X

*** TERIMA KASIH ANDA TELAH SAKSIKAN DETIKLAMPUNG STREAMING TV SETIAP HARI ***      *** Video on Demand kami siapkan atas saran & permintaan masyarakat pembaca setia detiklampung.com *      MOHON MAAF SELAMA SEPEKAN, KAMI TIDAK DAPAT DIAKSES KARENA SEDANG ADA PERBAIKAN. NAMUN SAAT INI SUDA      

dr. Zenobia Devi: Jangan Remehkan Pisang Ya..

  • JIKA kita menemukan seorang atlet yang sakit typus, apa yang ada dibenak kita? Atlet itu kecapekan. Lalu kalau atlet kelelahan terus sakit typus, adakah yang salah?  dr. Zenobia Devi  menjawab sederhana, “Pasti pola makannya salah.” katanya.

    Idealnya,  seorang atlet harus mendapat asupan gizi yang  lebih banyak ketimbang  orang biasa. Jika dalam porsi latihan yang stabil, namun asupan gizinya kurang, maka akan terjadi hal di atas.  “Typus itu intinya ada iritasi usus, karena pola makan yang tidak baik, misalnya suka makanan jajanan. Dan jika sudah terjadi, maka imunnya menurun dan mudah sakit itu,” kata dokter Bia – panggilan akrab Zenobia Devi.

    Gizi, bagi atlet menjadi masalah penting untuk meraih prestasi, disamping pola latihan yang baik. Jika atlet  melakukan latihan berat dan gizinya kurang itu yang membuat atlet staminanya drop, bahkan hingga sakit. “Pola latihan sebagus apapun akan mubazir, jika gizi untuk atlet tidak disesuaikan,” tambahnya.

    Dokter Bia menekankan  bahwa saat ini kesadaran pada para atlet bahwa dirinya seorang atlet masih kurang, sehingga pola makan sehari-harinya juga asal-asalan. “Yang terjadi pada para atlet kita adalah belum ada kesadaran yang baik, bahwa mereka merupakan manusia yang berbeda dengan orang kebanyakan. Sebagai atlet, mereka seharusna menyadari bahwa dirinya menjadi tumpuan untuk meraih prestasi. Tapi yang terjadi, mereka para atlet kita ini umumnya mengabaikan pola makan yang seharusnya mereka sesuaikan dengan kebutuhannya sebagai atlet,” ungkap dokter yang juga bertugas di KONI Lampung ini.

    Untuk itu disarankan agar para pelatih sebagai orang yang dekat dengan atlet harus mampu mengingatkan komitmen atlet sebagai seorang. Justru sebenarnya seorang pelatih, selain menjadi pelatih fisik danm teknik, juga menjadi pengawas pola makan atletnya.

    “Saya mencontohkan pak Imron Rosadi, misalnya. Dalam mendidik atlet, pak Imron sangat keras. Semua dilakukan demi prestasi sang atlet itu sendiri. Karena atlet kan sudah kehilangan waktu, tenaga dan pikiran untuk latihan. Perlunya disiplin dalam pola makan, sama dengan disiplin dalam latihan. Contoh sudah ada, dari padepokan Gajah Lampung Pringsewu, sudah lahir puluhan juara dunia angkat besi dan angkat berat, baik lifter pria atau wanita. Ini karena pola makan dan latihan yang disiplin tinggi,” tambahnya.

    Jika selama ini yang dikenal sebagai gizi itu adalah makanan-makan enak dan mahal, sebenarna keliru. Karena banyak makanan di Lampung ini yang sebetulnya sangat baik untuk dikonsumsi atlet.

    Contohnya adalah buah pisang dan ikan. “Lampung ini gudangnya pisang dan ikan. Pisang apa saja baik untuk dikonsumsi atlet, kecuali pisang goreng,” selorohnya.

    Pisang secara medis mengandung karbohidrat dan kalium yang baik untuk kekuatan otot seorang atlet. Jadi jangan remehkan pisang ya. Disamping daging dan telur, masih ada makanan lain yang menunjang gizi atlet, termasuk tahu dan tempe. “Kadang ada atlet yang kemudian malas makan tempe dan tahu. Padahal tahu dan tempe juga sangat penting buat asupan gizi. Jadi atlet jangan terus berharap makan daging dan telur terus-terusan. Sebab daging dan telur yang mengandung protein tinggi itu juga ada efeknya membebani kerja ginjal. Jadi memang harus ada selingannya. “ tambah Bia.

    Komunikasi

    Harus ada komunikasi yang intens antara atlet dengan orang-orang dekatnya, terutama pelatih dalam soal makanan dan asupan gizi. Boleh saja sering-sering ditanyakan dan diingatkan tentang pola makan atlet agar terus terkontrol dengan baik.

    “Ada kadang-kadang pelatih yang mengeluh dan seolah mengelak dari tanggung jawab mengawasi atletnya dengan alasannya sendiri. Kan kami pelatih tidak mengawasi 24 jam dok. Nah ini sering kami menemukannya di lapangan. Intinya pengawasan melekat itu bukan harus menunggui selama 24 jam, tetapi memberikan warning setiap ada kesempatan yang baik. Misalnya selalu memesan jangan tidur terlalu malam, jangan makan pedas-pedas, jangan jajan sembarangan ya, dan sebagainya.” Ungkap Bia, seraya menambahkan bahwa atlet un akan senang jika diberikan pesan-pesan dengan penyampaian yang baik.

    Satu contoh lagi yang diberikan dr Bia adalah kepelatihan nyona Farida Abubakar pada cabang senam ritmik. “Tante Farida itu keras kalau melatih. Sampai atletnya nangis. Bahkan kerasnya itu bukan urusan latihan, tapi juga mengawasi pola makan. Tapi lihat saja hasilnya, Yulianti cs menjadi pesenam-pesenam nomor wahid di Indonesia pada masa jayanya. Ini semua karena kedisiplinan tinggi. Memang harus dimulai dari contoh seorang pelatih dulu. Kita harus yakin bahwa disiplin itu kunci utama untuk meraih sukses. Apapun itu pekerjaannya,” katanya.

    Jadi kesimpulannya, jangan meremehkan khasiat pisang dan ikan yang mudah didapatkan dengan mudah dan murah di Lampung. Lalu, para atlet harus mulai menyadari penuh bahwa diri mereka adalah atlet, bukan orang kebanyakan, sehingga ada aturan-aturan khusus juga dalam kehidupannya.

    Mengkomunikasikan segala hal yang berhubungan dengan pola makan dan latihan juga mutlak harus dilakukan, untuk mencapai hasil yang diinginkan. Sukses. (Abd. Rohman)