Jihad Muhammad Ali ke Irak yang Berujung Pengkhianatan Amerika

DL/25052020/Bandarlampung

---- Mari simak bagaimana kisah legenda tinju Muhammad Ali yang melakukan jihad ke Irak dan malah berujung sebuah 'pengkhianatan' untuk Amerika Serikat.

Muhammad Ali semula dilahirkan bernama lengkap Cassius Marcellus Clay Jr pada 17 Januari 1942 silam di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat.

Semasa masih hidup dan aktif di dunia tinju, Muhammad Ali sukses meraih beragam gelar juara kelas berat di ajang Olimpiade 1960 Roma.

Selain itu Muhammad Ali juga sempat menang Intercity Golden Gloves, Chicago Golden Gloves, US National Championships, hingga beberapa sabuk kelas berat lainnya.

Sepanjang karier tinjunya, Muhammad Ali sukses mendulang 56 kemenangan (37 diantaranya menang KO) dan lima kali menelan kekalahan pahit.

Muhammad Ali sendiri telah wafat pada 3 Juni 2015 silam ketika berusia 74 tahun. Meski begitu, Muhammad Ali bakal dikenang oleh dunia olahraga.

Mantan petinju muslim itu ternyata juga punya kisah menarik yang bisa dicermati oleh para penggemar olahraga di berbagai belahan dunia.

Bebaskan Tahanan

Sebab ada sebuah peristiwa dimana Muhammad Ali turut berjasa dalam membebaskan 15 orang sandra yang berada di kawasan Irak pada 1990 silam.

Muhammad Ali bersua pemimpin Irak Saddam Hussein jelang Perang Teluk terjadi. Saat itu Saddam Hussein menyandera banyak sekali tahanan dari berbagai negara.

Mulai dari Inggris, Prancis, Jerman, hingga Amerika Serikat. Para tahanan ini menjadi tameng bagi Saddam Hussein dari serangan para musuhnya.

Sebab tahanan-tahanan ini ditaruh di tempat-tempat yang sangat strategis agar bisa melindungi Saddam Hussein pasca Irak invasi Kuwait.

Dilansir dari laman Face2FaceAfrica, Ali yang mengetahui kabar tersebut langsung bergegas untuk segera bisa membebaskan para tahanan.

Khususnya tahanan Amerika Serikat. Ali nekat terbang ke Baghdad untuk berjumpa Saddam Hussein dan melakukan dialog negosiasi dalam pembebasan.

Pertemuannya itu membuat media-media Amerika Serikat tak begitu suka. Berbagai kabar miring diselipkan pada pemberitaan Muhammad Ali kala itu.

Meski sudah tiba di Irak, Ali tak bisa langsung menemui Saddam Hussein. Bahkan pria yang mualaf pada 25 Februari 1964 itu harus menunggu cukup lama.

Padahal Ali kala itu memiliki penyakit Parkinson yang cukup mengganggu aktivitasnya. Sampai-sampai Ali harus mendapat perawatan karena obatnya habis. Sebuah pertaruhan yang cukup berbahaya dilakukan Ali kala itu.

Namun, Ali ditolong oleh Kedubes Amerika Serikat Vernon Nored. Dirinya mendapatkan obat yang dibutuhkan Ali dan legenda tinju dunia itu akhirnya bisa membaik.

Meski tertunda, Ali tetap bersabar untuk berjumpa Saddam Hussein. Ali juga sempat berkunjung ke masjid di Irak dan berdoa kepada Allah SWT.

Berhasil dengan Selamat

Akhirnya, 29 November 1990, Ali dan Saddam bertemu. Keduanya terlibat perbincangan hangat dan niatan Ali tengah dicermati betul-betul oleh Saddam.

Ali dikabarkan tak akan meninggalkan Irak jika para tahanan negaranya enggan dibebaskan, termasuk jika nantinya Amerika Serikat menyerang Irak.

Pendekatan Ali ternyata membuat Saddam luluh. Mantan pemimpin Irak itu pun berjanji pada Ali segera melepaskan 15 tahanan Amerika Serikat.

Saddam Hussein juga sempat menjelaskan kalau dirinya tak akan membiarkan Muhammad Ali pulang ke Amerika Serikat tanpa dikawal para tahanan.

Perjuangan Ali pun berjalan sukses, dimana bisa balik ke Amerika Serikat dengan selamat. Tudingan pihak Amerika Serikat pada Ali pun meleset parah.

Dalam laporan serupa, PBB sempat menuntut pada Saddam Hussein agar membebaskan para tahanan lainnya. Namun eks pimpinan Irak itu enggan mengindahkan.

Sampai pada akhirnya, 6 Januari 1991, militer Amerika Serikat melakukan serangan dalam memborbardir Irak. Itulah sedikit kisah Ali membebaskan 15 tahanan.

(sumber indosport)

Tags