X

*** TERIMA KASIH ANDA TELAH SAKSIKAN DETIKLAMPUNG STREAMING TV SETIAP HARI ***      *** Video on Demand kami siapkan atas saran & permintaan masyarakat pembaca setia detiklampung.com *      MOHON MAAF SELAMA SEPEKAN, KAMI TIDAK DAPAT DIAKSES KARENA SEDANG ADA PERBAIKAN. NAMUN SAAT INI SUDA      

Janda Renta Bertahan Hidup Dengan Mencari Genjer

  • KOTABUMI --- Orang Pinggiran? Mungkin begitulah nenek ini digolongkan. Karena kemiskinannya dan ketidak berdayaannya, maka ia harus berjuang mati-matian hingga usianya sudah senja.

    Mengais bak tak kenal lelah, berpacu dengan nafas yang sudah mulai sengal, nenek Tuminem yang kini berusia 86 tahun ini masih terus berburu daun Genjer di sekitar kediamannya.

    Nenek Tuminem tinggal di Desa Pulau Panggung, kecamatan Abung Tinggi, Kabupaten Lampung Utara. Untuk bertahan hidup dia  bertahan sebagai pencari daun Genjer dengan pendapatan Rp.15 ribu per minggu.

    Tuminem yang akrab dipanggil Mak Jatis itu hidup sebatang kara, untuk mendapatkan daun Genjer mak Jatis harus turun ke sawah dan kolam-kolam milik warga atau bahkan ke sungai dengan berbagai resiko.

    Tak jarang binatang berbahaya seperti ular dan lintah kerap kali ditemuinya. “Ya yang gituan mah sering. Tapi emak gak takut, demi hidup...” katanya lirih.

    Meski tak banyak daun Genjer yang mak Jatis peroleh karena keterbatasan tenaga, dengan dibantu tongkat kayu, helai demi helai batang Genjer ia petik dengan harapan laku dijual agar dapat membeli beras. Meski niat hati ingin memetik Genjer lebih banyak, namun tenaganya sudah tidak mampu lagi.

    Sementara warga sekitar yang iba melihat kondisi mak Jatis hanya dapat membantu menujukkan dimana lokasi rumpunan Genjer berada.

    Mak Jatis mengaku dalam sehari dirinya hanya mampu mendapatkan 15 sampai 20 ikat daun genjer, kemudian dijualnya dengan harga Rp500 hingga Rp.1000 per ikat.

    “Sehari paling banyak emak cuman dapet 20 iket, lumayan untuk beli beras,” Ujar mak Jatis dengan suara parau karena termakan usia.

    Pekerjaan ini pun tidak bisa dilakukannya setiap hari, sebab setiap kali mencari Genjer mak Jatis mengalami sakit pada tulang akibat terlalu lama berada di air. ”Emak sudah gak kuat lagi kalau mau tiap hari turun ke sawah cari Genjer. Setiap berendam di air pasti kaki emak sakit,” keluhnya.

    Bagi mak Jatis hidup dalam kemiskinan dan keterbatasan bukanlah hal yang harus diratapi, dia hanya berupaya agar disisa hidupnya tidak bergantung dan menyusahkan orang lain.

    Kondisi mak Jatis semakin diperparah dengan tidak mendapatkan bantuan BLSM atau bantuan yang lain dari Pemerintah padahal dirinya sangat mengharapkan hal itu.

    Kehidupan Mak Jatis merupakan salah satu potret kemiskinan yang masih banyak dirasakan masyarakat di Republik ini. Hal ini merupakan fenomena sosial yang tidak bisa dihindari keberadaannya dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

    Jika seniman senior  Indonesia, Ratna Sarumpaet meradang saat membahas soal negara ini yang seperti tidak punya pimpinan, tidak memiliki Presiden, maka Mak Jatis membuat kita miris dengan keadaan sesungguhnya.

    Kini kita harus menggugat, siapa RT ditempat mak Jatis berada? Tahukah dia kondisi ini? Lalu apakah dia masih bisa berkelit bahwa Mak Jatis tidak layak menerima BLSM? Lalu bagaimana dengan lurah, camat dan bupati?

    Semoga para pemimpin bangsa ini mampu menanggulangi masalah kemiskinan yang semakin menghantui masyarakat di bumi pertiwi. (Jan)