X

*** TERIMA KASIH ANDA TELAH SAKSIKAN DETIKLAMPUNG STREAMING TV SETIAP HARI ***      *** Video on Demand kami siapkan atas saran & permintaan masyarakat pembaca setia detiklampung.com *      

OPINI: Senekad Itukah pak Ridho?

  • Kenapa Kalian Mendorong Pak Gubernur Ke Jurang?

    Opini: Don Pecci

    Redaktur detiklampung.com

    Kenapa kita tidak berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Malah kita mencari pembenaran bahwa yang salah itu benar?

    Kenapa kalau ada contoh yang benar, kita ikuti contoh yang salah?

    Saudara-saudaraku pengurus cabang olahraga se provinsi Lampung, apa yang sebenarnya Anda fikirkan selama ini, sehingga Anda semua mendorong pak Gubernur kita, M. Ridho Ficardo menjadi kandidat Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Lampung.

    Apa yang Anda cari, sebenarnya. Bahkan Anda semua tahu, jika dalam UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2005 Pasal 40 berbunyi: Pengurus komite olahraga nasional, komite olahraga provinsi, dan komite olahraga kabupaten/kota bersifat mandiri dan tidak terikat dengan kegiatan jabatan struktural dan jabatan publik.

    Artinya, kita semua tahu bahwa UU No.3 tahun 2005 itu memberikan larangan bagi pejabat public dan pejabat structural untuk terjun langsung dalam dunia olahraga. Kita semua tahu, siapa pejabat structural dan pejabat publik itu.

    Lalu kenapa, sebagian besar dari Anda turut mendorong arus yang menginginkan Gubernur menjadi ketua KONI Lampung? Ini pertanyaan besarnya. Karena saya yakin masyarakat olahraga Lampung rasanya masih saying dan mencintai pak Ridho sebagai gubernur Lampung.

    Masyarakat olahraga masih ingin dipimpin oleh pemimpin yang peduli dengan olahraga itu positif dan pasti. Tetapi caranya bukan menjerumuskan pimpinan ke jurang. Efek dari dorongan itu sementara ini mungkin tampak simple. Kalau Gubernur jadi Ketua KONI maka Dana akan beres dan prestasi akan naik, tambah medali emas dan sebagainya. Apakah iya begitu simpelnya?

    Saya hanya mengingatkan saja, karena saya sayang yang pak Gubernur Lampung, (meski saya tidak kenal beliau dan sebaliknya).

    Pertama, jangan sampai pak Gubernur melanggar sumpah dan janjinya yang diucapkan di hadapan Allah SWT dan masyarakat saat dilantik, yaitu gubernur bersumpah dibawah Al Quran bahwa dia akan melaksanakan seluruh perundang-undangan yang berlaku di negeri ini. Kita tahun bahwa UU no.3 tahun 2005 itu Undang-undang yang berlaku di Indonesia, termasuk Lampung.

    Kedua, jangan sampai pak Gubernur memberikan contoh kepada rakyatnya bahwa dengan sebuah alasan pembenaran saja, maka beliau dengan mudah melanggar UU. Kalau pimpinan kita saja menyepelekan UU negeri ini, bagaimana rakyat kita akan mematuhi Perda dan peraturan-peraturan lainnya.

    Ketiga, jangan sampai pak Gubernur hanya terbius bisikan yang ada disampingnya saja yang sepintas menyanjungnya, padahal ujungnya nanti akan memberikan setumpuk masalah baru bagi pak Gubernur sendiri.

    Keempat, agar pak Gubernur lebih waspada terhadap situasi-situasi politisnya dan efek dominonya.

    Risiko Ada Pada Gubernur

    Sebenarnya saya sudah menduga sejak awal, ada sesuatu yang mengganjal dari pihak Gubernur pada KONI Lampung, ya mungkin dengan para pengurus KONI Lampung. Padahal, semenitpun belum pernah ada pertemuan antara Gubernur Lampung dengan pengurus KONI Lampung.

