Al Muzzmil Yusuf : Lampung Sudah Mengirim Pemain Muda ke Gothia

04 September 2013

APA Gothia? Gothia adalah sebuah kota di Swedia yang dipergunakan sebagai tempat turnamen sepakbola usia dini di Eropa.  Lalu apa istimewanya Gothia bagi Indonesia? Bukankah kiblat sepakbola Eropa saat ini ada di Spanyo, Inggris dan Italia?

Al Muzamil Yusuf, salah seorang putra asli Lampung, yang kini menjadi salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di Jakarta, punya cerita sendiri tentang Gothia dan negara-negara di Timur Tengah soal sepakbola.

“Gothia hanya satu dari banyak program kami yang sudah dirancang secara matang, dalam sebuah organisasi ASSBI (asosiasi sekolah sepakbola Indonesia – red), yang saat ini tersebar di 24 provinsi di Indonesia.  Kenapa Gothia? Ini karena rutinitas dan mutu yang bisa kami akui sebagai salah satu tujuan pembinaan sepakbola usia muda Indonesia. Selain itu masih banyak negara tujuan yang bisa kami tuju demi pembinaan sepakbola usia muda.” kata Muzamil.

Selain itu, masih ada banyak kompetisi internasional yang baik seperti di Hongkong, Singapura, Malaysia, Vietnam dan beberapa negara lain di luar Asia. Namun demikian, disayangkan karena Indonesia tidak punya turnamen tahunan khusus usia muda yang secara rutin digelar oleh Asosiasi PSSI.

Pengiriman pemain muda dalam sebuah tim yang dibentuk dari seleksi pemain seluruh SSB se Indonesia dilakukan secara fair, bersih dan murni menilai kemampuan pemain. “ Kami sudah bertahun-tahun melakukan ini. Seleksi  dilakukan secara transparan tanpa ada titip-titipan dari orang tua, pejabat dan sebagainya. Semua dimulai dari hal yang bersih dan transparan, semua untuk kepercayaan yang murni dari seluruh orangtua atlet, “ kata politisi muda itu.

Tahun ini contohnya, Lampung terpilih dua pemain muda dari Tanggamus dan Kota Metro yang menjadi tim inti “Garuda Keadilan” yang berangkat ke Gothia, Swedia. Sampai berita ini dirilis, tim Indonesia di Swedia masih berjuang untuk lolos ke semifinal turnamen Gothia itu.

Paket hematnya ke Gothia itu tidak kurang dari Rp.500 juta sekali berangkat. Ini juga menjadi beban berat yang harus dipikirkan oleh ASSBI.  Tim itu akan diseleksi lagi untuk ke Vietnam. Pemain-pemain ini kelak akan menjadi pelapis pemain di timnas Indonesia.

Tujuan akhir dari Asosiasi Sekolah Sepakbola Insonesia (ASSBI) melakukan pembinaan usia dibawah 18 tahun sampai beberapa level itu adalah bentuk dari sebuah tanggungjawab murni pada sepakbola, tanpa harus melihat siapa yang membantu pendanaannya.

“Kami ini prihatin dengan kondisi PSSI kita yang tidak membina secara langsung pemain-pemain usia mda dengan struktur yang sistematis. Jika PSSI mendapatkan undangan turnamen luar negeri,  mereka harus mencari pemain dari berbagai SSB di negeri ini. Nah karena saat ini SSB sudah ada asosiasinya, maka dengan mudah mereka tinggal berkoordinasi dengan kami. Tapi memang masih ada SSB yang tidak tergabung dengan  ASSBI. Namun itu tidak banyak. “ tambahya.

Selain dalam menyiapkan tim nasional untuk berbagai turnamen usia muda, ASSBI ternyata mulai menjadi rujukan dalam data base pemain muda baik oleh pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pemuda dan Olahraga juga Asosiasi PSSI. “Kami jaga data base pemain muda dari berbagai SSB yang sudah terseleksi dengan ketat dan dapat dipertanggungjawabkan. Ada ratusan nama yang kami punya. Bahkan saat ini mulai mempercayakan pemain seleksi ASSBI Lampung terutama dalam pembentukan tim Popnas,” ungkap Muzamil.

Meskipun sebenarnya pembinaan ini seharusnya domainnya PSSI, namun karena PSSI sendiri tidak melakukannya dengan baik, maka inisiasi untuk membina diambil ASSBI. Memang beberapa turnamen luar negeri juga ada bantuan biaya dari PSSI, seperti yang dilangsungkan di Kinibalu, Malaysia, dan beberapa negara lainnya.

 Tujuan Lain?

ASSBI masih terus memperbaiki sistem kerjanya, karena masih ada yang belum maksimal untuk mewujudkan visi dan misinya, yakni mempersiapkan pelatih sepakbola bermutu sebanyak mungkin di Indonesia. “Yang terus kami evaluasi ini untuk menggencarkan training of trainer (ToT) di seluruh Indonesia. Sebab perkembangan sepakbola ini akan positif jika seluruh pelatih yang ada mempunyai sistem latihan yang standar dan bermutu sama. Jika para pemain dari daerah dikumpulkan dalam tim nasional, maka adaptasinya akan jauh lebih cepat,” ungkap mantan pemain timnas Indonesia U-16 itu.

Muzamil menegaskan bahwa ASSBI kini sedang bekerjasama dengan Venturi, seorang pelatih yang mempuyai visi melatih sangat baik terutama dalam kerjasama tim. Dari pelatih yang sekaligus trainer itu, akan dibentuk pelatihan untuk pelatih sepakbola se Indonesia.

Cita-citanya ASSBI adalah membentuk pelatih sepakbola misalnya satu provinsi itu ada 100 pelatih berlisensi dan berkemampuan yang setara di tingkat nasional atau bahkan internasional. Jika  satu provinsi bisa dihasilkan 100 pelatih bermutu dan se Indonesia sudah mampu memiliki 3 ribuan pelatih berkualitas. Tentu ini hal yang wajar jika akhirnya mereka mampu menaikkan kualitas pemain sepakbola di Indonesia untuk tim nasional masa depan.

Muzamil menegaskan bahwa akan diupayakan beberapa trainer bagi pelatih dengan beberapa ciri khas. Seperti Venturi akan melakukan ToT untuk pelatih dengan kekuatan kerjasama tim. Sementara ada pelatih senior yang juga sedang disiapkan untuk memberikan ToT dengan ciri khas Will Cooper yang terkenal dengan teknik individunya.

Maka, semua yang dikerjakan oleh ASSBI harus mempunyai arah yang jelas dan kelak akan diselenggarakan kompetisi setengah tahunan bagi ASSBI untuk beberapa level usia untuk memberikan jam terbang yang  kompetitif dan cukup untuk anak-anak usia muda itu.

“Kompetisi itu penting sekali bagi pembinaan usia muda. Selain untuk memberikan kepercayaan diri yang harus dikembangkan oleh setiap pemain, juga menghilangkan kejenuhan dalam latihan harian mereka. Tetapi memang ini menjadi kendala pengurus, terutama berhubungan dengan dana penyelenggaraan,” kata Muzamil.

Lalu dana sebesar yang diperlukan dalam pembinaan ASSBI itu diperoleh dari mana? Muzamil mengatakan bahwa ini merupakan dana patungan dari para koleganya di DPR RI yang se visi, dengan menggunakan dana reses yang dipergunakan untuk konstituen. “Ini dana yang harus dikembalikan untuk kepentingan konstituen kami. Dan ketika kita melihat sepakbola adalah satu yang juga baik untuk dibina, maka kami sepakat untuk menyalurkan ke situ,” ungkapnya. (don)