X

*** TERIMA KASIH ANDA TELAH SAKSIKAN DETIKLAMPUNG STREAMING TV SETIAP HARI ***      *** Video on Demand kami siapkan atas saran & permintaan masyarakat pembaca setia detiklampung.com *      MOHON MAAF SELAMA SEPEKAN, KAMI TIDAK DAPAT DIAKSES KARENA SEDANG ADA PERBAIKAN. NAMUN SAAT INI SUDA      

Dandim 0411 Lampung Tengah, Letkol. Inf. Maulana Ridwan

  • Pendidikan Anak Sangat Penting

    DL/Kotametro.

    Mengenal lebih dekat sosok prajurit TNI AD, yang saat ini memegang tampuk pimpinan markas komando distrik militer (Kodim) 0411 Lampung Tengah, yakni Letkol Inf. Maulana Ridwan yang telah membawa prestasi Kodim 0411 selama dua tahun (2012 dan 2013) menyandang predikat empat besar nasional untuk pembinaan teritorial (Binter) dari Mabes TNI.

    Pria yang ramah dan kharismatik lahir pada 22 Nopember 1970 di Sukabumi Jawa Barat, dari pasangan Asep Suherman dan Y. Maryani. Menyelesaikan sekolah dasar pada tahun 1983, SMP tahun 1986 dan SLTA tahun 1989.

    Menikah tahun 1997 dengan gadis pujaannya, Dr. Rini Wulandari, yang berprofesi sebagai dokter. Dari perkawinan ini diberikan dua buah hati yaitu, Ajeng Putri Maurin yang masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Adrian Putra Maulana dan masih duduk di Bangku Sekolah Dasar (SD).

    Karir militer Maulana melalui pendidikan Akademi Militer lulus pada 1993, dilanjutkan dengan pendidikan Sarcabif pada 1994, pendidikan dasar Para pada 1994, Tarkorbantem 1996, Tarbalance Iron 1997, Air Borne 1997, Suspa Intel 2000, Suspa Intel Konti 2002, Selapa-IF 2003, Suspa Intel Strat 2005 dan Suspa Litpers pada 2006 dan Seskoad selesai pada 2009.

    Riwayat kepangkatannya dimulai dari Letnan Dua pada 1993, Lettu pada (1996/ Skep), Kapten (1999/skep), Mayor (2004/Skep) dan Letnan Kolonel pada 2010.

    Riwayat penugasan, Maulana pernah ditugaskan dalam Operasi Timor Timur pada 1996 dan Operasi di Aceh pada 1998. Dan tanda jasa yang yang pernah diraih oleh Maulana yaitu, Satya Lencana kesetiaan VIII, Satya Lencana Kesetiaan XVI dan Satya Lencana Seroja Tim-Tim.

    Beberapa jabatan yang diemban dimulai dari Danton Yonif 100/PS pada 1994, Danton 3/A Yonif 100/PS 1995, Dankibant Yonif 100/PS (1997), Pasi 4 Yonif 100/PS  (1998),  Dankipan C Yonif 100/PS (1999), Pasi 1 Yonif 100/PS ( 2000 ).

    Selanjutnya, Pasima Denintel Dam I/BB (2000), Pasi Ops Denintel Dam (2001), Pasi Binkomsos Rem (2003), Wadan Deninteldam IX (2006), Pabandyapam Siintel Dam II Sriwijaya (2009), Kasi Intel Rem 043 Gatam (2010), Danden Intel Dam II Sriwijaya (2010) dan  Komandan Kodim 0411 Lampung Tengah pada 2012. 

    Tentara, menurut Maulana, adalah penjaga negara. Artinya, dalam kondisi peperangan militer atau tentara harus selalu berada di barisan terdepan untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan negara, serta melindungi bangsa. “Tugas pokok TNI sudah diatur dalam UU no.34 tahun 2004. Sejak dahulu domainnya tentara kan menjaga keamanan nasional,” katanya.

    Dalam kondisi tidak ada peperangan di dalam negeri, tugas TNI tetap menjaga keamanan negeri yang digolongkan menjadi 14 item, diantaranya memberantas terorisme, pemberontakan bersenjata, mengamankan perbatasan negara, dan menjaga presiden dan wakil presiden.

