Pemalsuan Tanda Tangan Berakhir di Meja Hijau

16 Mei 2018 - 18:52:02 | 1215 | HUKUM & KRIMINALITAS

DL/16052018/Bandarlampung

---- Jaksa Penuntut Umum (JPU) Mala Kristin menghadirkan Ali Ferdian, PNS Pengadilan Negeri Waykanan, sebagai saksi pelapor terkait kasus pemalsuan tandatangan surat keterangan tanah (sporadik) oleh terdakwa Irwandi (41) warga Jl Way Mesuji, Kelurahan Pahoman, Kecamatan Enggal, Bandarlampung, dalam sidang yang digelar di PN Tanjungkarang, Rabu 16 Mei 2018.

Dalam kesaksiannya Ali Ferdian menjelaskan kronologis pemalsuan surat kuasa untuk dijaminkan ke bank tersebut. Kasus pemalsuan ini juga terkait dengan beberapa kasus termasuk investasi bodong yang dikembangkan oleh isteri saksi sendiri, yang kini dalam proses perceraian dengan saksi.

Di hadapan majelis Hakim yang dipimpin Ahmad Lakoni, saksi Ali Ferdian menegaskan bahwa saksi membawa kasus ini ke ranah hukum meskipun terdakwa adalah kakak iparnya.

“Terdakwa memang kakak ipar saya. Saya terpaksa melaporkan ke ranah hukum karena telah terjadi pemalsuan tanda tangan pada surat kuasa untuk menjaminkan surat tanah sporadik milik saya oleh terdakwa di Bank BRI Unit Pasar Tugu sebesar Rp25 juta, sebagai agunan kredit usaha mikro,” katanya.

Dalam dakwaannya, Jaksa Mala Kristin menjelaskan, jika terdakwa Irwandi diancam dengan Pasal 263 ayat (1) KUHP. Perbuatan pada saat itu korban mendapat informasi bahwa surat tanah korban pada September 2017 dari temannya yang kerja di Bank BRI telah dijaminkan oleh terdakwa.

Mendapat laporan itu, korban langsung mendatangi Bank BRI tersebut untuk mengecek kebenarannya. Setelah karyawan BRI Unit Pasar Tugu, Zaenal Abidin, menunjukkan satu eksemplar surat tanah sporadik. Tak hanya itu,  pihak Bank juga menujukkan surat kuasa yang telah ditandatangani korban. Dan korban membenarkan surat tanah tersebut.

Namun saksi korban tidak menyangka jika tanda tangannya dipalsukan untuk surat kuasa dan meminjamkan sporadic sebagai jaminan kredit.  Atas kejadian terdakwa, korban mengaku dirugikan atas surat tanah yang telah dijaminkan kredit di Bank BRI.

Pada saat sidang Ketua Majelis Hakim Ahmad Lakoni mempertanyakan kepada saksi korban terkait surat sporadik itu. Saksi korban menjelaskan bahwa selama ini surat sporadik itu berada di rumah orangtuanya dan berada di ruang kerja.

Hakim juga menanyakan apakah ada kemungkinan bahwa isteri saksi korban, Rizki Amalia yang juga adik kandung terdakwa yang mengambil surat sporadik itu di rumah orang tuanya.

Ali menjawabnya dengan lantang bisa mungkin. Karena memang ia sering datang ke rumah ayah saya, yang mulia,” kata dia.

Namun keterangan saksi korban itu dibantah terdakwa Irwandi. “Adik saya tidak pernah ke rumah ayah saksi (Ali). Dia hanya kalau lebaran dan ada keperluan mendadak saja ke rumah mertuanya,” sanggahnya.

Irwandi justru mengaku bahwa surat tanah itu selama ini yang menyerahkan adalah Ali sendiri. Namun ini juga dibantah saksi korban Ali. “Itu tidak benar yang mulia.” Tangkisnya.

Investasi Bodong

Usai persidangan, kepada awak media saksi korban Ali mengaku bahwa dirinya melaporkan masalah ini ke proses hukum, karena sebagai pintu masuk. Sebab, selain masalah yang disiangkan itu, selama ini isterinya, Rizki Amalia, telah melakukan penipuan dengan kedok investasi bodong.

Menurutnya ada investasi bodong dilakukan oleh isteri saksi, ini merugikan hingga Rp 40 miliar untuk investasi singkong, tapi ternyata bisnis itu tidak ada atau fiktif. “Kami saja keluarga ditipu hampir Rp15 miliar,” kata Ali.

Sebagaimana dalam dakwaan JPU, perbuatan terdakwa tersebut telah merugikan korban sebesar Rp 400 juta. (ver)