Lampung Ekspress Plus ke 45 Makin Membumi

05 Oktober 2013

DL/03102013/Bandarlampung

Hari jadi Skh. Lampung Ekspress Plus (LE-plus) yang ke-45, menjadi titik membumikan media pada masyarakatnya. Saat menggelar “pesta” bersama puluhan anak dari pondok pesantren dan panti asuhan, Jumat (02/10), suasana khidmad seolah menjadi pertanda bahwa sosok Harun Muda Indrajaya (Buya) ingin membuat kita semua menengok sejenak ke belakang.

Sosok yang tangguh di media Lampung itu, berada di tengah para tamunya dengan menebar senyum, meski kini kondisinya berada di atas kursi roda dan badannya mulai mengurus.

Buya, yang didampingi ibu Megawani (Umi) yang juga saat ini tampak kurus, keduanya tampak tetap bersemangat melihat anak dan cucunya yang kini akan segera memegang estafet Lampung Ekspress plus grup dalam arti yang sebenarnya.

Buya tidak lagi aktif dalam produksi koran yang dibesarkan dengan keringatnya sejak muda itu. Namun namanya tetap menjadi ikon yang tak akan terlepas dari sepak terjang Lampung Ekspress.

Mengharukan, jika menengok bagaimana perjuangan media ini berdiri. Namun hasil perjuangan dan kegigihan itu masih lestari hingga usianya yang ke-45, adalah sebuah situasi langka yang bisa dicapai sebuah media daerah yang dibesarkan sendiri oleh seorang jurnalis putra daerah.

Jatuh bangunnya membangun usaha dalam industri pers ini, sudah membawa HMI menjadi barometer kegigihan seorang wartawan dalam menegakkan obsesinya.

Kini LE-plus berada dalam kepungan media-media besar, dan beberapa lagi media harian yang bermunculan di sisi kiri dan kanannya. Namun LE-plus tetaplah koran Lampung yang cukup tangguh.

Dinamika yang terus berjalan seiring usaha untuk tetap eksis memang selalu mendapat tantangan. Tapi Buya bukanlah sosok yang mudah menyerah jika terbentur persoalan. Dengan gayanya sendiri persoalan itu harus disingkirkan untuk tetap memberikan jalan LE-plus melaju.

Dengan sebuah kalimat yang selalu dia ungkapkan, buka mata, pasang telinga dan mantapkan hati, untuk menatap jalan ke depan, LE-plus harus tetap berada dipermukaan.

Para junior yang pernah bekerjasama dengan Buya pun banyak yang perlu mencatat dari seorang kakak atau bapak ini. Suatu tempo marah besar dan tidak terbendung, namun suatu tempo memberikan dorongan semangat dengan cara yang lembut. Itulah seorang HMI.

Terlepas ada plus dan minus dari seorang insan ciptaan Allah, sosok HMI tetaplah menjadi panutan. Jika mau mengambil contoh baiknya, dan buang contoh buruknya, maka HMI adalah seorang guru yang baik.

Dengan hari jadi ke-45 itu, HMI seolah punya pesan sederhana. “Lihatlah sekelilingmu, kamu ini siapa? Kita ini siapa? Dan sudah sampai dimana kita sekarang? Lihatlah anak-anak ini, terpikirkah oleh kita bagaimana masa depannya? Jadi kembalilah pada kewajaran yang kalian bisa. “ begitu kesan yang bisa ditangkap dari situasi itu, meskipun tanpa sepatah katapun dari Buya.

Selamat ulang tahun LE-Plus, maju terus gapai sukses sewajarnya, semampu kita,

Sukses sukses sukses...

Don Pecci – yang pernah turut mengayuh “perahu LE-plus” 2001-2004.