Miris Melihat Kinerja RS Mitra Husada Pringsewu

08 September 2017 - 21:54:34 | 10260 | HUMANIORA

DL/08092017/Pringsewu

---- Belum selesai masalah dugaan mal praktik yang saat ini masih diselidiki Polda Lampung pada tiga pasien yang meninggal dunia setelah dilakukan operasi di Rumah Sakit Mitra Husada (RSMH) Pringsewu, kini menyusul masalah baru yakni seorang pasien yang menderita Usus Buntu juga meninggal dunia setelah dioperasi di Rumah Sakit ini.

Kelalaian yang menjurus pada mal praktik pekerjaan para dokter di RSMH atas meninggalnya seorang pasien penderita usus buntu, Dzaki yang akhirnya meninggal dunia saat dirujuk ke Rumah sakir Abdul Muluk Bandarlampung, juga patut dicermati secara hukum.

Kasus ini sudah menyeruak ke permukaan dan diangkat berbagai media di Lampung. Namun sampai berita ini diturunkan belum ada kejelasannya siapa yang bertanggungjawab atas kematian Dzaki.

Semula Dzaki melakukan operasi di RSMH, namun bukannya sembuh, namun lukanya tambah parah dan mengakibatkan perutnya terkena iritasi dan terbuka lebar.

Melihat hal seperti ini, pihak RSMH tidak sanggup menangani, lalu pasien nahas ini dirujuk ke RSUAM Bandarlampung. Rujukan dibuat oleh dokter Devi Mariyati, Kasi Rujukan Dinas Kesehatan Pringsewu.

Namun Dzaki keburu wafat pada Kamis 7 September 2017 pukul 19.25 Wib di RSUAM Bandarlampung.

Yang lebih miris, pihak RSMH meskipun sudah gagal melakukan operasi dan tak lagi mampu menangani pasien itu, masih menagih biaya operasi kepada keluarga Dzaki Rp40 Juta.

Untung saja banyak yang peduli terhadap Dzaki, mulai dari pejabat setempat serta masyarakat, sehingga akhirnya pihak rumah sakit membebaskan biaya tersebut.

Tiga Pasien Meninggal

Banyak kalangan masyarakat menduga banyaknya pasien rumah Sakit Mitra Husada, meninggal akibat Mal Praktek.

Beberapa tahun lalu, Kepolisian Daerah Lampung memastikan kematian tiga pasien di Rumah Sakit Mitra Husada Kabupaten Pringsewu akibat penggunaan Bupivacaine Spinal yang diberikan saat pembiusan sebelum proses operasi kepada pasien bersangkutan.

Kepala Bidang Humas Polda Lampung AKBP Sulistyaningsih, di Bandarlampung, Kamis malam, mengatakan, tiga pasien yang meninggal dunia di RS Mitra Husada itu, adalah Suripto, 67, menjalani operasi tumor pada betis kiri pukul 16.30 WIB dan waktu kematian pukul 23.20 WIB.

Selanjutnya, Devi Franita, 30, proses melahirkan/caesarean tindakan operasi pukul 22.00 WIB kemudian meninggal dunia Selasa (5/4) sekitar pukul 02.00 WIB, dan Reyhan Mahardika, 16, operasi Varicocel Bilateral, pelaksanaan operasi pukul 15.30 WIB dan meninggal dunia pukul 03.35 WIB.

“Ketiga pasien ini diberikan pembiusan spinal pada tulang punggung oleh dr Edi Pramono dan asisten dokter Mustova sebelum operasi berlangsung,” kata Sulistyaningsih.

Menurutnya, keterangan itu merupakan hasil pemeriksaan dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Lampung yang secara maraton melakukan pengecekan atau penyelidikan di lokasi kejadian tersebut.

Sebanyak 10 ampul masih tersisa lima ampul Bupivacaine dalam satu boks, sehingga masih ada dua lagi yang telah dipergunakan kepada pasien.

“Mudah-mudahan yang dua itu tidak akan menjadi persoalan, sehingga menimbulkan kejadian yang tidak diinginkan lagi,” kata dia.

Terkait jenis obat bius Bupivacaine Spinal, Sulistyaningsih menyebutkan, obat bius itu merupakan obat yang diproduksi oleh Bernofarm, dan masih akan didalami serta dikoordinasikan kepada pihak Balai POM dan IDI terkait keberadaannya.

Ia melanjutkan, dari hasil pemeriksaan tersebut pihaknya akan segera melakukan gelar perkara serta pembuatan laporan perkara.

“Apabila memenuhi unsur pidana, maka kami akan melakukan pemeriksaan terhadap dokter anastesi yang melakukan operasi pada Senin 4 April lalu,” kata dia.

Pihaknya juga akan melakukan pengecekan ke Balai POM terkait obat tersebut serta mengkoordinasikan dengan IDI terkait standar operasional prosedur (SOP) berjalan tindakan operasi di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya.

Berkaitan kasus itu, Kementerian Kesehatan membenarkan beredar imbauan untuk menghentikan sementara penggunaan salah satu produk injeksi obat bius tersebut. Penyelidikan tengah dilakukan terkait kematian pasien yang diduga karena obat tersebut.

“Terkait berita meninggalnya tiga pasien pasca-operasi di RS Mitra Husada Pringsewu Lampung, Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan edaran penghentian sementara pemakaian obat bius yang digunakan saat operasi kepada pasien tersebut,” kata Oscar Primadi, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Kamis.

“Kemenkes juga membentuk tim investigasi terpadu untuk menyelidiki penyebab kematian pasien dan membuktikan adanya dugaan kejadian tidak diharapkan (KTD) sentinel,” lanjutnya.

Tim ini terdiri dari BPOM, organisasi profesi dan asosiasi rumah sakit, seperti dilansir dari Metrotvnews.com pada Jumat, 8 September 2016. (prat)