Imron Minta Cabut Berita Kampanye

20 Maret 2018 - 18:15:40 | 429 | POLITIK

DL/20032018/Bandar Lampung

---- Imron, Ketua tim media centre pasangan calon Gubernur Arinal Djunaedi- Chusnunia (Arial-Nunik) melakukan complain atas pemberitaan yang tak seimbang dan menyudutkan pasangan nomor urut 3 tersebut. Ini disampaikan Imron kepada awak media Selasa, 20 Maret 2018.

Pemberitaan yang diterbitkan dalam media online suarapedia.com tidak berimbang terkait kampanye pasangan calon nomor tiga Arinal Djunaidi – Chusnunia di Lapangan Umpu Bhakti, Way Kanan, Senin, 19 Maret 2018.

Menurutnya, berita berjudul “Warga Blambanganumpu Tuding Tim Cagub Arinal-Nunik Pembohong” tidak disebutkan nama warganya yang diterbitkan di website suarapedia.com Senin, 19 Maret 2018 diposkan pada pukul 09.05 WIB. “Dalam elemen jurnalistik dijelaskan sumbernya harus jelas. Dalam isi berita disebut warga tapi tidak ada namanya dan tidak ada keberimbangan pernyataan dari Tim Kampanye Arinal – Nunik,” ucapnya.

Ali Imron yang juga mantan jurnalis ini juga melihat berita tersebut sangat tendensius dan merugikan paslon.

“Judulnya sangat tendensius dan menyerang paslon serta tidak coverbothside. Kami keberatan dengan pemberitaan itu. Kita minta berita dicabut dan diganti isinya sesuai fakta sebenarnya di lapangan,” pintanya.

Anggota DPRD Lampung ini juga menjelaskan bahwa tim kampanye tidak menjanjikan kepada warga untuk hadirnya Ustadz Solmed di lokasi kampanye.

“Tidak ada kita menjanjikan Ustadz Solmed dalam kampanye di Way Kanan. Kalau tidak dicabut kita akan melakukan langkah hukum,” tegasnya.

Pasangan Arinal – Nunik, lanjut Imron, dalam setiap kampanyenya selalu mengedepankan kejujuran dan sikap-sikap terpuji lain.

“Pak Arinal mengajarkan pada timnya untuk berpolitik secara santun. Jangan sampai demokrasi kita dirusak dengan hal hal yang negatif, dengan mengadu rakyat dengan calon,” kata Imron.

Dia menambahkan bahwa profesi jurnalis di lapangan sangat mulia jangan sampai karena tidak berimbang dalam melakukan tugas, membuat nama jurnalis menjadi buruk.

“Ini bisa jadi preseden buruk jurnalisme bila dalam melakukan tugas tidak sesuai fakta. Kami minta agar segera dicabut dan diganti isinya,” tandasnya. (Lis)