X

*** TERIMA KASIH ANDA TELAH SAKSIKAN DETIKLAMPUNG STREAMING TV SETIAP HARI ***      *** Video on Demand kami siapkan atas saran & permintaan masyarakat pembaca setia detiklampung.com *      

OPINI: Selamat Datang Pejuang Olahraga Lampung

  • Pertanggungjawabkan Itu Kepada Allah Saja

    Oleh: DON PECCI

    Redaktur detiklampung.com

     

    Tiada gading yang tak retak, dan tak ada manusia di dunia ini yang luput dari kesalahan.

    Dan tak ada ilmu yang lebih tinggi kecuali ilmunya Allah. Semua di dunia ini selalu ada batasnya. Apakah itu kemampuan ataupun kekuasaan.

    Biasa saja lah bersikap dan bertingkah laku di tengah masyarakatnya. Semua dibatasi oleh yang Maha Memelihara Jagad ini.

    Saya hanya ingin mengingatkan kepada kita semua, agar mengakhiri semua bentuk kepongahan dan adigang adigung adiguno  dalam setiap diri pemimpin atau pejabat kita di negeri ini. Aji mumpung itu selalu berakhir menyedihkan.

    Kenapa ini sebagai pembuka opini saya tentang olahraga Lampung dan Pekan Olahraga Nasional ke XIX di Jawa Barat?

    Ini ada kaitannya dengan kegagalan yang menimpa kontingen kita di Bumi Parahiyangan untuk mencapai cita-cita masuk dalam 8 besar PON tahun ini.

    Kalau boleh merunut sejak awal memang sudah ada yang keliru dari sistem pergantian organisasinya. Terutama di KONI Lampung. Ini bukan soal Gubernur yang jadi ketua KONI ya.

    Maksud saya soal timing. Pernah dulu diwacanakan bahwa jabatan pengurus KONI diperpanjang saja satu tahun hingga usai PON XIX. Tetapi tidak dikabulkan. Malah Musdalub nya seolah dipercepat.

    Alasan yang diajukan demi persiapan PON dan sebagai sudah tidak lagi bisa diterima oleh “mayoritas” masyarakat olahraga Lampung saat itu.

    Sebenarnya pertimbangan untuk mempersiapkan PON yang tinggal setahun lagi itu masih relevan dengan target mempertahankan 10 besar waktu itu. Tetapi apa daya, titah harus dilaksanakan sesuai dengan titahnya.

    Namun konsekuensinya baru disadari sekarang saat semua sudah terlambat. Karena tidak mudah menyiapkan kontingen dalam waktu sedekat itu, hanya dengan modal keyakinan dan ambisi saja.

    Dengan begitu, pengurus KONI yang baru dalam kabinetnya pak Ridho hanya punya waktu 1 tahun kurang lebih, untuk menyiapkan pasukan di kontingen Lampung.

    Namun demikian, pengurus yang didominasi oleh generasi muda intelektual dan berwawasan maju itu ternyata tidak bisa semudah membalikkan telapak tangan untuk mengatrol prestasi Lampung di PON.

    KONI seharusnya dua kali lebih berenergi dengan dukungan kepengurusan yang luar biasa, bahkan ada yang merangkap jabatan Kepala Dinas, dan anggota legislatif yang cukup gahar. Mestinya bisa meyakinkan rakyat bahwa kepengurusan ini benar-benar mumpuni dalam bidang olahraga dan mampu mengangkat prestasi Lampung.

    Belum lagi KONI didukung Dana yang begitu signifikan dan sangat mudah mencairkannya. Bahkan konon 2,5 kali lipat dana yang dipergunakan di PON XVIII Riau tahun 2012 yang waktu itu berkisar Rp20 miliar. Atau barangkali ada keyakinan bahwa dengan pendanaan yang begtu besar, maka prestasinya serta merta akan mendadak naik.

    Persiapan bonus juga dilipat-gandakan dari sebelumnya Rp30 juta untuk medali emas, sekarang Rp200 juta dan seterusnya. Lalu apa yang kurang?

    Atlet Itu Seperti Burung

    Saya yakin, dengan kegagalan ini semua bicara akan segera melakukan evaluasi. Lalu evaluasi macam apa yang harus dilakukan.

    Kenapa harus melakukan evaluasi cuma kepada Atlet, Pelatih dan Pengurus Cabor. Bukankah pengurus KONI tidak perlu dievaluasi?

    Semua lalu bilang, pembinaan olahraga ini kan tidak bisa instan. Kan itu sudah tahu semua. Makanya lalu membeli atau merekrut cabang olahraga yang sudah mapan. Seperti Terjun Payung.

    Kalau saya mencopy paste kalimat pak Eddy Sutrisno yang beranggapan bahwa atlet itu tak ubahnya seperti burung. Kalau dipegang erat-erat bisa mati, kalau dipegang renggang maka akan terbang.

    Ini perumpamaan yang dalam artinya. Eddy Sutrisno, hampir sepanjang hidupnya berkecimpung di dunia olahraga. Maka tahu persis bagaimana cara menangani seorang atlet, bagaimana memotivasi, bagaimana memompa semangatnya untuk mendapatkan medali.

    Tapi, harus ada dukungan yang baik dari berbagai sektor lain. Atlet itu kepingin di-orang-kan. Pewlatih itu kepingin di-manusia-kan. Lalu seperti apa sebenarnya memanusiakan manusia itu, ada ilmunya.

