X

*** TERIMA KASIH ANDA TELAH SAKSIKAN DETIKLAMPUNG STREAMING TV SETIAP HARI ***      *** Video on Demand kami siapkan atas saran & permintaan masyarakat pembaca setia detiklampung.com *      MOHON MAAF SELAMA SEPEKAN, KAMI TIDAK DAPAT DIAKSES KARENA SEDANG ADA PERBAIKAN. NAMUN SAAT INI SUDA      

Anna Morinda, Politisi Wanita Energik

  • Kemerdekaan Adalah Jembatan Emas Untuk Bangkit

    DL/KOTAMETRO/2014

    Srikandi yang berparas ayu, lembut serta murah senyum ini merupakan salah seorang yang ikut mewarnai kursi parlemen sebanyak dua kali berturut-turut 2009-2014 dan 2014-2019,  di dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) Metro.

    Politikus dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini mengingatkan kita pada sosok wanita yang telah mengakat derajat wanita sejajar dengan kaum laki-laki dan mampu melepaskan diri dari belenggu tradisi yang mengharuskan wanita itu di dapur, di sumur dan di kasur (D3) dia adalah RA. Kartini, pejuang emansipasi wanita.

    Dan wanita yang duduk sebagai wakil rakyat ini adalah, Anna Morinda S.E.MM, dari sekian banyak Politikus Anna mampu menempatkan diri pada posisi strategis yaitu wakil ketua DPRD Metro. Tidak menutup kemungkinan pada priode 2014-2019, Anna akan menduduki posisi sebagai ketua DPRD.

    Anna Morinda, yang terlahir pada 5 oktober 1978 di Kota Metro,  merupakan anak pasangan dari  suami istri, Muhktar Sayjaya dan Munawarah Ais. Merupakan anak bungsu dari sepuluh bersaudara. Dan mengakhiri masa lajangnya pada 2005 silam, dengan pria pujaan hatinya  Suprianto,ST.

    Dari perkawinannya tersebut Anna dikaruniai dua orang putra yaitu, Ahmad Gilang Arifiant Garib dan Bintang Adhi Prakasa Garib.

    Riwayat pendidikan, lulus sekolah dasar negeri  (SDN) 5 Metro 1990, SMPN 3 Metro 1993, SMEAN 1 Metro (sekarang SMKN red) 1996 dan pendidikan Sarjana diselesaikan pada 2002.

    Sebagai seorang ibu, sudah pasti sosok Anna selalu dinanti dan diharapkan perhatian dan kasih sayangnya. Kesibukannya sebagai wakil rakyat harus pandai-pandai menyiasaati waktu, dimana harus ada untuk keluarga dan harus siap membela kepentingan rakyat.

    Walau disibukkan dengan seabrek persoalan di kantor, Anna sangat memperhatikan keluarganya, terutama yang menyangkut pendidikan, baik itu pendidikan formal maupun non formal. Terlebih, terkait masalah pendidikan agama, ini sangat diutamakan sebagai pondasi terciptanya ahklak yang mulia.

    Anak-anak tidak hanya harus berintelgensi  namun harus juga berkarakter baik, harus berani jujur serta menghormati orang-orang yang berbeda status sosialnya.

    Menurut Anna, Bangsa yang Besar tidak hanya  memiliki anak-anak yang berintelgensi luar bisa tapi harus juga miliki anak-anak yang emotional contion dan spriritual contion.

    Politik Adalah Pilihan

     

    “ Pendidikan sangat penting, karena itu modal bagi anak-anak untuk meraih masadepan, seorang ibu akan merasa menang bila anak-anaknya sudah melampaui dirinya,” terangnya.

    Sebelum terjun ke dunia politik, Anna sudah bergabung dengan organisasi kemahasiswaan di kampusnya. Selain itu, Anna juga pernah bekerja pada sebuah perusahaan dan perbankan. Karena ketatnya aturan di tempatnya bekerja, Anna belum bisa menyalurkan aspirasinya melalui Dunia Politik.

    “ Setelah saya menikah, pada 2005 atau 2006 baru saya bergabung dengan teman-teman di partai yaitu PDIP,” ungkapnya.

    Bergabungnya Anna pada salah satu parpol, menurutnya, tekad yang kuat untuk dapat menyumbangkan tenaga dan fikiranya terhadap bangsa dan negara. Pasalnya, saat itu Ia menilai banyaknya ketimpangan serta ketidakadilan yang membuat rakyat sangat dirugikan.

    “ Kalau kita ada di ring luar, maka kita hanya bisa melihat, mendengar dan mencela. Tapi setelah kita masuk kita bisa merasakan, berbuat dan menyarankan, terlepas itu semua di dunia politik kita tidak bisa sendirian,”jelasnya.

    Pandanganya terhadap dunia politik saat ini, semua partai politik menginginkan suatu perubahan yang nyata untuk kemajuan, kemakmuran, keadilan, kesejahteraan bagi bangsa Indonesia.

    Walau tidak dapat dipungkiri masih banyak oknum-oknum yang berbuat culas dan hanya mementingkan dirinya sendiri.

    Bung Karno dan Bung Hatta, memproklamirkan kemerdekaan Indonesia saat itu, bukan berarti kita telah siap. Namun, kemerdekaan itu merupakan sebuah jembatan emas bagi rakyat indonesia untuk bangkit dan membangun negeri, sehingga cita-cita dan harapan untuk maju dan sejahtera dapat terwujud seperti yang tertuang dalam Pancasila. (Indarjo Gunawan)