X

*** TERIMA KASIH ANDA TELAH SAKSIKAN DETIKLAMPUNG STREAMING TV SETIAP HARI ***      *** Video on Demand kami siapkan atas saran & permintaan masyarakat pembaca setia detiklampung.com *      MOHON MAAF SELAMA SEPEKAN, KAMI TIDAK DAPAT DIAKSES KARENA SEDANG ADA PERBAIKAN. NAMUN SAAT INI SUDA      

Atlet itu Mirip Seperti Artis

  • Mungkin  ada benarnya, ada beberapa pengamat yang mengatakan bahwa kehidupan atlet itu mirip dengan kehidupan artis.

    Jika kita meniliknya dari contoh atlet-atlet internasional, seperti beberapa pesepakbola du nia, pebolabasket NBA, perenang, pebalap mobil, pebalap motor, yang sudah sangat identik dengan artis papan atas dunia, hal itu pasti membenarkan kalimat tersebut.

    Beberapa atelt Indonesia juga sebenarnya sudah mampu mendekati hal itu, misalnya beberapa atlet bulutangkis, sepakbola semi pro, dan beberapa lainnya.

    Namun ternyata mayoritas atlet Indonesia, khususnya Lampung masih biasa-biasa saja dan seperti orang kebanyakan. Yang membedakan semua ini, adalah kesadaran yang tinggi tentang posisi mereka sebagai atlet yang benar-benar atlet dengan yang hanya setengah-setengah.

    Dokter Zenobia Devi, seorang pengurus KONI Lampung bidang kesehatan beberapa kesempatan pernah mengatakan di depan para atlet Lampung, bahwa yang akan mendorong seseorang benar-benar menjadi atlet adalah atlet itu sendiri.

    “Tingkat kesadaran diri dari seorang atlet bahwa dirinya atlet itu masih rendah. Persentasenya tidak sampai 10 persen. Kebanyakan baru setengah hati. Sebab kalau mereka yang benar-benar mau mengabdikan hidupnya pada olahraga yang harus total. Bukan saja atlet, tetapi juga pelatih dan pengurus organisasi olahraga,” katanya.

    Sama dengan kehidupan artis yang harus selalu menjaga penampilan mulai dari postur tubuh, kulit, wajah pola makan dan istirahat, maka seorang atlet juga harus mampu menjaga penampilannya. Penampilan itu termasuk dalam olah tubuh agar tetap ideal dan proporsional seperti layaknya seorang atlet.

    “Maka dari itu, atlet juga harus menjaga diri bak seorang artis. Makan jangan sembarangan, tidur juga harus ada waktunya yang cukup. Latihan juga harus rutin sesuai dengan program yang disusun pelatih. Ini semua bagian dari sukses yang akan diraih pada waktunya nanti. Yakinlah tidak ada atlet yang akan sukses tanpa disiplin yang tinggi.” tambah Bia.

    Pembentukan mentalitas dan prestasi atlet juga tergantung pada pelatihnya. Kadang ada yang menerapkan pola latihan keras dan tegas tidak pandang bulu. Kadang ada yang menetapkan pola latihan justru mengikuti mood dari atletnya, dan berbagai macam pola pelatih memberikan bekal kepada anak didiknya.

    Jangan Asal Kenyang

    Menurut Zenobia, disetiap cabang olahraga pasti punya karakter sendiri-sendiri dan tidak akan sama satu dengan yang lain, sehingga perlakuan terhadap atletnya juga berbeda-beda. Pola makan dan porsi makannya juga berbea-beda. “Tapi kesamaanya ada pada rasa tanggungjawab. Kalau memang pelatih sangat sayang kepada atletnya, tentu ia juga mau atletnya berprestasi. Maka ia harus membuat pola latihan dan makan atletnya sesuai dengan targetnya, bukan melihat mood atletnya. Itu bukan hal yang tegas,” ungkap dokter Bia.

    Menjaga penampilan juga termasuk menyiapkan diri untuk berlatih dan bertanding. Seperti diungkap Zenobia soal porsi makan atlet, bahwa seyogyanya atlet disiplin dalam mengatur pola makannya. Jika hendak berlatih keras, maka harus dipersiapkan lebih dahulu makan yang mengandung karbohidrat yang banyak, minimal 2 jam sebelum latihan.

    Tetapi jika mau bertanding, harus mengurangi karbohidrat tetapi menambah porsi proteinnya. “Yang jelas ini sudah harus dikuasai oleh para pelatih dan atlet. Jangan sampai mau pertandingan tidak makan sama sekali atau makan kekenyangan. Itu akan merugikan penampilannya di pertandingan. Dan sebaiknya kalau mau bertanding tidak banyak makan, tetapi menyiapkan minum manis untuk tenaganya,” kilahnya.

    Bia juga mengingatkan, bahwa makanan atlet itu jangan asal kenyang. Kebutuhan atlet itu kandungan  gizi yang di makanan, bukan berapa banyhak ia makan. Tetapi berapa banyak kandungan gizinya.

    Beberapa kali pengamatannya, menemukan kasus malas makan nasi yang terjadi pada atlet wanita, karena takut gemuk dan menambah berat badannya. Tetapi seyogyanya, kalau tidak mau makan nasi, harus mencari alternatif lain makan yang mengandung karbohidrat tinggi.

    Kalau para atlet tidak menyadari bahwa kebutuhan tubuhnya bukan saja untuk kenyang tapi juga gizi, maka yang rugi adalah ririnya sendiri. Sebab yang masuk ke tubuh mereka hanya makan yang tanpa bobot gizi, tapi  hanya mengenyangkan saja. (Abd. Rohman)