Mukhlis Basri : Pancasila Tak Tergantikan

01 Juni 2018 - 13:20:08 | 405 | HUMANIORA

DL/01062018/Bandarlampung

----- Tanggal 1 Juni merupakan hari lahirnya Pancasila. Dasar Negara Indonesia yang menjadi pemersatu bangsa sejak negeri ini dilahirkan. Tentang Pancasila banyak generasi muda yang kurang mengerti dalam memaknainya.

Namun bagi Mukhlis basri yang akrab dipanggil MB, mantan Bupati dua periode di Kabupaten Lampung Barat, dengan gambling menegaskan soal apa arti dan peran Pancasila di negeri ini.

MB yang juga Mustasyar PWNU Lampung menyatakan bahwa Pancasila adalah jati diri bangsa Indonesia, sebagai falsafah, ideologi, dan alat pemersatu.

“Pancasila merupakan pandangan hidup, dasar negara, dan pemersatu bangsa Indonesia yang majemuk dan tidak tergantikan,” katanya Kamis 31 Juni 2018.

Menurut Mukhlis, kondisi ini dapat terjadi karena dalam perjalanan sejarah Pancasila dapat menjadi pemersatu dari kompleksitas bangsa Indonesia seperti adanya keragaman suku, agama, bahasa daerah, pulau, adat istiadat,  budaya, serta warna kulit yang berbeda satu sama lain.

Pada kesempatan ini pria yang juga Ketua Bidang Kehormatan partai DPD PDI Perjuangan Lampung mengajak masyarakat untuk mengggali  kembali sejarah perkembangan bangsa, yaitu ketika pada  1 Juni 1945,  Ir. Soekarno  mengusulkan Pancasila sebagai dasar negara.

“Pancasila telah dipandang sebagai sistem filsafat, etika moral, politik, dan Ideologi Nasional. Namun kemudian pada 30 September 1965, muncul Gerakan 30 September atau G 30 S PKI. Gerakan ini merupakan wujud usaha mengubah Pancasila menjadi ideologi komunis. Namun berkat adanya kesadaran untuk mempertahankan Pancasila, maka upaya tersebut mengalami kegagalan.” Jelasnya berapi-api. 

Sejarah mencatat pada 30 September yang dikenal sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September atau G 30 S PKI dan 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Dua waktu ini untuk memperingati bahwa dasar Negara Indonesia adalah Pancasila, yang sakti dan tak tergantikan. Selanjutnya pada 10 November 1986 Pancasila pertama kali diperkenalkan sebagai ideologi terbuka, di mana Pancasila dituntut untuk menyesuaikan diri terhadap perkembangan zaman yang senantiasa dinamis dengan tanpa mengesampingkan nilai-nilai dasarnya yang tetap.

“Semoga melalui peringatan Harlah Pancasila 1 Juni 2018  ini memberikan kesadaran bagi kita bersama untuk meresapi nilai-nilai luhur yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa untuk dapat merekat erat sebagai kepribadian bangsa,” Harap MB.

Masyarakat, lanjut MB, wajib untuk meningkatkan kewaspadaan nasional dan ketahanan mental ideologi Pancasila. “Seperti halnya kewaspadaan tantangan globalisasi dan liberalisasi. Kemampuan menghadapi tantangan mendasar yang akan melanda kehidupan bangsa seperti sosial-ekonomi dan politik, bahkan mental dan moral bangsa.” Tandasnya.

Hanya dengan keyakinan nasional inilah manusia Indonesia tegak dan tegar dengan keyakinannya yang benar dan terpercaya, bahwa sistem filsafat Pancasila sebagai bagian dari filsafat Timur, mengandung dan memancarkan identitas dan integritas martabat bangsa.

“Pancasila tetaplah dari Pancasila yang tak tergantikan sepanjang masa,” kata MB. (tin)