X

*** TERIMA KASIH ANDA TELAH SAKSIKAN DETIKLAMPUNG STREAMING TV SETIAP HARI ***      *** Video on Demand kami siapkan atas saran & permintaan masyarakat pembaca setia detiklampung.com *      MOHON MAAF SELAMA SEPEKAN, KAMI TIDAK DAPAT DIAKSES KARENA SEDANG ADA PERBAIKAN. NAMUN SAAT INI SUDA      

Sedikit Bicara Banyak Bekerja

  • Maryono, seolah-olah menjadi jaminan satu medali di PON. Itu memberikan kepercayaan tersendiri bagi pria yang murah senyum itu yang sejak masuk ke skuad penembak kontingen Lampung tahun 2003 dalam pra PON langsung berkontribusi medali emas.

    Hal yang luar biasa bagi seorang atlet yang sangat konsisten mampu berprestasi dari PON ke PON yang berjarak waktu 4 tahun. Namun ini bisa dilalui dengan baik oleh Maryono, yang dalam keseharian sibuk berdinas sebagai anggota TNI Angkatan Darat.

    Cabang olahraga Menembak adalah satu kelompok olahraga konsenterasi yang mempunyai tingkat akurasi yang sangat tinggi. “Menembak adalah olahraga yang unik. Karena lawannya adalah diri sendiri,” katanya.

    Maka dari itu, dalam beberapa kali PON, Maryono cukup sulit ditemui wartawan untuk sekedar wawancara soal target dan persiapan latihan, karena memang Maryono memerlukan waktu dan privasi agar selama dalam pertandingan sangat berkonsenterasi.

    Seperti diungkapkan sebelumnya, Maryono seolah-olah menjadi jaminan perolehan satu medali emas dalam pesta olahraga multy event seperti Pekan Olahraga Nasional (PON).

    Inilah maka seorang penembak biasa memakai prinsip sedikit bicara banyak bekerja. Karena dalam konsterasi menembak tidak diperlukan kata-kata. Memang dalam olahraga menembak juga tidak diperkenankan penonton mengeluarkan suara berisik atau gaduh, karena bisa mengganggu atlet yang sedang bertanding.

    Maryono yang mengandalkan nomor favoritnya Air Pistol, menjadi momok tersendiri bagi lawan-lawan yang turun nomor yang sama baik jarak 25 meter maupun 50 meter. Dan pria pendiam ini selalu memperoleh nilai tertinggi selama 3 PON yang diikutinya.

    Seperti di PON XVIII Riau tahun 2012, ia mempersembahkan 1 medali emas dan 1 medali perak di nomor andalan itu. Meskipun diakui kini beberapa daerah sudah mulai mengirimkan penembak-penembak muda yang potensial.

    Usia Maryono yang sudah mulai mendekati kepala 4, seharus memang sudah dilapis dengan juniornya, meskipun diakui untuk melakukan regenerasi atlet menembak bukanlah hal yang mudah, karena selain faktor biaya, juga faktor olahraga yang sangat eksklusif.

    Bahkan pengurus KONI Lampung pun mengakui tidak seperti cabang olahraga lain dalam hal peremajaan atlet. Cabang menembak sementara ini tetap mengandalkan Maryono untuk berburu medali di PON, bahkan untuk tahun 2016 di Jawa Barat nanti.

    Maryono tetap yakin masih dapat memberikan yang terbaik bagi kontingen Lampung dan terus berlatih disela-sela kesibukannya menjadi abdi negara di TNI AD. “Latihan tetap dilakukan untuk menjaga konsistensi penampilan dan mengolah ketrampilan terus menerus,” kata Maryono. (*)