YULIANTI : Mengabdi Tiada Henti untuk Senam Lampung

30 April 2014

Yulianti, bersama para pelatih dan pesenam junior di PON XVIII, Riau 2012.

 

BANDARLAMPUNG/30042014

Api nan tak kunjung padam. Demikian sebuah slogan departemen penerangan RI. Memaknai bahwa sebuah karir dalam olahraga memang sangat terbatas dengan usia, maka sosok Yulianti yang mengabdi seumur hidupnya untuk cabang olahraga Senam sudah makan asam garam dunia senam sangat banyak.

Dijuluki “Ratu Senam” Indonesia pada masa jayanya, tidak lantas membuat Yuli lupa daratan, seperti kebanyakan atlet yang sulit mencapai masa keemasannya karena mudah merasa puas. “Sejak kecil saya latihan, tidak pernah membayangkan situasi seperti sekarang ini. Saya hanya ingin berlatih dan berlatih untuk menguasai apa yang diajarkan oleh instruktur atau pelatih. Banyak masukan yang saya terima, yang menurut saya menjadi modal membesarkan nama dan karir saya di dunia Senam Ritmik Indonesia,” kenang Yuli.

Prestasi yang sulit disamai sesama pesenam di Lampung bahkan Indonesia. Kalau itu, Pekan Olahraga XIV tahun 1996 di Jakarta, Yulianti turun ke arena bersama tiga rekannya, Jumaiyah, Nelly Astuti dan Jumiati. Empat “Srikandi” Lampung ini kontan mendapat perhatian serius di cabang Senam Ritmik Indonesia.

Saat itu Lampung melalui mereka ini mampu mempersembahkan 3 medali emas. Sejak itu, Yulianti sebagai leader dan andalan Lampung kembali merajalela di cabang Senam Ritmik. Wanita bertinggi badan 163 ini menyabet 4 emas di PON XV di Surabaya dan 4 emas PON 2004 di Palembang. Secara pribadi, Yuli mengoleksi 12 medali emas, 3 Perak dan 3 medali Perunggu dalam 3 PON yang diikuti secara berurutan dan SEA Games. Dan inilah hasil yang paling sensasional di dunia senam Lampung kala itu.

Memang akhir dari sebuah perjalanan adalah ketika PON XVI di Palembang usai. Yuli akhirnya tidak lagi berperan aktif di dunia lomba, karena harus segera menyerahkan tugas-tugas selanjutnya kepada para juniornya.

Meskipun demikian Yuli masih berakrab-akrab dengan Simpay, Gada, Bola dan hulahop, tetapi dalam kapasitas sebagai asisten pelatih Persani Lampung. “Saya tahu diri, sebab sejak usia dini sudah bergelut di dunia senam hingga akhirnya Allah memberikan hasil kepada saya yang setimpal. Ini karena semua usaha yang maksimal dan pembinaan yang total dari senior dan pelatih saya. Tentu apapun yang terjadi saya tidak akan melupakan jasa-jasa mereka,” kata Yuli.

Keberuntungannya yang lain adalah dia sudah menjadi PNS di Dinas Pertambangan dan Energi provinsi Lampung, namun masih bersemangat dalam pembinaan senam ini melalui kepelatihan.

Dan kini menjadi pelatih tim senam Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Lampung, yang aktif melatih anak-anak usia dini dan junior di Gedung Sumpah Pemuda Way Halim Bandarlampung.

Sepertinya Yulianti mempunyai tangan dingin dalam karir kepelatihan. Sebelum terjun ke PPLP, pada Pra PON Senam di Jakarta, Yuli menangani sendiri seorang pesenam junior yang harus diturunkan ke pra PON meski saat itu sedang sedikit ada konflik di organisasi senam Lampung. Alhasil, Winda yang ditangani Yuli mampu memberikan prestasi yang lumayan sebagai pendatang baru.

Dan kini di PPLP, Yuli telah memberikan harapan baru senam Lampung, dengan menelorkan bakat-bakat usia muda di dunia senam Indonesia, dengan banyak mencetak prestasi di pesta olahraga pelajar Indonesia, POPNAS,

Seperti tak kenal lelah, Yuli yang juga pernah mencicipi sekolah di Ragunan selama 6 tahun itu kini menjadi sosok yang jauh lebih dewasa dari sebelumnya, dan tahan guncangan dalam mengarungi dunia kepelatihan senam di Lampung. (*)