X

*** TERIMA KASIH ANDA TELAH SAKSIKAN DETIKLAMPUNG STREAMING TV SETIAP HARI ***      *** Video on Demand kami siapkan atas saran & permintaan masyarakat pembaca setia detiklampung.com *      

OPINI: Lampung Fair Bukan Pestanya Rakyat Kecil

  • Apa Alasannya Masuk ke Lampung Fair Kok Bayar

    Oleh : DON PECCI

    Redaktur Detiklampung.com

     

    Memang kalau dipikir-pikir, sangat tidak relevan, masyarakat harus bayar tiket masuk di Lampung Fair itu untuk apa? Nonton Artis? Nonton Pameran? Atau bayar tiket masuk karena mau belanja?

    Lampung Fair yang saat ini terus bergulir dan bergonta-ganti penyelenggara itu secara konkrit sebenarnya milik siapa ya?

    Bagaimana bisa, selalu ada penyelenggara yang baru setiap tahun, kalau disinyalir bahwa sebagai penyelenggara Lampung Fair ini menguntungkan.

    Oke lah semua proyek ini harus ditenderkan. Tetapi apakah ini bukan menjadi bukti bahwa Lampung Fair itu sendiri masih tampak gamang dan terus mencari-cari bentuk dan formulanya.

    Lampung Fair yang dihelat pertama kali menggantikan pameran pembangunan yang setiap tahun diselenggarakan setiap bulan Agustus, kali ini terus berubah-ubah waktunya dan sudah tidak lagi sebagai pesta rakyat dalam rangka HUT-RI yang sangat dibanggakan rakyat.

    Lampung Fair juga sudah berorientasi uang, uang dan uang. Semua yang bergerak di Lampung Fair harus dengan uang. Tanpa uang jangan harap bisa menikmati Lampung Fair.

    Swastanisasi ternyata belum menemukan bentuk yang win-win solution dengan rakyat. Sampai saat ini bandrol tiket yang Rp.5.000 perorang di hari biasa dan Rp10 ribu di hari Sabtu dan Minggu itu sudah membebani rakyat kecil untuk menikmati pesta negeri ini. Belum lagi biaya parkir yang diberlakukan juga luar biasa, diluar ketentuan pemerintah.

    Ada hak-hak rakyat yang sudah tidak bisa mereka nikmati. Padahal sebelumnya, pada jaman Pameran Pembangunan, rakyat bisa lebih leluasa datang hanya dengan membayar uang parkir motor atau mobil, dan uang sangunya bisa untuk belanja di dalam arena pasar malam atau Pemeran Pembangunan.

    Saya pernah tanya teman-teman yang mengurus Lampung Fair soal berapa besar sewa Rouder (tenda raksasa) dan yang lain itu selama pameran berlangsung, sekitar 2 pekan. Ternyata muncul angka Rp.1,2 miliar, itu katanya hanya untuk sewa dan ongkos angkutnya saja. Wah.

    Jadi berapa panitia harus dapat uang agar bisa membayar sewa, bayar keamanan, bayar panitia, promosi, bayar artis dan sebagainya? Harus muncul angka diatas Rp2,5 miliar.

    Lalu siapa yang harus menanggungnya? Yang jelas, Pengusaha yang mau ikut, SKPD yang ikut pameran, perusahaan yang mau promo dan yang paling besar harus menanggung ini adalah Rakyat.

    Coba bayangkan ada tidak pelaksana yang mau rugi dengan menyelenggarakan Lampung Fair ini, atau masih adakah saudagar Bogor yang mau mengambil Lampung Fair ini tanpa memikirkan dan menghitung keuntungannya. Rasanya impossible.

    Beberapa penyelenggara Lampung Fair sebelumnya berteriak rugi. Terus beberapa lainnya berbisik baru balik modal. Kalau tidak ada yang untung, kenapa pada berebut jadi penyelenggara ya? Ini pasti ada sesuatu dibaliknya. Yang jelas ini lahan bisnis paling menggiurkan.

    Lampung Fair juga sudah mengubur tradisi pesta rakyat gratis yang selama ini berlangsung dalam tajuk Pameran Pembangunan. Memang sebelum berganti nama dan berimprovisasi menjadi Lampung Fair, pernah digulirkan isue bahwa Panitia Pameran Pembangunan banyak korupsi dan sebagainya, sehingga memudahkan pihak swasta masuk dengan dalih seluruh modalnya dari swasta.

    Tapi kenyataannya, siapa yang harus membayarnya? Ya Rakyat lagi.

    Nah makanya, kenapa tidak ada yang kembali mengusulkan kepada pemerintah Lampung yang berkuasa penuh itu, bahwa Lampung Fair harus dikembalikan pada khitahnya yakni pesta rakyat. Pesta rakyat itu bukan sekedar pesta bernyanyi semalam gratis.

    Arti sebenarnya pesta rakyat yang Pameran Pembangunan itu. Mereka bisa belanja dengan anak isteri di sebuah pasar malam sambil berhibur dan sebagainya. Karena dalam setiap pameran Pembangunan tidak dipungut biaya masuk. Jadi uangnya bisa dipergunakan untuk belanja di dalam.

    Lalu bagaimana dengan Lampung Fair? Dulu Lampung juga sering menggelar Lampung Expo yang dikhususkan bagi pemasaran produk-produk unggulan daerah Lampung, dan diikuti beberapa daerah lainnya.

    Justru di Lampung Expo ini tidak dipungut bayaran tiket masuk, seperti di Lampung Fair.

    Ya itu tadi. Kenapa kok harus bayar ya? Apa sebenarnya alasan yang paling tepat untuk ini?

    Jika masyarakat harus membayar masuk ke Lampung Fair karena di dalamnya ada pertunjukkan artis ibukota, maka bagi yang tidak mau nonton artisnya masak juga ikut bayar.

    Jika yang dibayar adalah karena mau nonton pameran pembangunan, jauh lebih aneh. Karena yang membuka stand sudah membayar kepada panitia, yang nonton juga membayar kepada panitia. Lha.

    Masih harus banyak dikaji ulang soal ini, agar semua tujuannya tercapai. Saat ini ekonomi semakin sulit, rakyat butuh makan, butuh pekerjaan dan butuh sekolah. Maka pemerintah harus realistislah.

    Kalau memang Lampung Fair ini tidak bermanfaat buat masyarakat luas, harus kembali dikaji, apakah dikembalikan menjadi Pameran Pembangunan seperti semula atau dikaji ulang tentang pola pelaksanaannya, agar tidak merugikan masyarakat luas.

    Jangan berfikir praktis saja, kelihatannya meriah, tetapi asas manfaatnya tidak ada sama sekali.

    Mari coba berfikir jernih, jangan ada yang suka tersinggung dan anti kritik. Karena belakangan ini banyak pemimpin kita yang mulai menggunakan pola anti kritik. Semua harus berjalan sesuai dengan yang diinginkannya sendiri, karena yang lain dianggap angin lalu. Mumpung berkuasa.

    Ingatlah menyesal itu selalu dibelakang, bukan diawal. (0)