Acad : Kalau Cabor Sudah Mandiri, Tak Perlu KONI

04 September 2013

SELAMA ini banyak cabang olahraga yang masih bergantung pada pendanaan yang dikucurkan pemerintah daerah melalui Dinas Pemuda dan Olahraga dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Lampung.

Seperti ketergantungan saja. Hampir sebagian besar cabang olahraga “menyusu” pada KONI  dan tidak mempunyai upaya lain untuk menuju kemandirian. “Padahal sebenarnya, cabang olahraga itu punya  kesempatan untuk bisa mandiri. Tergantung bagaimana pengurusnya mempunyai kreasi, misalnya cari bapak angkat, sponsor tetap dan sebagainya.” Kata Sjachrazad ZP, ketua umum KONI Lampung di ruang kerjanya.

Kalau dana terus menjadi kendalanya, tambah Acad – panggilan akrab Sjachrazad – maka yang terdekat untuk berinovasi dan berkreasi mencari dana dari luar KONI adalah pengurus cabang olahraga itu sendiri.

Sebab mereka bisa merangkul pengusaha apa saja yang dianggap sesuai dengan jalannya program pembinaan. “Kalau pengurus cabor ini sudah mampu menyusun program latihan dan kemudian mempresentasikan kepada sponsor untuk memberikan dukungannya,” tambah Acad.

KONI selama ini hanya berfungsi menjadi koordinator cabang olahraga dalam hal pendanaan dan pembinaan, lantaran KONI ditunjuk oleh pemerintah sebagai perpanjangan tangannya. Jadi KONI akan tidak langi berfungsi, jika seluruh cabang olahraga sudah mampu berdiri sendiri dan mandiri sepenuhnya.

Pertanyaannya, kapan ini bisa terwujud?

Acad kembali menegaskan bahwa sebelumnya sudah sering diutarakan bahwa KONI adalah mitra kerja pemerintah dan pengurus cabang olahraga.  “Sudah sering saya katakan, para insan olahraga ini harus mampu merangkul pihak-pihak yang mau melakukan pembinaan olahraga secara mandiri, termasuk bagaimana menentukan kriteria ketua organisasinya. Minimal yang punya kemampuan dan kemauan serta komitmen untuk membangun prestasi olahraga itu, sehingga cabang olahraganya berjalan dengan baik.” Ungkap Acad.

Menurut Acad, para pengurus cabor saat ini terlihat masih jauh dari kreativitas organisasi dan masih bersifat individu, bukan berjalan dalam kerja tim. Namun demikian beberapa cabang olahraga sudah mulai kelihatan berusaha untuk melakukan terobosan.

Bagaimanapun juga KONI Lampung  belum mendapatkan porsi dana yang memadai untuk mensubsidi sekitar 36 cabang olahraga yang ada di Lampung. Namun demikian menurutnya bukan sekedar dana masalahnya, tetapi juga adanya komitmen pelaku olahraga.

“Selain dana, juga ada faktor lain yang seharusnya diperhatikan, yakni komitmen dari para pelaku olahraga itu sendiri.  Saat ini KONI Lampung kan hanya diberikan 20 miliar itupun sudah termasuk 2 miliar yang dialokasikan ke Porprov di Lampung Selatan. Sebenarnya dana segitu kan tidak mungkin bisa mengcover semua cabang,’ tambah ketua  kwartir cabang pramuka Provinsi Lampung.

Maka dari itu, KONI Lampung  sudah beberapa waktu menetapkan skala prioritas dengan membagi beberapa kategori pembinaan atlet berprestasi, mulai dari cabang olahraga utama, pratama dan seterusnya sebagai pengkategorian pemberian bantuan dana pembinaan.

“Yang bisa kami lakukan adalah memberikan pembinaan dengan dasar prestasi di berbagai event nasional termasuk Pekan Olahraga Nasional. Cabang-cabang yang banyak meraih medali emas, perak dan perunggu, tentu mendapatkan porsi lebih dari yang tidak mendapatkan medali. Ini realistis kan? Jadi untuk mensiasati dana yang minim maka kita harus sama-sama mengerti situasi dan kondisinya,” katanya.

Kedepan, lanjut Acad, siapapun pimpinan KONI harus berani memutuskan cabang-cabang olahraga yang tidak pernah meraih medali di  tiga PON terakhir untuk tidak diberangkatkan ke PON dan hanya disiapkan cabor yang punya kans besar di perolehan medali. “Ini biar menjadi cambuk bagi yang tidak pernah mendapatkan medali, untuk bekerja lebih keras lagi,” ungkasnya. (donpecci)