Mencari yang Baru di Tahun Baru

04 Januari 2014

(Renungan Menyongsong Tahun Baru 2014)
Oleh : Gunawan Handoko *)


”SAMA sekali ndak ada yang baru, semua tetap seperti biasa. Matahari terbit dari Timur di pagi hari dan angslup di ufuk Barat pada sore hari. Yang pasti baru cuman satu, yaitu penanggalan (kalender) tahun 2014”. Itulah ungkapan jujur dan polos dari salah seorang korban bencana banjir yang tengah sibuk membersihkan perabotan rumahnya di kawasan perbatasan kabupaten Purworejo dan Kebumen, Jawa Tengah beberapa hari lalu saat di tanya apa yang diharapkan dengan datangnya tahun baru.

Apa yang dikatakan benar, meski penuh frustasi. Hanya dalam legenda Sang Kuriang dan Roro Jonggrang lah matahari terbit sebelum waktunya, karena berisik mendengar para perempuan yang sedang menumbuk padi, sehingga sang matahari mengira bahwa hari sudah pagi. Boleh jadi ungkapan tersebut mewakili sekian juta masyarakat di negeri ini yang nasibnya kurang beruntung.

Bencana terjadi ’jalin-jemalin’ menimpa berbagai daerah di Indonesia dan memakan korban jiwa yang cukup besar, termasuk wilayah perbatasan kabupaten Purworejo dan kabupaten Kebumen yang selama ini adem ayem, tiba-tiba saja seperti tenggelam dan melumpuhkan transportasi darat jalur lintas Selatan menuju Jogjakarta dan sebaliknya. Untungnya, sebagian besar masyarakat tidak banyak menuntut pihak Pemerintah.

Mereka lebih memilih pasrah dan meyakini bahwa semua ini terjadi karena murkanya Tuhan atau peringatan Illahi kepada umat manusia. Hanya saja yang mereka sesalkan, mengapa pada hampir semua bencana alam atau bencana sosial, yang menjadi korban adalah kaum yang lemah dan miskin. Bukankah pada kenyataan sehari-hari mereka tergolong makhluk yang paling suci, nrimo, tidak pernah korupsi dan perilaku curang lainnya. Teori apapun, termasuk teoritisasi sastra-sosial yang percaya kepada marxisme tidak akan mampu menjelaskan mengapa mereka yang harus secara terus menerus menjadi pelengkap penderita? Meski yang mereka miliki luluh lantak di terjang banjir, namun tetap tegar.

Mereka sangat percaya pada filsafat Cakra Manggilingan, yakni mengibaratkan hidup ini seperti putaran roda, kadang berada dibawah dan kadang diatas. Meski hanya sebagai aliran filsafat, namun terbukti sangat ampuh dan mampu memberi kekuatan batin, membangkitkan semangat dan harapan bahwa pada suatu saat roda akan berputar ke atas. Pada titik inilah apa yang disebut baru sungguh terjadi dalam pengalaman mental yang dimiliki kaum lemah-miskin. Agar harapan baru itu benar-benar terjadi dalam pengalaman mental, kita pun perlu melakukan refleksi.

Seyogyanya kita melakukan sujud syukur ketika memasuki detik-detik pergantian tahun, duduk dalam keheningan untuk melihat dengan jernih seraya mengharap bimbingan Tuhan dalam memasuki pergantian tahun. Semua pihak perlu berpikir ulang, masih pantaskah menggelar pesta pora yang penuh hingar bingar, menggelar panggung-panggung hiburan dan pesta kembang api untuk menambah gegap gempitanya malam tahun baru. Bukankah peristiwa pergantian tahun merupakan fenomena sesaat yang hanya memberikan kenikmatan dalam hitungan menit.

Secara tidak sadar, kita telah menghamburkan sekian banyak uang yang sesungguhnya uang tersebut sangat dibutuhkan oleh saudara-saudara kita yang sedang dirundung duka. Padahal sesungguhnya bukan tahun barunya yang penting, tetapi bagaimana setiap manusia mulai menata ulang sikap mentalnya untuk memasuki tahun baru. Tahun baru berarti memiliki cara pandang yang baru dan suci dalam upaya dan usaha memperoleh sesuatu yang baru.

Tahun baru juga berarti mengasah kompetensi diri dengan metode yang baru untuk meraih jenjang karier yang baru. Hari ini perlu pengakuan secara jujur bahwa kita telah banyak kehilangan jati diri bangsa. Di masa dulu bangsa Indonesia mendapat julukan sebagai ’bangsa timur’ karena perilaku masyarakatnya yang dikenal berbudi pekerti luhur, sabar, ramah dan santun. Itulah sesungguhnya jati diri yang telah terpatri dan dimiliki rakyat Indonesia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bangsa Indonesia saat ini sedang mengalami patologi sosial yang amat kronis.