    Bahkan semua permintaan audiensi kepada Gubernur yang diajukan KONI Lampung, mentah dan nihil. Beruntung masih dilimpahkan kepada Wakil Gubernur yang bersedia menerima para pengurus KONI Lampung.

    Saya melihat ada yang sengaja menyumbatnya. Kalau kita semua mau jujur, ini preseden buruk bagi KONI Lampung. Seorang Gubernur muda dan dikenal sebagai olahragawan dan atlet nasional, sampai sebegitu tidak antusiasnya kepada KONI Lampung sebagai induk organisasi olahraga provinsi yang tidak lain adalah bawahan gubernur secara non formal.

    Jika tidak ada penyumbatan, tentunya Gubernur dengan mudah bisa memanggil para pengurus KONI Lampung kan? Bisa menanyakan langsung apa yang sudah didengar dari luar tentang KONI Lampung, ini akan jauh lebih smooth.

    Jika Selasa ini, Gubernur Lampung benar-benar didorong atau apapun kalimatnya, dalam Musyawarah Olahraga Provinsi Lampung menyatakan bersedia dicalonkan dan menerima jabatan sebagai ketua umum KONI Lampung, maka risiko terbesar ada pada pak Gubernur, bukan pada KONI Lampung, atau orang-orang yang mendorongnya ke sana.

    Saya yakin, para pendorong ini dengan penuh keyakinannya pula melakukan survey beberapa daerah lain KONI dipimpin kepala daerah, seperti Maluku Utara dan lain-lain, juga tidak ada sanksi.

    Mereka ini lupa, bahwa di setiap daerah itu situasinya berbeda-beda. Kemampuan keuangannya berbeda-beda dan kemampuan sumber daya manusianya juga berbeda.

    Yang juga tidak difikirkan, adalah risiko yang kelak akan dihadapi Gubernur yang mereka dorong itu, baik secara politik maupun hukum.

    Nah, kenapa mesti menempuh risiko sebesar itu? Apakah pak Gubernur tidak punya kolega yang mumpuni dalam bidang olahraga yang disiapkan untuk menggenggam KONI Lampung, misalnya. Sehingga akan dipegang sendiri dengan risiko yang akan ditanggung sendiri.

    Kalau saya boleh berpendapat, akan lebih baik pak Gubernur menolak untuk memimpin KONI Lampung secara langsung, meskipun beliau sangat mendukung KONI. Maka ditempatkan saja orang yang dipercaya untuk memegang KONI Lampung ini.

    Ingat ya, orang yang dipercaya, bukan orang kepercayaannya. Artinya orang yang dipercaya oleh Gubernur sebagai orang yang mampu mengendalikan KONI dengan baik dan benar dibawah dukungan dan pengawasan langsung Gubernur. Kemudian menempatkan orang-orang kepercayaannya pada posisi strategis dengan maksud mengendalikan organisasi demi kebaikan.

    Sekali lagi, risiko ada pada pak Gubernur, bukan pada KONI Lampung. Sebab siapapun pemimpinnya, KONI Lampung adalah tetap KONI Lampung.

    Saya menggaris bawahi apa yang disampaikan oleh bang Sutan Syahrir yang dirilis di beberapa media beberapa hari ini, bahwa Sutan Syahrir bukan tidak setuju kalau Gubernur memimpin KONI Lampung, tetapi Undang-Undang membatasinya.

    Maka karena sayang kepada Gubernur, bang Sutan mengatakan apa yang harus dia katakana. Kadang-kadang untuk mengatakan sebuah kebenaran itu terasa menyakitkan, tetapi itulah adanya.

    Disebuah obrolan dengan bang Sutan saat silaturahmi Idul Fitri, saya menangkap ada keinginan bang Sutan mengingatkan kepada pak Gubernur agar tidak terseret arus. “Saya ini kepingin, pak Ridho itu tidak terjerumus saja. Saya tahu, ada beberapa pembenaran yang mencoba dikemukakan didepan Gubernur soal jabatan di KONI. Sayang, kenapa harus kita korbankan pak Gubernur kita. Biarkan beliau bekerja memikirkan Lampung yang luas ini dengan masalahnya yang kompleks.” Katanya waktu itu.

