Olahraga Lampung Dulu, Kini dan Nanti

04 September 2013

Merindu Lampung Juara Luar Jawa

TIDAK BANYAK yang mengungkapkan bahwa Lampung yang saat ini mengalami dilema pembinaan oahraga, ternyata pernah menjadi “juara luar Jawa” dalam Pekan Olahraga Nasional (PON)  selama 4 kali penyelenggaraan pesta olahraga  multi event nasional itu.

Pekan Olahraga Nasional yang pertama kali diselenggarakan di Solo tanggal 8-12 September 1948 yang diikuti 13 karesidenan dengan mempertandingkan 9 cabang olahraga, yang saat itu Lampung masih menjadi satu dengan karesidenan Sumatera Selatan.

Penyelenggaraan PON Pertama hingga ke tujuh di Surabaya tahun 1969, Lampung belum mengirimkan wakilnya ke PON.

Lampung yang mulai memasuki era PON sejak tahun 1973, menjadi peserta baru pada PON ke VIII di Jakarta. Saat itu PON diselenggarakan dengan 27 cabang olahraga dan diikuti 26 provinsi dengan jumlah eserta 4.587 atlet, ofisial dan pelatih.

Kala itu Lampung adalah peserta yang menduduki peringkat 10  di klasemen akhir PON, dengan perolehan 3 medali emas, 1 perunggu dan 3 medali perunggu. Cabang Angkat Besi yang saat itu Imron Rosadi menjadi atlet langsung memborong 3 medali emas.

Kemudian PON digelar lagi di Jakarta 4 tahun kemudian (1977) Lampung turun ke peringkat 13 dengan perolehan 3 medali emas, dan 1 perunggu. Prestasi ini terun menurun walaupun perolehan medalinya naik menjadi 6 medali emas, 1 perak dan 3 perunggu. Saat itu Lampung berada diperingkat 15 dari 27 provinsi peserta.

Namun PON kali ini menjadi sangat istimewa bagi Lampung, lantaran salah satu medali emasnya diperoleh dari cabang sepakbola. Dan inilah menjadi medali satu-satunya yang bisa diraih cabang sepakbola Lampung sepanjang sejarah PON di negeri ini.

PON ke X ini menjadi titik balik positif bagi kontingen Lampung. Nyatanya empat tahun kemudian, tahun 1985, Lampung mampu menembus peringkat 8 dengan perolehan medali melonjak jauh sekali, yakni, 16 medali emas, 19 perak dan 18 perunggu.

Lagi-lagi ini menjadi momentum kebangkita sebuah provinsi yang  sebelumnya tidak diperhitungkan sama sekali di arena nasional. Munculnya lifter-lifter ciptaan Imron Rosadi dari padepokan Gajah Lampung menjadi momok cabang angkat besi dan berat di PON. Maka julukan Gajah Lampung pun melekat pada diri Imron Rosadi yang kala itu nyaris tak tertandingi.

Era Lima Besar

Lampung mulai menjadi buah bibir olahraga nasional sejak PON X , tetapi lebih fenomenal lagi era 1989 hingga 2000. Dimana Lampung mampu bertahan selama 4 periode PON bercokol di 5 besar nasional mendampingi empat jawara nasional yang sulit digeser yakni DKI jaya, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Tahun 1989, ketika PON diselenggarakan di Jakarta, 30 cabor dipertandingkan dan Lampung mendapatkan 24 medali emas, 19 perak dan  22 perunggu.

Empat tahun kemudian Lampung juga masih bertahan di urutan lima dengan 18 medali emas, 10 perak dan 21 perunggu. Meskipun dari perolehan medali Lampung mengalami penurunan, namun medali yang lepas terambil oleh the big four, jadi tidak mempengaruhi peringkat Lampung.

Tahun 1996, PON masih diselenggarakan di Jakarta, 9-20 September. Dari 27 provinsi yang ikut, Lampung masih perkasa di peringkat 5 dengan perolehan pundi medali emas 20, medali perak 20 dan meali perunggu 24 keping.

Rupanya angka 20 pada perolehan medali emas Lampung masih mampu mempertahankan posisi the big five pada tahun 2000, ketika PON diselenggarakan di Surabaya, Jawa Timur. Selain emas, Lampung memperoleh 22 medali perak dan 26 medali perunggu.

Inilah catatan manis perjalanan kontingen Lampung di PON yang  diselenggarakan di pulau Jawa. Lampung masih menjadi juara luar Jawa hingga empat musim, sehingga ini menjadi kenangan manis senior-senior olahraga Lampung.

