Pengurus Gapoktan Diduga Selewengkan Bantuan

03 Mei 2018 - 09:32:47 | 695 | HUKUM & KRIMINALITAS

DL/03052018/Lampung Timur

--- Warga Desa Margosari Kecamatan Metro Kibang Kabupaten Lampung Timur, yang tergabung dalam Kelompok Tani merasa resah dengan ulah Oknum pengurus Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di desanya, yang diduga telah menyelewengkan bantuan dari Pemerintah berupa, Alat pertanian, Bibit, Pupuk dan uang senilai ratusan juta rupiah.

Akibat kejadian ini puluhan Petani yang menjadi anggota Gapoktan mendatangi rumah salah seorang anggota Brimob, Narto untuk meminta bantuan menengahi masalah tersebut, pada Rabu 2 Mei 2018 sekira pukul 19.30 wib.

Tujuan warga mendatangi rumah salah seorang anggota Brimob yang juga tetangga mereka untuk meminta bantuan dan arahan terkait persoalan yang dialami oleh para Petani.

Selain itu, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sehingga menimbulkan tindakan anarkis dari warga kepada pengurus Gapoktan. Adapun pengurus Gapoktan adalah Ketua Suparni, Sekretaris Jaenal, bendahara Saman.

Sigit, salah seorang warga kepada detiklampung.com menuturkan, dugaan penyelewengan bantuan dari Pemerintah berupa alat pertanian dan yang lainnya oleh oknum pengurus Gapoktan di desanya sudah berlangsung sejak 2014 lalu.

“Bantuan dari Pemerintah berupa alat pertanian, seperti Alkon, Mulsa, Anjir untuk tiang penyangga tanaman cabe bahkan dana bantuan lunak juga tidak diketahui kemana rimbanya. Kami masyarakat tani tidak pernah menerima bantuan tersebut. Kami beramai-ramai datang ke rumah pak Narto ini untuk meminta bantuan dan arahan bagaimana menyelesaikan persoalan tersebut, karena kami ini orang kecil yang gak ngerti apa-apa mas,” jelas Sigit.

Hal berbeda disampaikan Suradi, menurutnya Ia menerima bantuan Alsintan berupa Alkon atau mesin penyedot air dari pengurus Gapoktan, Suparni, namun dirinya diharuskan menebus alat tersebut senilai Rp1 juta.

“ Saya pernah ngambil alat penyedot air (Alkon) di tempatnya Ketua Gapoktan Suparni, tapi saya dimintai uang satu juta rupiah, ya saya bayar mas katanya kalau ngambil Alkon untuk kelompok tani harus bayar,” kata Suradi.

Keterangan keduanya diamini Bejo yang juga anggota kelompok tani. Dikatakan Bejo, beberapa waktu yang lalu pihak Dinas Pertanian Kabupaten Lampung Timur pernah melakukan cross check terkait bantuan kepada para kelompok Tani di Desa Margosari.

Namun saat warga ingin menyampaikan hal yang sebenarnya bahwa mereka tidak pernah menerima bantuan, keterangan warga dibantah oleh pihak pengurus Gapoktan.

Bahkan pihak perangkat Desa seolah-olah turut melindungi pengurus Gapoktan dan terkesan mengintimidasi warga.

“ Waktu itu bulan April 2018, kita rapat di Balai Desa dan dari Dinas pertanian yang datang Pak Sigit dan Pak Endro. Waktu rapat itu, pihak Dinas menyampaikan bahwa benar ada bantuan dari Pemerintah untuk kelompok Tani melalui Gapoktan. Saat kami ingin menyampaikan perihal bantuan yang tidak pernah kami terima, baik pengurus Gapoktan mapun aparat Desa selalu memutus pembicaraan kami. Jadi kami tidak bisa secara gamblang memberi keterangan,” terangnya.

Terkait persoalan ini, Kelompok Tani di Desa Margosari Kecamatan Metro Kibang, meminta kepada Aparat baik dari Kepolisian maupun Kejaksaan untuk mengusut tuntas dugaan penyelewengan yang dilakukan oleh oknum pengurus Gapoktan.

“ Kami sangat berharap kepada para penegak Hukum untuk mengusut kasus ini hingga tuntas. Kami masyarakat siap memberikan keterangan yang sebenar-benarnya agar semuanya bisa jelas. Dan tidak menutup kemungkinan Gapoktan-Gapoktan yang ada di Desa lain juga melakukan hal yang sama yaitu menyelewengkan bantuan,” tandasnya. (igun)