Terminal Rajabasa Kian Sepi, Penumpang Pilih Tunggu Di Luar

09 Februari 2018 - 12:06:40 | 1377 | BERITA DAERAH

DL/09022018/Bandarlampung

----- Terminal Induk Rajabasa, Bandarlampung yang pernah menjadi sorotan nasional karena menjadi terminal terbesar di Lampung dengan mobilitas tinggi, kini mulai miris kondisinya.

Terminal yang beberapa tahun belakangan mulai dibangun dengan megah dan dilengkapi berbagai sarana prasarana yang memadai, ternyata kini menjadi lokasi parkir bus yang sepi penumpang.

Indikasi sepinya penumpang memang sudah dilihat sejak dari luar terminal Induk Rajabasa, dimana banyak bus dari berbagai jurusan ngetem di Jalan Lintas Sumatera Hajimena, dan beberapa diantaranya di sepanjang jalur di luar terminal. Ini menyebabkan penumpang pun enggan masuk ke terminal.

Hal ini diungkapkan Eka Patria, Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Kota Bandarlampung yang bertugas di Terminal ini mengatakan bahwa kondisi ini sudah berlangsung cukup lama.

Diakuinya memang saat ini bus yang masuk terminal sudah sangat sedikit. “Sejak saya bertugas di sini 15 tahun lalu, kondisi saat ini yang benar-benar berbeda. Walaupun bangunan terminal sudah memenuhi stndar nasional, bagus dan nyaman, tetepai justru sekarang fungsi terminal ini tidak termanfaatkan,” katanya.

Eka mengaku heran, belakangan makin jarang bus luar kota masuk ke terminal. “Memang belum ada tindakan apapun soal ini kepada pengemudi Bus atau PO yang menaunginya. Mereka jarang yang masuk ke Terminal karena alasan penumpangnya tidak ada.” Katanya.

Bahkan mobil yang ngetem di dalam terminal juga mengeluh, yang dulu hanya perlu waktu lima sampai 10 menit penumpang sudah penuh. Sekarang bahkan menunggu 2 jam penumpang baru terisi 20 persen.

Nggak seperti dulu mbak, bus tujuan Kalianda nggak pernah menunggu lama sudah penuh. Kalau sekarang bisa dua jam nongkrong juga belum penuh. Mungkin ini juga pengaruh bahwa masyarakat sudah banyak punya kendaraan pribadi sehingga kurang berminat lagi naik bus,” kata Eka.

Enggan Bayar Retribusi

Yang lebih miris lagi, saat ini peraturan di terminal pun sudah diabaikan oleh pengendara bus. Para supir tidak jarang yang mulai menolak membayar retribusi atau TPR.

Dengan kondisi sepinya penumpang yang masuk ke terminal Rajabasa, kata Eka Patria, dan jika diprediksi saat ini hanya ada 20 persen saja penumpang yang mau masuk terminal, maka ini barangkali yang menjadi sebab para supir enggan membayar retribusi.

Pedagang pun terimbas sepinya penumpang ini, padahal harapannya dengan banyaknya penumpang yang keluar masuk terminal akan membuat perputaran dagangannya semakin baik. Namun nyatanya belakangan semakin sepi dan tidak sesuai dengan harapan mereka.

Eka menegaskan bahwa ini harus segera ditangani agar mobil bus kembali masuk ke terminal dan mau membayar retribusi. “Retribusi kan untuk Pemda bukan untuk perorangan, jadi kesadaran harus ada dari para pengemudi itu. Kalau sarananya di terminal sudah baik. Kami berharap terminal kembali ramai. Pemerintah bisa membuat aturan yang lebih tegas untuk para pemilik bus dan pengemudinya kembali menggunakan fasilitas terminal. Meski tidak ramai seperti dulu, ya minimal 50 persen lah,” ujarnya.

Dari kondisi inin memang harus mulai ditinjau kembali regulasi tentang terminal dan pemanfaatannya, terutama melibat pihak-pigak terkait seperti Organda dan pemilik Bus. (Vi/bat/tan/san)