Kini mulai kita merindukan kembali saat indah itu, tetapi rasanya semakin sulit dan makin menjauh dari angka 5 besar itu. Ini disebabkan pergeseran tempat penyelenggaraan PON ke luar pulau Jawa. Sehingga tuan rumah biasanya mencanangkan sukses prestasi dan sukses penyelenggaraan.

Tetapi ironisnya, rata-rata mereka menghalalkan segala cara, misalnya dengan memborong atlet berkualitas untuk ditransfer ke daerah tuan rumah untuk mendulang medali emas.

Satu dampak yang pernah dialami Lampung, contohnya, Sepri haryadi yang kala itu menjadi andalan senam Lampung, tiba-tiba hengkang ke Kalimantan Timur karena iming-iming yang semu.

Masih banyak atlet Indonesia lainna yang rela pindah ke sebuah daerah yang menjadi tuan rumah dengan imbalan yang besar.

Pada PON XVI tahun 2004, ketika Sumatera Selatan menjadi tuan rumah, ternyata sangat bombastis. Kalau sebelumnya Sumsel berada di luar 10 besar, maka ketika menjadi tuan rumah Sumsel memanfaatkan keunggulan sebagai penyelenggara dan menetapkan 41 cabang olahraga dipertandingkan, dengan memasukkan cabang-cabang unggulannya.  Benar saja Sumsel akhirnya menduduki peringkat 4.

Lampung terlempar ke urutan 8, meskipun secara perolehan medali justru lebih baik dari sebelumnya, yakni 21 Emas, 21 perak dan 20 perunggu.

Dua PON berikutnya diselenggarakan di Kalimantan Timur, PON XVI tahun 208. Tuan rumah juga merangsek ke posisi 3 besar, dan Riau sebagai tuan rumah PON XVIII, tahun 2012 lalu lebih fenomenal karena mampu menjadi runner up.

Di dua even itu Lampung menjadi penghuni peringkat 8 ketika di Kalimantan Timur dan peringkat 10 di Riau.

Angkat Besi Banyak Saingan

Seiring berjalannya waktu, ternyata hampir seluruh daerah peserta PON sangat konsenterasi untuk meniru cara Lampung memperoleh medali dalam jumlah besar melalui cabang angkat besi dan angkat berat.

Kni cabor andalan Lampung itu sudah mendapatkan banyak saingan, dari Sumatera saja sudah mulai merangsek lifter-lifter dari jambi misalnya. Lalu dari Kalimantan ada Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Belum lagi dari Jawa Barat  yang kini menjadi kekuatan yang wajib diperhitungkan di cabang berotot itu.

Mewaspadai situasi seperti ini, KONI Lampung mesti mengambil jalan alternatif untuk tidak melulu mengandalkan angkat besi dan angkat berat saja, dengan melakukan penekanan pada cabang olahraga perorangan lainnya seperti atletik, catur, beladiri dan lain-lain.

Ketua Umum KONI Lampung sudah membunyikan alarm bagi bidang pembinaan dan prestasi, agar lebih serius dalam melakukan talent scoating dan monitoring cabang olahraga. Gunanya adalah untuk mengendus apakah ada kekuatan lain yang bisa dikedepankan dari cabang-cabang olahraga selain yang sudah diunggulkan itu.

Lampung ke depan harus mampu memperhitungan dengan cermat cabang olahraga penopang medali secara riil. Dalam sebuah perencanaan harus membuat target optimis dan target pesimis yang siap dipaparkan bukan sekedar di atas kertas, melainkan secara uji materiil juga mendekati realitas.

KONI Lampung harus kembali menekan cabang olahraga untuk lebih fokus dalam pembinaan atlet muda berbakat dan menjadikan atlet senior yang sudah diprediksi sulit bersaing beralih ke profesi pelatih. Ini tujuannya untuk memperluas pembibitan atlet agar tidak terlambat dalam regenerasi.

Contohnya di cabang olahraga menembak. Selama ini tidak ada regenerasi yang jelas, sehingga beberapa PON hanya mengandalkan Maryono. Ini juga perlu ketegasan dari KONI selaku koordinator pembinaan cabang olahraga di Lampung.

Bagaimanapun juga semua masyarakat olahraga Lampung sanga merindu posisi lima besar PON bagi Lampung ini. Tetapi bukankah ini tantangan?

Tetapi kalau ini hanya cukup sebagai bahan cerita bahwa Lampung pernah lima besar PON, ya memang sudah cukup menarik. Artinya, lima besar itu hanya sekedar dibicarakan sebagai cerita masa lalu yang indah, tanpa harus diupayakan untuk direbut kembali.

Semoga ini menjadi renungan seluruh insan olahraga Lampung. Bravo Oahraga. (Dyaning)