X

*** TERIMA KASIH ANDA TELAH SAKSIKAN DETIKLAMPUNG STREAMING TV SETIAP HARI ***      *** Video on Demand kami siapkan atas saran & permintaan masyarakat pembaca setia detiklampung.com *      

Opini : PSSI Nasibmu Kini

  • PSSI, Mattalitti, Nahrawi, Mati...

    Opini: DON PECCI

    Redaktur detiklampung.com

    PERSATUAN Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) kembali kisruh. Setelah berhasil menyatukan diri kembali dari perpecahan sebelumnya terjadi, kini badan tertinggi sepakbola Indonesia itu justru kembali bermasalah dan kali ini berhadapan dengan Menteri Pemuda dan Olahraga Indonesia.

    Tetapi konflik kali ini benar-benar sangat kentara adanya persaingan antara dua sosok yang disembunyikan dalam sebuah kekuasaan masing-masing, yakni Imam Nahrawi dan La Nyalla Mataliti.

    Kedua tokoh asal Jawa Timur itu ditengarai sudah ada perang dingin sejak lama, bahkan sejak pemilihan Gubernur Jawa Timur saat Kofifah Indar Parawangsa bersaing dengan pakde Karwo.

    Beberapa suara yang berceloteh di pinggir lapangan, mengatakan bahwa sebenarnya perseteruan ini seyogyanya tidak mengorbankan publik yang lebih besar apalagi dalam cabang sepakbola yang menjadi satu-satunya cabang olahraga di Indonesia yang punya massa terbesar.

    Jika mengikuti jalannya konflik dari awal memang akan jauh lebih jelas, bahwa ini peran pemerintah Indonesia sangat besar untuk mengebiri PSSI. Apalagi kalau bukan soal politik. Lalu ada tengarai lain ketika Jokowi memang sengaja membiarkan Menterinya bekerja dengan arogansinya sendiri, karena berdampak baik buat pemerintah Jokowi, yakni menyikat peran besar Aburizal Bakrie dalam kancah politik, yang disinyalir juga berpengaruh besar dalam bidang olahraga. Waduh.

    Kalau pemimpin pemimpin negeri ini selalu begini, ya kapan negeri ini akan makmur. Sepakbola saja sudah bisa dijadikan alasan untuk balas dendam. Ini hebat.

    Ternyata pengkhianatan Nahrawi terhadap sepakbola Indonesia seperti mendapat restu dari Presidennya. Kenapa disebut sebagai pengkhianatan?

    Sebab, Nahrawi adalah satu-satunya orang yang bertanggungjawab atas pembekuan PSSI dengan berbagai alasannya sendiri tanpa memikirkan dampak yang luas dari perbuatannya itu.

    Seharusnya Nahrawi mau belajar banyak soal sepakbola Indonesia, yang saat ini sedang memulai berjuang menunjukkan kepada dunia bahwa sepakbola Indonesia akan menjadi industri yang bisa menggerakkan berbagai sektor perekonomian masyarakat Indonesia.

    Kenapa Nahrawi harus menghentikan Liga Indonesia, kemudian membukanya lagi dan ingin melanjutkan dengan ketentuan semua dibawah pengawasannya?

    Orang-orang sepakbola Indonesia bukanlah anak-anak kecil yang baru kenal sepakbola. Tetapi tokoh-tokoh yang dengan berdarah-darah menghidupkan iklim sepakbola Indonesia ini dengan kekuatan masing-masing. Jadi mereka tentu tahu aturan main yang baku, statuta PSSI. Jadi tidak semudah membalikkan telapak tangan.

    Nahrawi harus mau berbicara banyak dengan semua pihak, tidak dengan satu pihaknya saja, agar semua masukan bisa diserap dan akan memberikan keputusan yang dibuat akan baik bagi semua. Ini kalau benar-benar dia seorang pejabat Negara yang arif.

    Nahrawi dan La Nyalla harus melupakan masalah pribadi mereka dan diselesaikan sendiri tanpa embel-embel Menteri dan PSSI. Dua jabatan itu milik rakyat, bukan milik pribadi.

    Oleh karenanya, kita semua harus berfikir yang jernih dalam pengambilan keputusan. Apalagi pejabat publik yang menjadi perhatian rakyat banyak. Jabatan hanya sementara disandang harus dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakatnya.

    Yach, teruslah berulah, teruslah berkilah, teruslah …..teruslah…

    Kalau memang mau, ya coba islah saja. Katanya dasar Negara ini berdasarkan Pancasila. Mana? Pejabat saja tidak ngerti Pancasila yang berasas Musyawarah Untuk Mufakat itu tidak pernah dikedepankan.

    Akhirnya, PSSI yang menjadi Obyek, Mattalitti yang menjadi Subyek, Nahrawi yang berpedikat, lalu… mati lah sepakbola Indonesia. (O)