Ini Analisa RELI, Penyebab IHSG Rontok Rupiah Jeblok

01 Juni 2018 - 03:25:12 | 351 | EKONOMI

DL/01062018/Jakarta

---- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam kurun waktu dua bulan terakhir mengalami tekanan besar seiring dengan laju penguatan dollar Amerika Serikat. IHSG di awal bulan Mei pernah parkir di angka 5.700 poin hingga kembali menguat ke batas psikologis di 6.000 poin. Namun penguatan itu diprediksi masih rentan koreksi. 

Sejatinya, penguatan mata uang Paman Sam itu juga memukul rupiah. Mata uang garuda bahkan pernah tembus Rp14.200 per dollar AS.  

Associate Head of Research PT Reliance Sekuritas Indonesia (RELI), Lanjar Nafi Taulat menilai,  IHSG cenderung anjlok merespons pelemahan yang dialami mata uang rupiah terhadap dollar AS. 

“Pelemahan rupiah berdampak negatif pada pergerakan harga saham dimana Investor asing cenderung melakukan aksi jual pada aset beresiko di Indonesia, seperti saham. Karena adanya depresiasi rupiah yang membuat nilai aset mereka menurun jika di konversikan kembali ke USD,” papar Lanjar, dalam keterangan pers, Kamis 31 Mei 2018 yang dikirimkan ke redaksi detiklampung.com

Faktor lain, meski porsi asing di bursa saham tidak menjadi mayoritas, namun karena menjadi trigger, pemicu, maka aspek psikologis investor lokal pun ikut terbawa pola tindakan investor asing.  

“Investor asing masih menjadi triger para investor dalam negeri di Indonesia,” kata Lanjar. 

Oleh karena itu, meski pasar volatile, investor tetap harus rasional. Kata Lanjar, investor harus cermat dalam mengambil keputusan jangka pendek. Menghindari saham-saham sektor konsumer yang related terhadap impor dan sektor perbankan. “Saat volatile perhatikan saham-saham sektor industri ekspor dan Pertambangan,” ucapnya. 

Sambil perhatikan saham-saham prospektif dan sektor yang bagus di saat terjadi pelemahan rupiah, dan penurunan IHSG, investor harus bersiap dalam posisi beli manakala bursa rebound. 

“Posisi beli, lebih tepat disaat IHSG mulai kembali rebound. Jika beli disaat turun sama saja kita menangkap pisau jatuh,” tegas Lanjar.

Agar investasi tetap memberi imbal hasil maksimal, atur juga strategi investasi yang dilakukan. Sesuaikan kembali portfolio yang dimiliki untuk meminimalkan risiko.   

Lanjar menjelaskan, dalam jangka pendek, bisa perhatikan saham-saham perbankan dan konsumer karena disaat rupiah terdepresiasi seperti sekarang ini, investor akan cenderung menunggu kebijakan-kebijakan Bank Indonesia guna meredam pelemahan rupiah.

“Sementara dalam jangka panjang bisa perhatikan saham-saham pertambangan dan industri eksportir karena nilai rupiah yang tertekan akan lebih menguntungkan eksportir dan naiknya harga tambang membuat nilai kontrak mereka meningkat jangka panjang,” jelas Lancar.

Melihat gejolak geopolitik yang memanas pada perdagangan AS dan China, pertemuan AS dan Korut serta konflik timur tengah, Lanjar memprediksi, investor cenderung beralih pada aset safe haven dan mengurangi aset beresiko. 

Selain itu, tren prekonomian AS yang kian membaik dan tren inflasi yang membuat prospek suku bunga di AS lebih cepat membuat investor terus menambah porsi investasi mereka kembali ke AS dan mulai mengurangi porsi investasi pada negara-negara berkembang yang cenderung lebih berisiko. (*)