi, punya kursi roda sendiri. Tapi yaa siapa tahu lah, kalau ada yang berkenan membantu, meskipun bekas gak papa,” tambahnya. (tim)