Terobosan SMPN 1 Kibang, Jemput Siswa ke Sekolah

26 Agustus 2017 - 09:22:37 | 405 | PENDIDIKAN

DL/26082017/Lampung Timur

---- Terobosan cerdas yang dilakukan manajemen sekolah SMP Negeri 1 Kibang, patut diberikan apresiasi. Dalam perjalanan memberikan fasilitas pendidikan bagi masyarakat, ternyata masih ada yang belum tersentuh selama ini, yakni memperhatikan siswa kurang mampu yang kesulitan berangkat ke sekolah.

Ini barangkali sesuai dengan khitahnya dunia pendidikan yang benar-benar memperhatikan kebutuhan para siswanya untuk bisa mengikuti pendidikan dengan baik.

SMPN 1 Kibang Lampung Timur, yang dinahkodai oleh, Sri Suhartini, Spd. M. M. selalu mengedepankan kualitas dan mutu pendidikan yang unggul kepada setiap siswa-siswinya. Oleh karenanya berbagai program telah dicanangkan disekolah ini, salah satunya adalah anjang sana kerumah siswa siswinya untuk memantau perkembangan pendidikan mereka.

Belum lama ini, kepala SMPN 1 Kibang  Sri Suhartini member mandat kepada dua orang dewan guru yaitu, Wiji Utami,Spd dan Muji Kawitri,Spd , pada Selasa 21 Agustus 2017 untuk menyambangi rumah salah seorang siswinya yang sudah beberapa hari tidak mengikuti pelajaran disekolah. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apa penyebab siswinya tidak masuk sekolah.

“ Kami datangi rumah siswi tersebut mas, yang pertama kami bersilaturahmi dan yang kedua kami ingin tahu kenapa siswi yang bernama Putri Puspitasari kelas VII sudah beberapa hari tidak masuk sekolah, dan ternyata siswi tersebut tengah membantu kedua orang tuanya bekerja supaya mendapat uang untuk membeli seragam sekolah,” jelas Sri Hartini.

Disaat kedua dewan guru Wiji Utami dan Muji Kawitri berkunjung kerumah Hariyanto dan Suryani  orang tua siswi Putri Puspitasari, di Dusun VIII Desa Margototo Kecamatan Metro Kibang Lampung Timur  keduanya merasa prihatin dengan kondisi ekonomi  keluarga siswi tersebut, selain menempati rumah geribik yang berukuran 4x6m penghasilan ayah dari siswinya hanya sebagai buruh penyedot pasir, sedangkan ibunya hanya sebagai ibu rumah tangga.

Sudah barang tentu dengan pengasilan yang sangat minim Hariyanto tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya termasuk biaya sekolah putinya.

“ Dari situlah kami mengetahui penyebab siswi kami tidak masuk sekolah hingga beberapa hari karena harus membantu kedua orang tuanya bekerja untuk menghasilkan uang agar dapat membeli baju seragam sekolah mas. Ini menjadi tanggung jawab kami, si Putri harus sekolah untuk seragam dan kebutuhan lainya akan ditanggung oleh pihak sekolah, jangan sampai anak tersebut putus sekolah,” kata Sri Suhartini.

Sri Suhartini melanjutkan, yang lebih miris lagi dalam kondisi seperti ini, Haryanto mengaku tidak pernah mendapat bantuan apapun dari Pemerintah baik itu BLT, PKH atau yang lainya.

Ia berjanji akan lebih intensif melakukan kunjungan kerumah siswa siswinya untuk lebih menjalin silaturahmi serta  dapat menggali informasi guna memajukan dunia pendidikan di sekolahnya.

“ Prinsip kami mas, tidak boleh ada lagi siswa atau siswi putus sekolah dengan alasan ekonomi, kami akan jemput mereka supaya sekolah. Karena saat ini sudah ada biaya yang digelontorkan oleh Pemerintah untuk membantu pendidikan seperti dana Bos, dana KIP dan yang lainya. Jadi intinya tidak ada anak putus sekolah di usia dini kasihan masa depan mereka,”tandasnya. (Igun)