Berharap Dapat Mengharumkan Nama Lampung di Masa Depan

17 Agustus 2014

Dyah Raysa Laksitoresmi

DL/Profil Pemuda Lampung

Mengayunkan langkah belajar ke luar daerah, bagi seorang gadis bukanlah ringan. Selain jauh dari keluarga, biasanya pertimbangan home sick jauh lebih menggelayut.

Namun bagi Dyah Raysa Laksitoresmi, pemudian jangkung kelahiran 3 April 1990 ini, melanglang buana adalah obsesinya. “Mumpung masih muda, maka kita harus mencari pengalaman disegala bidang sebanyak-banyaknya, semampu kita dan maksimal,” katanya.

Dalam usahanya membangun dasar dari cita-citanya, Dee atau Dyah panggilan akrab anak sulung keluarga Edi Purwanto dan Menuk ini, mengaku sangat berat dan tidak selalu mulus dalam mewujudkan perencanaannya.

Namun bermodal prestasi akademis yang cukup mentereng ditambah prestasi di ekstrakurikuler yang juga mengkilap, Dee menapak tegar di daerah Bogor Jawa Barat, usai ia lulus dari SMAN 3 tahun 2008. “Aku memilih IPB (Institut Pertanian Bogor) karena pengin tantangan. Tadinya aku sempat membidik jurusan sastra Inggris dan Jepang, tapi orang tua tidak mengijinkan, karena menurutnya belajar bahasa akan lebih efektif jika melalui kursus yang praktis. Okey lah, akhirnya aku memilih IPB sebagai pelabuhan dan pilihan, bukan pelarian.” Kenangnya.

Dee dikenal aktif dan unggul semenjak menjadi siswi Sekolah Menengah Pertama dengan mengikuti berbagai kegiatan kesiswaan diantaranya Pramuka dan OSIS serta terlibat aktif menjadi delegasi sekolah dalam beberapa lomba. Selain mendapatkan nilai yang baik di sekolah, kegemarannya membaca juga memotivasinya untuk bisa menulis dengan baik.

Semangat

Di SMA, Dee sering mendapatkan juara dalam bidang kepenulisan terutama untuk kategori cerpen. Beberapa prestasi menulisnya diantaranya adalah dengan menyabet Juara I untuk lomba Menulis Cerpen pada Islamic Book Fair Lampung pada tahun 2006,  Juara 3 Menulis Cerpen Kantor Bahasa Provinsi Lampung tahun 2007, Juara 1 Menulis Cerpen yang diadakan SMA Rintisan UNESCO yang mengantarkan naskahnya di filmkan saat itu, serta pernah terlibat dalam proyek FLP (Forum Lingkar Pena) Lampung sebagai naskah terpilih yang dibuat dalam sandiwara radio pada tahun 2007.

Saat kuliah di IPB, semangatnya untuk terus berprestasi tidak meredup. Sempat minder dengan lingkungan yang sangat heterogen dan tentunya banyak sekali saingan dari seluruh penjuru Indonesia, Dyah semakin terpacu untuk melejitkan potensi diri.

Haus akan ilmu dan open mind adalah beberapa senjatanya untuk beradaptasi dan mendapatkan banyak pelajaran dari sekitar. “ Sekolah atau kuliah bukan hanya untuk mendapatkan nilai, tapi juga ilmu. Ilmu itu luas, tidak hanya didapatkan di kelas, maka kita harus lebih banyak bersosialisasi dan membuka diri pada lingkungan untuk mendapatkan dan memberikan manfaat. Disitulah makna prestasi sesungguhnya, saat di sekitar kita merasa eksistensi kita dapat memberikan sebanyak-banyaknya manfaat.” Ujar Dyah bersemangat.

Dyah mengakui bahwa kuliah bukanlah hal yang selalu menyenangkan, apalagi mengenyam studi di salah satu universitas terbaik di Indonesia bukanlah hal yang mudah. Untuk mendapatkan nilai B saja harus memeras otak, “Bahkan ada sebagian mahasiswa yang sudah sangat bersyukur memperoleh nilai C,” kilah Dyah sambil tertawa.

Kesibukan akademis yang hampir tak berhenti, menjadi pemompa semangat untuk menjaga prestasi. Karena bagi Dyah prestasi bukan saja nilai IPK di transkrip, tapi juga sesuatu yang bisa berarti bagi orang banyak.

