Flyover Pramuka Gak Perlu Satu Arah

27 Maret 2018 - 10:31:21 | 324 | BERITA DAERAH

DL/27032018/Bandarlampung

---- Beberapa pengamatan yang dilakukan masyarakat umum yang terkejut atas pembangunan flyover di ujung jalan Pramuka Rajabasa Bandarlampung mulai diperlihatkan pada kenyataan bahwa pembangunan flyover tersebut untuk saat ini belum diperlukan, sebab sebelumnya di jalan ini tidak bermasalah.

Namun karena sudah terlanjur dipaksakan dengan alasan tertentu oleh Pemkot Bandarlampung, maka kini mulai menuai berbagai persoalan, mulai dari soal teknis pembangunan yakni keretakan bangunan penyangga, kemudian kemacetan yang justru berpindah ke jalan dimana sebelumnya tak ada masalah, Jl Indra Bangsawan, sampai rekayasa lalulintas yang dinilai membingungkan.

Bambang Sigit (54), warga Kemiling yang sering melintas di jalan Pramuka menilai Pemkot terlihat sangat memaksakan pembangunan jalan layang yang secara kenyataan belum layak untuk saat ini.

“Aneh aja, karena di pertigaan itu sebenarnya tidak bermasalah. Lampu Merah sudah cukup. Kalau menilai macet saat lampu merah itu kan karena jam sibuk saja. Sebenarnya cukup jalannya di sekitar pertigaan itu di lebarkan sudah beres. Gak perlu pake flyover, cuma mindahin kemacetan ke kampung sebelah.” Katanya kepada detiklampung.com, Minggu 25 Maret 2018.

Dia menambahkan, sekarang mulai terlihat bahwa azas manfaatnya tidak maksimal. “Ya itu tadi, azas manfaatnya masih lebih bagus pelebaran jalan saja, bukan jalan layang. Nah sekarang saat ditemukan ada keretakan bangunan penyangga, baru sibuk membuat rekayasa lalulintas lagi. Malah dipasang perboden. Kan buat pusing masyarakat pengendara aja. Diputer-puterin jalannya.” Tambahnya.

Sementara itu rekayasa lalulintas yang dibuat Pemkot belakangan ini karena seolah sebagai reaksi adanya keretakan bangunan itu. “Ya kan ini menunjukkan bahwa memang jalan layang ini kurang bermanfaat.” Ujarnya.

Tak perlu Verbodden

Pemasangan rambu lalulintas dilarang melintas dari dua arah Jl Indra Bangsawan juga pantas dipertanyakan efektifitasnya untuk lalulintas.

Kabid Lalulintas Dinas Perhubungan Kota Bandarlampung, Iskandar kepada media menegaskan bahwa rekayasa ini sudah dilakukan sejak pertengahan Maret 2018 dimaksudkan untuk mengurangi kepadatan di flyover.

Meski secara eksplisit tidak menyebutkan bahwa rekayasa yang dibuat setelah adanya temuat adanya keretakan bangunan penyangga itu untuk membatasi tonase yang melintas di atas flyover, karena sebelumnya pun sudah dipasang peringatan batas bobot kendaraan dan muatan yang lewat, tidak boleh melebihi 5 ton.

Tetapi oleh masyarakat alasan tersebut kemudian dinilai sebagai akibat ada temuan keretakan itu. “Sebenarnya tak usah dibuat verbodden lah. Flyover ini sudah cukup menyusahkan, maka dengan dipasang verbodden, akan lebih menyusahkan lagi. Sekarang BBM mulai naik, jalannya malah dibikin muter-muter. Ini gimana sich,” kata Roni A, warga Rajabasa Bandarlampung, Senin 26 Maret 2018.

Bambang minta agar dikoreksi lagi rekayasa lalulintas yang melalui flyover Pramuka itu. “Tolong yang cerdas lah. Kami masyarakat ini kan nurut-nurut aja. Tapi jangan setiap kali justru dibuat ribet begini. Nanti kalau sudah dipasang verbodden lalu urusannya dengan polisi. Ditangkap dan ditilang kan.” Katanya.

Tanda verboden itupun tidak tepat di sana. Yang seharusnya dipasang bukan verbodden, tetapi dilarang belok ke kanan dan ke kiri. “Dan itu tandanya juga salah. Seharusnya bukan tanda perboden dong. Itu kan arah dari Indra Bangsawan. Jadi harusnya dilarang kelok ke kiri, atau belok ke kanan, gitu,” ujar Bambang.

Karena memang sudah terlanjur terbangun, maka jalan layang ini harus memberikan azas manfaat yang benar-benar bisa membantu memudahkan arus lalulintas warga pengendara. Artinya masih akan lebih baik tetap diberlakukan dua arah seperti sebelumnya, dengan memantau tonase kendaraan yang lewat, dipastikan kurang dari 5 ton. (don)