Sebagian besar masyarakat kita, termasuk para pemimpin dan penguasa di Negeri ini telah tercerabut dari peradaban easterisasi atau ketimuran yang beradab, santun dan beragama. Tidak terlalu aneh memang, karena selama ini masyarakat kita telah menelan mentah-mentah peradaban Barat tanpa seleksi yang matang, termasuk hura-hura di malam pergantian tahun Masehi.

Hal yang paling menonjol adalah berkurangnya rasa hormat dan budi pekerti anak terhadap orang tua, terhadap guru dan figur-figur yang berwenang. Lebih celaka lagi, sikap ini tidak hanya terjadi dalam lingkup keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat, namun sudah merambah ke ranah politik dan pemerintahan. Di level nasional, setiap hari kita disuguhi tontonan dari panggung penguasa dan politik yang penuh dengan tindak korupsi, juga tontonan konflik untuk saling menjatuhkan.

Pelakunya adalah para tokoh politik dan negarawan yang seharusnya memberikan suri tauladan yang baik. Ironis dan menyedihkan. Setelah reformasi bergulir dan berjalan sejak belasan tahun lalu, baru kita memahami bahwa semua yang dilakukan dulu, sekarang ini menimbulkan dampak di kalangan masyarakat. Rasa tidak puas, tidak senang dan akhirnya menimbulkan rasa dendam adalah fenomena yang kita temukan di kalangan masyarakat saat ini. Nilai-nilai luhur sebagai jatidiri bangsa sudah kita abaikan. Bahkan etika dan moral serta budi pekerti luhur menjadi sesuatu yang langka ditemui.

Harus dipahami bahwa reformasi bukanlah revolusi dan bukan pula suatu evolusi biasa, tetapi evolusi yang dipercepat. Yang diakselerasi adalah pelbagai indeks yang dilakukan secara gradual dan sistematis, karena kita melihat ada hal-hal yang di masa lalu itu tidak baik dan tidak benar yang perlu disempurnakan dan harus diperbaiki, khususnya yang berkaitan dengan aktualisasi proses demokrasi.

Maka tidak benar jika reformasi diartikan sebagai penghancuran total secara emosional terhadap hasil-hasil di waktu yang lalu untuk kemudian dibangun suatu sistem baru yang tidak lagi berbau ’masa lalu’. Jika revolusi yang dilakukan, maka diyakini kita akan kembali mundur sekian tahun ke belakang yang akan merugikan kita semua di segala aspek kehidupan. Kita harus menyadari bahwa perubahan tidak bisa dilakukan dengan emosional demi untuk kepentingan sesaat dan balas dendam, tetapi lebih kepada perubahan yang harus dilakukan secara konsepsional melalui suatu tatanan yang berlandaskan kepada rasionalitas sesuai dengan kebutuhan dan juga menatap masa depan bangsa Indonesia.

Dalam bahasa sederhana, membangun jati diri adalah suatu proses penumbuhan dan pengembangan nilai-nilai luhur yang terpancar dari hati nurani melalui mata hati dan direfleksikan dalam pemikiran, sikap dan perilaku. Bisa jadi selama ini kita hanya menggunakan cipta dan karsa serta tangan atau karya saja, tetapi kedepan kita sudah saatnya menampilkan olah rasa dalam membangun jati diri bangsa. Mari kita kembalikan makna luhur dua kata itu menjadi niat untuk menjaga keutuhan bangunan negara yang kita cintai bersama, dalam suasana demokratis, bukan artificial.

Mengelola kebhinnekaan, jangan diartikan sebagai mencabik-cabik dan meruntuhkan bangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kini, saatnya kita mengibarkan kembali semangat dan tekad bersatu demi keutuhan NKRI. Jangan pernah kita biarkan negeri ini terpecah berkeping-keping, hanya karena menonjolnya kepentingan sektoral, kedaerahan, dan juga kepentingan kelompok. Jati diri bangsa tersebut hanya dapat terbentuk melalui contoh perilaku pemimpin-pemimpin bangsa yang tangguh, mempunyai semangat perubahan, global dan transformational serta tetap memiliki semangat kebangsaan yang kuat. Selamat Tahun Baru 2014, Salam Indonesia Raya!!!

*) Gunawan Handoko, Pemerhati Masalah Sosial tinggal di Bandar Lampung.
- LSM PUSKAP (Pusat Pengkajian Etika Politik dan Pemerintahan) Wilayah Lampung ;
- Ketua Harian KMBI (Komunitas Minat Baca Indonesia) Provinsi Lampung ;
- Dewan Penasehat DPD Partai Gerindra Provinsi Lampung
- Caleg DPRD Provinsi, Dapil Lampung III (Kab. Pringsewu, Pesawaran dan Kota Metro.