Supriyadi: Saya Merasa Kehilangan bang Yusuf Jaiz

06 April 2018 - 13:51:46 | 108 | HUMANIORA

DL/06042018/Bandarlampung

----- Innalilahi Wainna Ilaihi Rojiun. Kabar duka atas meninggalnya tokoh H Yusuf Djaiz SE (79) seorang tokoh politik dan olahraga di Lampung yang mewarnai provinsi Lampung era 1980-2000-an.

Ayahanda anggota DPR RI Almuzzammil Yusuf itu merupakan salah satu tokoh pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berpulang di Rumah Sakit Bumi Waras, Bandarlampung, Kamis 5 April 2018 malam.

Almarhum dibawa ke rumah duka di Desa Kurungan Nyawa Kecamatan Gedongtataan Kabupaten Pesawaran. “Rencananya, hari ini almarhum dimakamkan di di Negerisakti Pesawaran,” ujar Humas Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sabiqul Iman.

Almarhum meninggalkan delapan anak. Aktivis dan politisi senior itu pernah menjadi anggota DPRD Lampung periode 1999-2004 dari Partai Golkar.

Kehilangan Sosok Ayah

Bagi Supriyadi Alfian, Almarhum Yusuf Jaiz memberikan kenangan tersendiri bagi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Lampung ini.“Saya merasa sangat kehilangan bukan hanya seorang tokoh panutan, tapi juga seorang ayah.” Katanya, sambil terlihat matanya berkaca-kaca.

Beliau semasa aktif sebagai pengurus olahraga maupun wakil rakyat. “Almarhum sangat aktif layaknya orangtua sekaligus teman berdiskusi. Selain tentunya menjadi narasumber pemberitaan,” kenang Supriyadi Alfian, Jumat 6 April 2018.

Bukan hanya itu, Almarhim Yusuf Djaiz sebagai narasumber berita, juga menjadi guru yang selalu membimbing wartawan supaya bisa menulis berita yang baik, sekaligus mengerti tentang setiap tangkai olahraga.

“Beliau adalah tokoh yang sangat luwes dan tegas. Semasa saya menjadi wartawan olahraga era 1980 hingga 1990-an beliau selalu menjadi narasumber utama. Karena dari beliau terdapat banyak makna dalam berita kami. Ide-ide dan keputusan sangat nyata bermanfaat dalam implementasinya,” tegas Supriyadi Alfian.

Bahkan semasa menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Lampung maupun Direktur Bank Lampung, Yusuf Djaiz juga sangat dekat dengan wartawan. “Kami khususnya wartawan angkatan 90-an merasa sangat kehilangan. Karena beliau tidak hanya menjadi narasumber namun juga guru yang selalu membimbing semua generasi muda,” Sambung Pemimpin Umum Harian Momentum itu. 

Ketokohan Yusuf Djaiz dinilai sangat melegenda ditengah masyarakat politik dan olahraga Lampung khususnya, bahkan di dunia perbankan.

“Saya secara pribadi maupun seluruh keluarga besar wartawan PWI Lampung turut berduka cita sedalam-dalamnya. Semoga beliau Khusnul Khotimah, dan keluarga yang ditinggalkan merelakan dan ikhlas melepaskan almarhum untuk menuju surganya Allah. Amin,” tuturnya. (don)