Warga Keturunan Tionghoa Sayangkan Ujaran Kebencian Ridho

07 Juni 2018 - 01:37:15 | 1107 | POLITIK

DL/07062018/Bandarlampung

--- Yang nama ujaran kebencian itu, bisa berlaku untuk umum dan perorangan. Baik yang ditujukan kepada institusi,  kelompok masyarakat atau bahkan perorangan. Tetap dinilai sebagai ujaran kebencian.

Terkait hal ini, belakangan menjadi ramai diperbincangkan setelah pidato salah seorang calon gubernur Lampung di sebuah acara diduga memasuki wilayah SARA.

Para pengusaha keturunan Tionghoa, di Lampung kaget menyayangkan atas ucapan pidato kampanye Calon Gubernur Pertahana  M Ridho Fichardo yang menyebutkan istilah "mata sipit" bahkan terkesan orang-orang "mata sipit" di Lampung ini tidak berperan dalam kemajuan di Lampung.

“Kami sangat menyayangkan ucapan itu keluar dari orang yang terhormat, dan tokoh di Lampung ini. Tanpa diartikan kami paham yang dimaksud orang "mata sipit" itu siapa.” kata Donni Irawan, salah seorang pengusaha keturunan di Bandar Lampung. 

Menurut Ketua Serikat Media Siber Lampung itu,  jika boleh memilih mereka tidak minta dilahirkan dengan "mata sipit". “Jika boleh milih kami ingin lahir dengan mata belok. Sipit kami ini kehendak Tuhan. Seharusnya tidak perlu menyindir dengan sebutan mata sipit. Kenapa tidak langsung tunjuk hidung si A,  si B,” kata mantan anggota DPRD Lampung itu. 

Hal senada diungkapkan Ayung, warga Jalan Yossudarso, Bumi Waras.  "Ya kami kaget,  dan mau tidak mau tersinggung. Diejek mata sipit,  dan disebut tak membangun di Lampung,” kata Ayung,  yang bekerja sebagai buruh itu. 

Ahau, warga Bumi Waras,  juga menyesalkan ucapan Calon Gubernur Lampung itu. "Sepertinya tidak sedikit jumlah mata sipit di Lampung ini.  Dan bohong jika tidak ikut membangun di Lampung. Kami semua patuh hukum, bayar pajak ini dan itu, termasuk usaha yang legal,” kata Ahau, pengusaha swasta ini. 

Bahkan, kata Ahau,  bisa dikatakan geliat ekonomi di Lampung itu ada karena peran orang-orang yang di sebut mata sipit. "Kami sejak lahir dan besar di sini, sudah jadi bagian, kok diejek gitu sih, haiyaa, bisa moyung nanti," katanya. 

A Suk, warga Citra Garden, juga heran dengan ucapan Calon Gubernur itu. "Kami heran juga dengan tudingan tudingan seperti itu. Kenapa bawa-bawa mata sipit, Ini bisa menimbulkan penafsiran bisa SARA juga, warga jadi ga nyaman," kata A Suk. 

Desy, warga Antasari, mengharapkan Calon Gubernur itu mencabut dan meralat ucapannya, dan minta maaf atas ucapan yang mungkin tidak sengaja itu.

"Sebagai tokoh itu yang teladan, bukan asal begitu.  Jika ingin menyebut oknum mata sipit,  bolehlah,  bukan digeneral begitu, siapa juga tahu jika istilah mata sipit itu ya untuk warga kami Tionghoa, Chines,  dan keturunan," katanya. (rel)