Opini : Masyarakatnya Yang Harus Pintar

28 Mei 2014

Saya mulai dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, agar kita semua kembali mengingat, betapa segala sesuatunya di negeri ini menjadi lebih ingat pada kasih sayang, ketimbang terus saling menyerang.

Sebab belakangan ini kondisi negeri ini mulai tidak lagi sehat, secara politik maupun secara moralitas kepemimpinan.

Baru saja, dua kandidat presiden mendaftarkan diri sebagai calon-calon orang nomor satu di Nusantara ini, sudah menebar isu-isu, kampanye hitam dan saling membuka aib kubu lawan.

Politik Indonesia semakin lama semakin menakutkan masyarakat. Karena lebih kepada menjelekkan orang lain yang menjadi jualannya, ketimbang mengemukakan apa yang ada pada diri masing-masing untuk membangun negeri ini.

Mana ada rasa yang saling menyayangi dan saling menghormati? Yang ada saling menjatuhkan, bahkan kadang saling memaki dengan bahasa politik yang cukup norak.

Sepertinya “berantem” antar politikus di sebuah media itu malah menjadi jualan masing-masing, yang seolah-olah eksis ingin membangun negeri ini. Membuka aib lawan politik seolah-olah menjadi pekerjaan rutin untuk mengamankan kedudukan.

Waduh, lalu bagaimana masyarakat ini harus bersikap?  Bagaimana masyarakat harus berjalan? Kalau kondisinya selalu dibuat gonjang ganjing terus, justru oleh elit politik yang mengatasnamakan negeri ini juga.

Dalam sebuah perdebatan, biasanya semua mengatasnamakan untuk kepentingan rakyat dan negeri ini. Lalu negeri yang mana yang dimaksud, dan rakyat yang dimana yang disebut itu?

Di beberapa media nasional, pemirsa selalu disuguhi oleh perbincangan dalam kemasan talkshow atau semacamnya yang bertajuk ingin membangun negeri ini. Namun isinya selalu berbeda pendapat dan tidak ada kesimpulan yang berguna buat negeri ini atau rakyat. Jadi semua perbincangan sama sekali tidak memberikan manfaat lebih bagi negeri ini.

Yang ada hanya memberitahukan, bahwa di sana-sini ada kesalahan. Tetapi tidak pernah semua pihak berusaha untuk membenahinya.

Negeri  Kaya, Tapi Merana

Negeri yang “katanya” makmur dan kaya raya ini, sudah selama 69 tahun merdeka dan sudah ada 6 sosok presiden memimpin negeri ini, nyatanya masih terus begini.

Dalam hampir setiap perbincangan elit politik di beberapa media nasional selalu menyebutkan bahwa rakyat  Nusantara ini sudah pandai dan pintar. Tapi ada yang menyebutkan dengan kalimat lain, bahwa sebenarnya masyarakat Nusantara ini tidak bodoh, tapi dibodohi.

Lalu kita coba balik bertanya, siapa yang membodohi masyarakat? Bukankah pengendali negeri ini adalah para elit itu sendiri?

Negeri Nusantara ini menjadi incaran banyak negara untuk menanamkan modalnya dalam berbagai bidang usaha, bahkan yang sudah puluhan tahun pun tidak bosan terus mengeruk kekayaan bumi pertiwi kita ini.

Freeport, salah satu contohnya. Sudah banyak yang mengulas agar tidak lagi diperpanjang atau dinaikkan sistem pembagian hasilnya, tetapi sampai sekarang ya begitu-begitu saja.

Yang punya Freeport tetap kaya, dan Nusantara ini tetap merana. Masih banyak yang menjadi contoh lainnya.

Saya ingin kembali kepada masyarakat. Kenapa harus jauh lebih pintar? Ya itu tadi, semua jalannya negeri ini sudah ditunggangi kepentingan perorangan yang jauh lebih banyak, terutama pada perahu Dewan Perwakilan Rakyat dan Partai-partai penguasa dan partai besar negeri ini.

Sekarang hampir terbiasa dengan politik menyeberang partai. Kalau tidak bisa naik di partai A maka akan pindah ke partai B dengan harapan mendapatkan kedudukan yang lebih baik.

Rakyat harus mau mengambil sikap yang tegas, jangan justru menjadi alat seseorang untuk mencapai tujuannya pribadi.

Masyarakat yang saya maksud adalah termasuk massa sebuah partai. Karena kadang-kadang untuk keperluan elit politiknya, massa yang sekedar dibayar beberapa perak saja sudah bertindak anarkis dan melakukan perusakan atau apa saja tindakan yang memberikan efek kerugian yang besar bahkan ada yang rugi secara permanen, karena cacat atau meninggal dunia dalam sebuah kerusuhan yang tak bermartabat.

Kalau alasannya lapar, saya rasa tidak separah itu negeri ini. Bisa saja mengkambing hitamkan orang miskin, tetapi kalau benar-benar takut kelaparan, lebih baik cari pekerjaan yang jauh lebih bermartabat, dari pada jadi “prajurit demo” yang diukur dengan satu bungkus nasi untuk hari itu.

Lalu jika besok tidak ada demo, apakah yang akan dimakan, kalau tidak peunya pekerjaan sama sekali.

Saya memulai dengan kalimat dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.  Agar semua kita kembali berfikir, bahwa ada kekuatan yang Maha Pengasih dan Penyayang, jika kita mau mengenalnya dengan baik.

Miskin memang dekat dengan kekhufuran, memang benar. Itu juga karena terus dipelihara oleh keadaan agar mereka terus bisa menjadi miskin, agar bisa digerakkan saat mereka mau.

Harus ada yang berani memulai untuk menjadikan rakyat lebih pintar dan lebih berani. Bukan berani merusak atau berdemo, tetapi berani mengambil langkah nyata, memperoleh pekerjaan dan atau menciptakan pekerjaan dan tidak terus bergantung pada elit politik yang seolah sebagai dewa penolong pada saat-saat tertentu mereka menginginkannya. (Abdul Rohman)