Manajemen Arema Salahkan Wasit Kristianto

16 April 2018 - 06:54:17 | 1809 | OLAHRAGA

DL/15042018/Malang

---- Buntut penyerangan supporter Arema FC ke lapangan pada penghujung laga Arema-PErsib Minggu malam 15 April 2018, manajemen Arema Malang memberikan penjelasan mengenai peristiwa itu. Namun terkait kronologis kejadian, ternyata manajemen berbeda versi dengan Aremania.

Seperti dilansir Bola.com,  menurut manajemen Arema, suporter turun ke lapangan karena dipicu keputusan wasit Handri Kristanto asal Jawa Tengah yang beberapa kali merugikan Arema. Dimulai dengan gol kedua striker persib Ezechiel NDouasel.

Wasit terus melanjutkan pertandingan, padahal ada gelandang Arema, Ahmet Atayev yang tidak bisa bangkit lagi setelah berbenturan dengan pemain Persib.

“Jadi, Aremania bereaksi setelah beberapa kali kepemimpinan wasit merugikan Arema. Yang paling serius tentu kartu merah untuk Dedik Setiawan menit 88. Karena aksi Aremania terjadi setelah momen itu,” kata Media Officer Arema, Sudarmaji.

Dikonfirmasi terpisah, salah satu Aremania Korwil Amazon, Zaenudin Yusrin menjelaskan jika ada pemicu lain yang membuat suporter turun ke lapangan.

“Waktu penanganan awal match steward melakulan kesalahan. Ada Aremania yang ingin masuk lapangan langsung dipukul. Itu memancing reaksi dari Aremania lainnya untuk ikut turun,” kata Aremania yang akrab disapa Iin itu.

Insiden yang lebih besar pun tak bisa dihindari. Aremania menyerbu lapangan dan beberapa diantaranya ingin membalas perbuatan dari match steward. Tidak sedikit juga yang melampiaskan amarah kepada pihak Kepolisian yang melepaskan tembakan gas air mata.

“Untuk standar pengamanan tentu di luar kendali panpel karena tim keamanan sudah memiliki SOP dan pertimbangan sendiri sampai melepaskan gas air mata. Tapi yang jelas manajemen bertanggung jawab untuk merawat Aremania yang menjadi korban,” imbuh Sudarmaji.

Ada Puluhan Korban Pingsan

Evakuasi itu berlangsung cepat karena semua suporter masih berada di dalam stadion. Hanya, beberapa Aremania masih sempat melempari rantis yang ditumpangi Persib.

Untuk menghentikan aksi anarkis oknum Aremania, kepolisian melepaskan tembakan gas air mata. Langkah ini berhasil membubarkan Aremania yang sempat bergerombol di tengah lapangan.

Namun, tindakan ini memakan korban. Puluhan Aremania pingsan dan ditangani di dalam Stadion Kanjuruhan.

Banyaknya korban juga membuat ruangan medis yang ada tidak bisa menampung. Aremania yang jadi korban harus ditangani di beberapa ruangan seperti musala, hingga di pelataran depan ruangan konferensi pers.

Hingga saat ini, panpel Arema masih berjuang mendatangkan tambahan tenaga medis untuk menangani korban. Sementara pihak keamanan berjuang menghentikan protes yang masih berjalan di dalam dan luar Stadion Kanjuruhan. (*)