Valentine Dalam Berbagai Pandangan

13 Februari 2014

 

Oleh ; Ahmad Nasoha, S.Pd.I

(Pengurus Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM) Prov Lampung)

 

14 Februari merupakan sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang jatuh cinta menyatakan cintanya. Hari ini dikenal dengan hari Valentine (bahasa inggris: Valentine’s Day) atau hari kasih sayang. Perayaan ini umum berlaku hampir di seluruh penjuru dunia, baik yang beragama islam ataupun non-Islam. Hanya ada beberapa negara saja yang berani dengan tegas melarang perayaan ini.  Dalam satu versi, asal muasal hari valentine adalah sebuah hari raya katolik Roma yang gelap tidak mungkin dihubungkan dengan cinta yang romantis. Kemudian seiring berjalannya waktu, hari yang semula adalah hari yang gelap ini berubah menjadi hari cinta yang romantis.

Valentine dari berbagai sejarah

Hubungan pertengahan bulan Februari dengan cinta dan kesuburan sudah ada semenjak dahulu kala. Namun semuanya tidak ditemukan dalam literatur sejarah islam. Ini menunjukkan bahwa valentin bukanlah budaya islami. Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode mulai pertengahan Januari hingga pertengan Februari adalah bulan Gamelion yang dipersembahkan untuk pernikahan dewa Zeus dan Hera. Karena diyakini ini adalah hari-hari pernikahan mereka.

Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercalia, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para dewa Lupercus mempersembahkan korban kambing kepada sang dewa dan minum anggur. Setelah minum anggur mereka akan lari-lari di jejalan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit kambing dan menyentuh siapapun yang mereka jumpai. Para wanita, terutama wanita- wanita muda akan maju ke depan dengan sukarela agar tersentuh dengan potongan kulit kambing tersebut. Mereka percaya, bahwa dengan itu mereka akan dikaruniai kesuburan, dan bisa melahirkan dengan mudah.

Satu versi cerita yang paling terkenal dari sejarah valentine adalah matinya martir (dalam islam: Syuhada) yang memperjuangkan cinta. Nama martir ini adalah Santo Valentin, ia hidup di Roma pada masa raja Claudius II (268M-270M). Raja Claudius mempunyai ambisi besar dalam memperkuat kerajaannya. Ia berfikir, kerajaan akan kuat jika seluruh rakyat lelakinya bergabung dalam tentara kerajaan. Ia juga berfikir, jika para lelaki menikah maka akan membuat mereka berat hati meninggalkan keluarganya untuk bergabung dengan tentara kerajaan, sehingga raja Claudius II melarang pernikahan di wilayah kekuasaannya. Rakyat sungguh sangat resah pada masa ini, bagaimana tidak, kebutuhan biologis mereka tidak bisa tersalurkan jika tidak menikah.

Di tengah kondisi kerajaan yang meresahkan masyarakat ini, Santo Valentine maju sebagai pahlawan dengan tetap melangsungkan pernikahan dan memberkati para pemuda pemudi ketika menikah. Memang Santo Valentine adalah seorang uskup yang salah satu tugasnya adalah mendo’akan dan memberkati umatnya ketika menikah. Dengan diam-diam St Valentine melangsungkan pernikahan. Tidak berjalan lama, ternyata gerakan St Valentine ini tercium oleh pihak kerajaan, sehingga ia mendapat teguran dan kecaman dari raja Claudius. Kecaman ini tidak ia hiraukan, ia tetap menikahkan umatnya dengan diam-diam. Hingga pada suatu saat ia tertangkap basah saat sedang memberkati umatnya yang sedang menikah. Raja Claudius marah besar, ia memerintahkan prajurit kerajaan untuk menangkap St Valentine. Beruntung, pada penyergapan itu pemuda pemudi yang ia nikahkan dapat lolos dari sergapan, tetapi St Valentine tertangkap. Ia dijebloskan dalam penjara dan diancam hukuman mati dengan dipancung. Bukannya dihina oleh orang-orang, St Valentine malah dikunjungi banyak orang yang mendukung aksinya itu. Mereka melemparkan bunga dan pesan berisi dukungan di jendela di mana ia ditahan. Salah satu orang yang percaya pada cinta kasih dan mendukung sang uskup adalah putri penjaga penjara sendiri. Sang ayah mengijinkan putrinya untuk mengunjungi St Valentine. Tak jarang ia berbincang lama sekali. Gadis itu menumbuhkan kembali semangat sang pendeta. Ia setuju bahwa sang pendeta telah melakukan hal yang benar. Pada hari saat ia dipenggal kepalanya, yakni tanggal 14 Februari 270M ia menyempatkan diri berkirim surat kepada putri sipir penjara tadi. Ia menuliskan dengan cinta dari Valentinemu. Pesan itu yang mengubah segalanya. Kini setiap tanggal 14 Februari orang dari berbagai belahan dunia merayakan hari itu sebagai hari kasih sayang. Orang-orang yang merayakan hari itu mengingat St Valentine sebagai pejuang cinta, sementara kaisar Claudius dikenang sebagai seseorang yang berusaha mengenyahkan cinta.