“ Mendapatkan nilai bagus dengan juga menjalankan organisasi kampus tentunya tidaklah mudah, itulah yang nanti akan jadi pembeda. Saya cukup yakin, mereka yang berniat baik bermanfaat bagi sesama dan juga sungguh-sungguh kuliah akan mendapatkan nilai lebih dibandingkan hanya ke kampus untuk kuliah saja. Insya Allah ada bedanya. ” Tegas gadis berhijab ini.

Obsesi

Semasa kuliah S1 disamping menjadi mahasiswa dengan segudang tugasnya, Dyah aktif mengikuti beberapa organisasi mahasiswa diantaranya DPM TPB, BEM FPIK, Himpro, dan LDF FKMC.

Beberapa pembuktian prestasi yang pernah diraih semasa kuliah S1 diantaranya ialah Dyah menjadi mahasiswa berprestasi 1 di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dan menjadi mahasiswa berprestasi ke-4 Institut Pertanian Bogor pada tahun 2011.

Selain itu, Dyah juga menjadi Best Presenter dengan menjuarai Internasional Student Paper Competition RENEWS yang diadakan di Berlin-Jerman pada tahun 2010 dan beberapa kunjungan keluar negeri seperti Malaysia dan China sebagai delegasi kampus, serta segudang prestasi lainnya yang tidak bisa disebutkan satu-satu.  

“Salah satu obsesiku untuk keliling dunia, paling tidak sedikit tergapai. Keliling beberapa negara bukan untuk jalan-jalan, melainkan berhubungan dengan tugas belajar dan pendidikan ini sebuah hal yang mengesankan dalam hidupku,” katanya dengan mata berbinar.

Dengan segala capaiannya saat ini, Dyah sering dipercaya mengisi berbagai kegiatan di kampus maupun luar kampus sebagai pembicara maupun diundang sebagai moderator. Hal inilah yang membuatnya terus semangat berkarya, yakni bisa membagikan pengalaman dan yang dia miliki pada khalayak.

Selain menuntaskan studinya saat ini, Dyah juga menjalankan usaha onlinenya di bidang fashion muslimah yakni Verda Hijab dan juga distro Islami bersama teman-teman seperjuangan di kampus IPB bernama Yes! Iam Muslim (www.yesiammuslim.com).

Dyah berharap, sedikit usahanya saat ini baik prestasi akademis maupun non akademis akan memberikan manfaat bagi Lampung suatu saat nanti. “ Bagaimanapun saya dilahirkan di Lampung, tumbuh besar di sana, dan jika Allah izinkan saya akan kembali ke sana suatu saat nanti dengan sumbangsih yang bisa saya berikan, apapun itu.” Ujar gadis manis ini.

Gadis kelahiran Bandar Lampung, 3 April 1990 ini kini mengenyam pendidikan Pasca Sarjana (S2) Jurusan Gizi Masyarakat di Institut Pertanian Bogor dengan Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri (BPPDN) Calon Dosen.

Di perkuliahan Pasca Sarjana saat ini Dyah mengikuti Organisasi Forum Wacana IPB sebagai sekretaris departemen Humas. Dyah selalu ingin membuktikan bahwa menjadi aktivis bukan berarti IP tipis, karena menurutnya saat seseorang belum selesai dengan dirinya sendiri, maka akan sulit mengurusi orang lain, seperti berorganisasi misalnya. Oleh karena itu, Dyah ingin apa yang dijalankannya dapat berjalan dengan baik, meski tidak sempurna.

Selalu ada inspirasi jika kita mau menggali setiap yang kita jumpai, begitu penyemangatnya. Dyah punya obsesi dan terus berproses dengan obsesinya, hingga merasa kerasan bertahun-tahun berada di Bogor. “Kalau inget pertama aku datang ke IPB ini jadi geli. Waktu diantar ke asrama lalu ditinggal pulang papa sama mama, aku sempet nangis. Tapi kini aku bangga. Di sini aku melihat jendela dunia itu nyata. Sebagian mimpiku jadi kenyataan. Terima kasih ya Allah yang telah mengabulkan doa-doaku, doa-doa papa dan mamaku sehingga aku sampai pada situasi yang sekarang ini,” ungkap Dyah dengan mata berkaca-kaca. Haru bercampur bahagia.

So what? Sukses ya Dee, kamu jadi inspirasi bagi orang lain untuk sukses ini. (rd-25/Bogor)