    “Sebagai prajurit, saya ingin terus berpegang pada tugas pokok dan terus bekerjasama dengan semua pihak, baik pemerintah daerah, kepolisian dan masyarakat setempat untuk menjaga keamanan wilayah kerja, sehingga memungkinkan adanya jaminan keamanan di wilayah itu, agar investor nyaman dan ekonomi maju,” tambahnya.

    Dalam pendidikan anak-anak?

    Sebagai orang tua, Maulana sangat memperhatikan tingkah polah anak-anaknya, terutama dalam hal pendidikan, baik formal maupun non formal. “Pendidikan bagi saya sangat penting. Anak-anak harus mendapatkan pendidikan secara baik. Di rumah sayalah yang jadi pendidik mereka, tapi di sekolah, saya serahkan sepenuhnya kepada guru. Ini penting, agar anak mengerti arti pentingnya pendidikan. Bahkan saya datangkan guru les privat ke rumah, untuk beberapa mata pelajaran sekolah sebagai tambahan. Untuk pendidikan agama pun didatangkan guru ke rumah, terutama untuk mengaji dan mengenal kitab suci Al Qur’an.” Terang Maulana.

    Pendidikan formal memang menyangkut juga pendidikan Agama. Namun dengan tambahan ilmu baca AL Qur’an akan menambah ketebalan iman anak-anak sebagai dasar pergaulan di masyarakat.

    Tidak hanya itu, Maulana Ridwan , juga peduli dengan dunia pendidikan terbukti ditengah-tengah kesibukanya sebagai seorang Komandan, Maulana masih meluangkan waktunya untuk berkunjung kesekolah-sekolah yang ada di wilayahnya. Pada kesempatan berkunjung itu, Maulana selalu menanamkan rasa cinta tanah air kepada seluruh warga sekolah dengan memberikan pemahaman tentang empat pilar kebangsaan yang sudah menjadi program utama TNI dalam menimbulkan rasa cinta tanah air bagi masyarakat dan bangsa Indonesia.

    Menilai kemajuan jaman saat ini yang dihubungkan dengan perkembangan pergaulan anak muda Indonesia, Maulana punya penilaian sendiri.

    Anak muda di Indonesia ada umumnya masih gamang. Mengangap modernisasi dalam pandangan yang masih keliru. “Saya tidak yakin bahwa anak-anak muda kita mampu menghadapi globalisasi dunia ini dengan baik. Sebagian besar keliru dalam menilai modernisasi, bahkan malah kebablasan. Artinya, anak-anak tidak punya dasar yang kuat untuk berhadapan dengan modernisasi itu. Apapun yang mereka lihat di media massa baik elektronik maupun online, ditelan mentah-mentah ditiru, atau malah dikembangkan lebih jauh lagi,” katanya.

    Ini sebuah kondisi yang gawat dan harus diberikan perhatian khusus agar generasi muda Indonesia tidak salah kaprah. “Pengaruh media massa sangat besar kepada masyarakat kita, terutama generasi muda. Tanggungjawab itu juga ada pada pemilik-pemilik media itu, untuk dapat menampilkan tayangan yang tersensor dengan baik agar aman ditonton anak-anak Indonesia. Satu lagi yang tidak kalah pentingnya, pengaruh modernisasi itu juga akhirnya membuat anak-anak Indonesia dewasa sebelum waktunya.” Tambahnya.

    Efek negatifnya sudah banyak anak-anak yang tersandung kasus kriminal, seksual dan kasus-kasus lain yang seharusnya tidak mungkin terjadi pada mereka.

    Jiwa prajuritnya memang tertanam sejak kecil, lantaran orang tua Maulana juga anggota TNI. Sikap disiplin sudah ditanamkan sejak kecil. Penampilan yang gagah berani dan dedikasi tinggi pada tugas, merupakan daya tarik tersendiri yang memikat Maulana dengan sukarela masuk ke dunia militer.

    “Ayah tentara, maka setiap hari saya terus diajarkan sesuatu yang dimulai dengan kedisiplinan. Dan itu sangat menarik buat saya. Akhirnya ketika lulus sekolah, saya langsung mendaftar ke Akademi Militer dan Alhamdulillah lulus. Meskipun sebelumnya, banyak teman-teman mengajak untuk ke perguruan tinggi tapi daya tarik TNI sangat kuat bagi saya. “ kisahnya.

    Diakui Maulana, atas gemblengan orangtua  dan dukungan yang kuat serta tempaan dari Akademi Militer  sehingga mampu menjadikan dirinya  seperti saat sekarang ini.

    Indarjo Gunawan Jangkung