Di Amerika Serikat, kartu valentin  pertama yang dicetak secara besar-besaran dicetak setelah tahun 1847 M oleh Esther A. Howland (1828-1904) dari Worcester, Massachussetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan peralatan kantor yang besar. Ia mendapat ide untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. Ini merupakan salah satu modus kapitalisme yang  memanfaatkan keadaan.

Mulai paruh kedua abad XX (1950 M)  tradisi pertukaran kartu mulai meluas di seluruh bagian Amerika Serikat. Pada masa ini juga mulai popular pemberian segala macam hadiah. Biasanya sang pria yang memberikan hadiah kepada wanita. Hadiahnya bisa berupa bunga mawar atau coklat. Di Amerika Serikat, hari raya ini juga sering dilakukan dengan memberi ucapan cinta platonik “Happy Valentine’s”, yang biasa diucapkan oleh seorang pria kepada teman wanita mereka, dan jarang diucapkan kepada teman pria lainnya kecuali kaum dosa homoseksual.

Di jepang, Hari Valentine muncul akibat perdagangan besar-besaran besaran. Pada hari ini, para wanita memberi permen coklat kepada teman pria yang mereka senangi. Namun hal ini tidaklah dilakukan dengan sukarela melainkan menjadi sebuah kewajiban, terutama bagi mereka yang bekerja di kantor-kantor. Cokelat ini disebut Giri-choko,  dari kata giri (kewajiban) dan choco (cokelat). Akibat dari modus kapitalisme lebih lanjut, muncul sebuah hari balasan, disebut “hari Putih” (White Day). Pada hari ini (14 maret), pria yang sudah mendapat cokelat pada hari valentine diharapkan memberi sesuatu kembali kepada para wanita.

 

Hari Valentine menurut kajian islam

Setelah kita mengerti sejarah asal mula munculnya perayaan valentine mari kita melihat perayaan ini melalui kaca mata agama. Hari valentine adalah hari kasih sayang. Jika dilihat dari esensinya maka tidak masalah, karena berkasih sayang sangat dianjurkan dalam agama islam. Dan ketika kita sayang kepada seseorang, islam menganjurkan agar kita mengungkapkan rasa sayang tersebut kepadanya, sebagaimana sabda Nabi SAW berikut:

 عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُعْلِمْهُ ذَلِكَ رواه النسائى

Diceritakan dari Al-miqdam Ibn Ma’di Kariba, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika salah satu kalian mencintai saudaranya, maka beritahukanlah padanya (HR. An-Nasa’i)

Namun dalam hadits ini tidak dibatasi dengan waktu, sehingga mengungkapkan rasa sayang tidak hanya pada tanggal 14 Februari, tetapi kapanpun tanpa ada batasan waktu. Sudah kita ketahui bahwa valentin adalah budaya non-Islam yang berarti budaya orang kafir. Ketika umat islam ikut merayakan valentin berarti ia talah menyerupai orang non-Islam. Sedang dalam fiqih sendiri, hukum menyerupai orang kafir ini ada tiga perincian:

  • Makruh, ketika tidak bermaksud menyerupai orang-orang kafir tetapi sekedar ikut-ikutan saja sebagaimana fatwa Ibnu Hajar dalam Fatawi Al-Haditsiyah halaman 97, saat ditanya tentang mengucapkan “صَبَاحُ الْخَيْر” yang merupakan kebiasaan orang-orang yahudi.
  • Haram, jika bertujuan menyerupai kepada orang-orang kafir, atau tidak mempunyai tujuan apapun namun di kalangan masyarakat telah populer bahwa budaya tersebut menjadi ciri dari orang kafir. Sebagaimana hadits yang diriwayatkandari sayyidina ‘Umar:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barang siapa yang menyerupai suatu kaum,maka ia termasuk dari mereka.

Ini berarti, kalau ada seseorang yang menyerupai non-muslim, maka ia termasuk dari orang non-muslim

  • Kafir, jika rela dengan kekufuran. Karena rela dengan kafir maka kufur, sebagaimana kaidah fiqih:

الِرضَا بِاالشَّيْئِ رِضَا بِمَا يُتَوَلَّدُ مِنْهُ 

Ini jika dilihat dari segi keserupaan dengan orang kafir, dan pelaksanaannya harus dengan orang yang halal, dalam arti istri atau paling tidak dengan calon istri ketika saat khitbah. Namun, realita praktik perayaan valentin di lapangan, lebih dari sembilan delapan persen pelaku adalah kaum muda-mudi yang haram berhubungan. Jika ditinjau dari sini, mestinya tidak ada celah lagi untuk ikut merayakan valentin kecuali dengan orang yang halal untuk kita. Semoga kita diberi kesalamatan, lolos dari jaring-jaring dosa syaithan.

Ya Allah, kami memohon cintaMu, cinta kepada orang-orang yang mencintaiMu, dan cinta terhadap perbuatan yang bisa menuntun kami untuk cinta kepadaMu. Ya Allah, jadikan cinta kami kepadaMu melebihi cinta kami kepada diri kami sendiri, keluarga, dan orang-orang di sekitar kami. Amin….