X

*** TERIMA KASIH ANDA TELAH SAKSIKAN DETIKLAMPUNG STREAMING TV SETIAP HARI ***      *** Video on Demand kami siapkan atas saran & permintaan masyarakat pembaca setia detiklampung.com *      MOHON MAAF SELAMA SEPEKAN, KAMI TIDAK DAPAT DIAKSES KARENA SEDANG ADA PERBAIKAN. NAMUN SAAT INI SUDA      

MS Town, Obsesi Kawasan Wisata Masa Depan Lampung

  • BANDARLAMPUNG – Bali adalah pulau pertama, provinsi pertama, daerah pertama dari wilayah Indonesia yang mendunia namanya karena pariwisata. Tidak dipungkiri, bahwa banyak turis Eropa, Amerika, Australia dan Afrika bahkan Asia lebih mengenal Bali ketimbang negeri induknya, Indonesia.

    Tidak apa-apa, dan apa ruginya bagi Indonesia. Toch seluruh pelancong manca Negara yang dating kembali berarti juga datang ke Indonesia. Yang seperti ini tak perlu dirisaukan hanya untuk mengursas energy saja.

    Nah sekarang kalau kita bicara soal keindahan alam, maka Indonesia mempunyai banyak pilihan daerah yang memiliki anugerah dari sang Maha Pencipta dari sisi keindahan alamnya. Misalnya, Padang, Sumatera Barat. Disana ada kawasan kelok Sembilan yang luar biasa indahnya, ini juga anugerah Allah SWT.

    Sumatera Utara, mempunyai Danau Toba.  Sulawesi punya Manado dengan Bunakennya. Papua punya Rajaampat dan Virginia alamnya. Kalimantan banyak pesona di seluruh pulaunya.

    Nah Lampung? Sesungguhnya, alam di kawasan Lampung tidak kalah indahnya dengan pulau lain di Indonesia. Sebut saja Lampung Barat. Di sana ada beberapa pantai indah alami, bahkan saat ini sudah mulai mendunia karena menjadi rempat berselancar yang indah dan mempesona.

    Lampung Barat punya pesona pantai yang tak kalah dengan kawasan Lampung Selatan, Lampung Timur dan Pesawaran serta Tanggamus.

    Lalu apa?

    Lalu kita bertanya kepada diri kita sendiri ( khususnya orang-orang yang ada di Lampung-red), kenapa daerah wisata kita tak bisa booming seperti daerah lain ya? Kenapa ya?

    Persoalannya klasik sekali.  Kita nggak serius dan nggak focus di situ. Benar atau tidak, kita boleh kaji sendiri-sendiri. Apakah pemerintah daerah sudah memikirkan untuk pengembangannya secara konkrit? Sudah.

    Lalu apalagi? Ya, kalau berfikir secara konkrit sudah, maka lakukanlah dengan benar, perencanaan pengembangannya. Bukan sekedar dibahas, tapi tidak ada action.

    Saya pernah mengelus dada ketika berkunjung ke Menara Siger yang secara perencanaan ingin dijadikan landmark nya Lampung dari pintu sebelah selatan daerah ini. Nyatanya, bangunan yang dibiayai dengan sangat mahal itu, sementara ini hanyalah menara yang sekedar menunjukkan bahwa para penumpang kapal sudah merapat di Lampung. Selebihnya, orang tidak tahu apa itu menara Siger sesungguhnya.

    Ada keraguan untuk serius mengurus daerah wisata agar benar-benar maksimal dan menghasilkan PAD sebuah daerah. Makanya semua daerah wisata menjadi semak belukar kembali.

     

    MS Town dipuncak bukit

     Adalah seorang putra Lampung yang akhirnya berobsesi untuk membangun kawasan wisata secara mandiri, dengan konsep “semua orang bias menikmati”. Dialah, Mukhtar Sani. MS Town, singkatan dari Mukhtar Sani Town, adalah sebuah mimpi putra Lampung yang terinsipirasi dari banyak hal, mulai dari pantai, cottage, restoran, hotel, kuliner dan berbagai hal lagi yang berkaitan dengan itu.

    Bahkan sampai pada bagaimana membangun sebuah kawasan untuk dinikmati masyarakat sekitar manfaatnya. Ini sebuah gagasan, mimpi bahkan obsesi yang sanga mahal.

    Saat wawancara dengan saya deprogram Face to Face di TV saya, Tegar TV, Mukhtar Sani banyak membuka cakrawala pariwisata Lampung yang sangat terbuka dan punya prospek cerah di masa depan.

    “Kejenuhan orang-orang metropolitan, seperti Jakarta dan Bandung, khususnya dalam melakukan weekend dan refreshing, kelak akan berpaling ke Lampung. Liburan Jumat sore ke puncak pass, sebenarnya malah bikin stress, karena macet. Tetapi tetap mereka lakukan, karena belum ada alternative lain yang menarik perhatian mereka.” Kata Mukhtar Sani.

    Jika Lampung punya “sesuatu”, tambahnya, tentu kemacetan kea rah wisata alam dan wisata belanja ke Bandung dan Puncak Pass akan terpecah kea rah utara Jakarta, yakni Lampung.

    Mukhtar Sani merencanakan sebuah kawasan wisata mandiri pada lahan yang telah siap,  berkisar 100 hektar dan membentang dari bibir pantai hingga ke atas bukit Mutun, Kabupaten Pesawaran.

    Selama ini, orang mengenal Mutun sebagai sebuah kawasan pantai dengan café, permainan pantai lainnya dan kuliner sederhana.

    Tetapi ternyata Mutun lebih dari sekadar pantai. Mutun adalah sebuah kawasan yang menyimpan misteri keindahan alam yang luar biasa, jika kita melihatnya dari atas bukitnya.

    Lengkap pemandangannya, mulai dari yang dengan latar pemandangan laut, pantai dan daratan. Kemudian di sisi lainnya, terdapat sebuah pemandangan dengan latar pegunungan dan perkebunan kelapa.

    Indahnya alam sekitar bias dilahap sepuasnya oleh kedua kelopak mata kita dari punggung bukit di Mutun, dan semuanya alami. Pemandangan pagi, siang, sore dan malam mempunyai cita rasa yang berbeda dan mengesankan betapa Allah Maha Besar dengan alam ciptaannya.

    Jelas, ini bukan manusia yang membuatnya. Keaslian ciptaan sang Maha Pencipta, memang tiada tandingannya. “ Kita semua akan mengagumi Maha Karya itu menjadi sebuah bukti betapa kita hanyalah penikmat ciptaanNya.” tambah Muhktar Sani.

    Membangun kawasan hutan dan gunung, haruslah orang yang ahli dibidangnya. Oleh karenanya MS Town akan membangun dengan konsep modern, tetapi  kondisi alam yang ada tidak akan diubah, apalagi dirusak.

    “Konsepnya adalah kelestarian alam. Maka meskipun kami akan membanguna Kondotel  berlantai 7 dengan 400 kamar, tetapi tidak akan merusak alam sekitarnya. Semua akan ditata agar tetap indah dan tetap alami.” Katanya.

    Berapa investasi dan hal-hal lain yang diperlukan dalam membangun MS Town? Ikuti artikel selanjutnya.

    Penulis

    Don Pecci

    Wartawan