    Kegagalan kontingen PON XIX di Jawa Barat ini bukan hal biasa-biasa saja. Ini hal yang luar biasa dan harus segera dipertanggungjawabkan oleh para punggawa yang bertanggungjawab soal ini.

    Tidak bisa hanya dengan berkomentar mohon maaf, karena daerah lain ternyata lebih maju dari Lampung, atau maaf kami gagal, dan kami berjanji akan segera mengevaluasi. Itu sudah biasa.

    Yang terpenting adalah mempertanggungjawabkan kepada Allah Subhana Wataala, karena disitu ujian kejujuran dari segala hal. Dan kepada rakyat Lampung, karena yang dipergunakan adalah uang rakyat Lampung.

    Ada hal yang sangat dalam harus disadari bersama kita semua, dalam bermasyarakat dan berorganisasi. Ketika semua memulai dengan niat yang baik, maka percayalah, hasilnya akan baik. Yang tahu isi hati kita, hanya kita dan Allah. Karena dalam niat yang baik ada proses yang baik, ada perilaku yang baik, ada pemikiran yang baik. Dan sebaliknya.

    Data dan Fakta

    Kita sekarang bicara data dan fakta. Jika tiga PON terakhir akan dibandingkan, maka terjadi penurunan secara beruntun. Coba kita bandingkan, setelah eforia 5 besar PON mulai usai.

    PON XVI di Palembang tahun 2004, Lampung berada pada posisi ke 8 klasemen akhir dengan perolehan medali 22 Emas, 21 Perak dan 21 Perunggu. Saat itu Sumatera Selatan  sebagai tuan rumah di urutan ke 5 dengan 30 medali emas, 41 perak dan 40 perunggu.

    Lalu tahun 2008 di PON XVII Kalimantan Timur, posisi Lampung masih berada di urutan 8 dengan medali emas 18, perak 12 dan perunggu 19.  Saat itu Kalimantan Timur luar biasa di peringkat 3 dengan 116 medali emas, 111 perak dan 115 perunggu.

    Pada PON XVIII di Riau tahun 2012, Lampung terdampar diposisi ke 10 klasemen akhir dengan perolehan 15 medali emas, 9 perak dan 10 perunggu. Dan tuan rumah Riau di posisi 6 dengan medali emas 43, perak 39 dan perunggu 51.

    Kini di PON XIX di Jawab Barat, Lampung terjerembab di kasta tengah urutan 15, dengan perolehan medali 11 emas, 9 perak dan 16 perunggu. Sementara Jawa Barat juara PON dengan 217 emas, 157 perak dan 157  perunggu.

    Jangankan nomor satu di luar Jawa, di Sumatera pun Lampung kini berada dibawah Riau, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

    Nasi sudah menjadi bubur. Maka yang paling enak adalah ditambahin kerupuk dan telur dadar, untuk sarapan. Begitu kata hiburannya.

    Maka pesan saya kepada yang bertanggungjawab untuk ini, agar istighfar, jangan merasa disalahkan, dan jangan mencari kambing hitam. (Kambingnya sudah untuk kurban).

    Evaluasi bukan harus kepada orang diluar kita, tapi dari dalam diri kita. Jangan mencoba cari kesalahan orang lain hanya untuk menghibur diri, karena memang semua harus dipertanggungjawabkan baik secara organisasi maupun pribadi-pribadi.

    Jangan takut untuk berkata jujur, termasuk meminta maaf dan mengakui kekurangan kita. Masyarakat tahu, apa yang kita perbuat, namun mereka diam dan menunggu hasil yang kita perbuat itu tadi.

    Ilmunya dari mas Eddy lagi nih. “Ojo rumongso biso, nanging biso rumongso”, artinya kira-kira, jangan merasa bisa, tapi bisa merasa dengan rasa.

    Karena merasa bisa, itu artinya nggak bisa. Karena hanya merasa saja. Tetapi sebenarnya tidak bisa. Itulah mayoritas pemikiran saat ini.

    Bahkan say abaca di Koran, ada akademisi yang menyarankan sebaiknya semua kepengurusan olahraga harus mulai dipegang oleh anak muda yang berwawasan, berintelektual dan berinovasi tinggi.

    Ini mendiskreditkan Pembina-pembina berusia senior atau katakanlah tua, yang seolah-olah sudah kolot dengan ilmu pengetahuan masa kini, dan kesannya yang tua itu mencari kehidupan di olahraga. Ini juga tidak bijaksana. Bahkan pernyataan yang tidak valid seperti ini memicu polemik berkepanjangan.

    Intinya, ayo kita sekarang mulai berfikir realistis saja. Jangan bicara usia, ilmu atau intelektual, namun juga harus melihat kemampuan lainnya, dedikasinya, niat baiknya dan trek recordnya dalam segala hal. Agar tidak kembali membiasakan sistim kawan, kekerabatan, balas jasa dan sebagainya. Karena itu juga sudah mengkhianati reformasi kan? KKN.

    Selamat datang pejuang olahraga Lampung. Terima kasih Anda telah berjuang sampai titik keringat penghabisan. Apapun hasilnya, terimalah sebagai hasil maksimal. Ini keputusan Yang Maha Kuasa, Allah Subhana Wataala. Anda hanya diperkenankan untuk berdoa dan berjuang saja.

    Bersyukur dan ikhlas apa yang kita dapat akan lebih baik. Allah tidak akan bisa kita tipu dengan apapun bahasa kita.

    Kembali berlatih, berlatih dan meningkatkan prestasi. Hari esok masih ada. Bravo olahraga Lampung.