    Lagi-lagi bang Sutan mengaku serba salah untuk berkomentar itu, karena jika ada yang salah persepsi, maka akan menuduhnya berambisi menjadi ketua KONI. “Waduh, seujung rambut pun saya tidak ada niat untuk pengin jadi ketua KONI. Saya hanya ingin mengingatkan sebuah kebenaran saja. Dan saya juga sudah bilang sama Acad soal ini. Dia juga tidak mau lagi maju sebagai Ketua KONI kok,” tangkisnya.

    Maka saya lega waktu itu mendengarnya. Dan kini tinggal meyakinkan pak Gubernur bahwa beliaulah kartu truf nya. Artinya, jika bola salju itu terus menggelinding ke arah pak Gubernur untuk menjadi ketua KONI Lampung, bisa-bisa akan terjadi aklamasi dalam Musorprov ini. Celaka!

    Di luar sana sudah ada penyusun strategi ini, mungkin. Tetapi mudah-mudahan ada keajaiban, bahwa pak Gubernur menolak untuk menjadi ketua KONI Lampung dan mengajukan calon yang beliau tunjuk saja. Maka ini akan luar biasa dampaknya.

    Kalau ini terjadi, maka pak Gubernur terselamatkan dan risiko, dan KONI Lampung tetap dipimpin oleh orang yang dikehendaki pak Gubernur. Ini baru mantab. Win-win solution.

    Pertanyaannya, siapa yang kemungkinan akan dipercaya Gubernur? Anak muda kah? Atau tokoh lain kah? Ini juga masih perlu dikaji.

    Lagi-lagi kalau saya boleh berpendapat, kalau pak Gubernur bijaksana dalam melihat situasi, maka akan memilih Eddy Sutrisno. Ini figur yang mungkin sudah dikenal dekat oleh Gubernur, dan sangat memungkinkan untuk menjalin kerjasama yang baik dengan Gubernur.

    Ini bukan tanpa alasan. Karena Gubernur tampaknya cukup menaruh simpati kepada sosok Eddy Sutrisno, meskipun dengan yang lain juga demikian, tetapi ada lebih terhadap Eddy Sutrisno.

    Jika Gubernur memunculkan nama inipun, saya rasa seluruh Cabang Olahraga tidak akan menolak. Karena merekapun sangat faham siapa sosok Eddy Sutrisno di dunia olahraga. Jika ada tokoh lain, saya malah belum terfikir siapa yang akan dirangkul Gubernur.

    Banyak Even Mendesak

    Musorprov kali ini memang pada sebuah waktu yang tidak ideal. Karena banyak even mendesak yang harus dilakukan oleh seluruh cabang olahraga, mulai dari Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) bulan Oktober / Nopember, dan berbagai Kejurnas dan Pra PON di akhir 2015 dan sepanjang tahun 2016 awal.

    Maka ini juga yang harus difikirkan oleh para calon pengurus baru bentukan ketua terpilih kali ini. Karena tidak bisa berlama-lama, setelah formatur dibentuk harus segera memilih pengurus dan kembali bekerja keras.

    Ini juga sebuah pertaruhan bagi pengurus baru, karena dalam waktu sempit harus mengurus 39 cabor yang melakukan kualifikasi, mengurus berbagai persiapan Pekan Olahraga Nasional dan membentuk kontingen yang kuat.

    Inilah, kenapa saya ingin mengingatkan kita semua masyarakat olahraga Lampung, mencoba bertindak secara realistis dalam setiap langkah, jangan sampai merugikan orang lain bahkan diri sendiri.

    Kesimpulannya adalah, karena saya sayang sama pak Gubernur, maka saya utarakan hal ini. Ya biar saja beliau tidak peduli apa yang saya bicarakan. Minimal sebagai yang se agama, saya mengingatkan bahwa yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Titik.

    Selamat Bermusorprov. Mari selamatkan Olahraga Lampung dengan menyelamatkan kita semua dari segala risiko sekecil apapun. Bravo…(*)