Buntut Pengusiran Pasien RSUD A. Yani Panjang

27 Juli 2017 - 12:35:39 | 3013 | KESEHATAN

DL/27072017/Kota Metro

---- Dugaan pengusiran pasien Rasyid, warga jalan Imam Bonjol Perumahan Pemda kelurahan Hadimulyo Barat Metro Pusat, pada Jumat 21 Juli 2017 dari Rumah Sakit Umum Daerah Ahmad Yani (RSUDAY) Metro  oleh oknum Dokter, berbuntut panjang. Pasalnya, pihak keluarga pasien melaporkan kasus tersebut ke Ombudsman.

Erfan Zainuri, anak kandung dari pasien Rasyid mengungkapkan, apapun bentuk keputusan dan alasan dari pihak RSUD A.Yani, menurutnya sah-sah saja, apa yang dikatakan oleh pihak rumah sakit sudah sesuai prosedur atau sesuai SOP.

Namun yang pasti, pihak keluarga tidak bisa menerima sikap dari dr. Yenni secara person. Hal ini diungkapkan Erfan kepada detiklampung.com di kediamannya, Rabu 26 Juli 2017.

Sikap dan tindakan salah satu dokter spesialis penyakit dalam di RSUDAY Kota Metro, yang selalu menyuruh pulang pasien bernama Rasyid, dengan alasan serta memvonis bahwa penyakit yang diderita pasien tidak lagi dapat disembuhkan, sangat disesalkan oleh pihak keluarga pasien, karena  dinilai bertententangan dengan etika kedokteran.

 “Kami yang mengalami, kami yang merasakan. Memang rasa kepuasan atas pelayanan itu relatif. Akan tetapi, persoalan individu seorang dokter spesialis, dr.Yenni tentu tidak pas. Terlebih pelayanan di RS milik pemerintah,” kata Erfan.

Menurut Erfan, ayahnya masih perlu dirawat, karena masih dalam kondisi lemah dan tidak mau makan. Ia tidak berharap ayahnya dapat sembuh total, namun setidaknya orang tuanya mendapat perawatan medis minimal di infuse agar kondisinya tidak semakin memburuk.

Tetapi dr. Yenni dengan ketus mengatakan bahwa infus bukan makanan. “Jadi pulang saja, karena penyakit bapak tidak bisa disembuhkan.” Ujar Erfan menirukan ungkapan dokter tersebut.

“Kalimat ini yang tak bisa diterima, dan kalimat itu terus berulang sejak dua hari dirawat tepatnya Selasa 18 Juli 2017. Kami berharap kasus ini bisa menjadi pelajaran bagi dokter dan pihak RS, maka kami lapor ke Ombudsman,” jelasnya.

Menanggapi hal ini, Ketua Komisi II DPRD Kota Metro Tondi Nasution dari Fraksi Golkar, mengatakan, jika  informasi yang ada mengenai sikap dr. Yenni yang bertugas di RSUD A. Yani, bertindak kasar terhadap pasien tidak sepatutnya dilakukan seorang dokter. “Terlebih yang  bersangkutan merupakan dokter spesialis.” Katanya.

Profesi dokter adalah abdi masyarakat di bidang pelayanan kesehatan, sangat disayangkan jika melayani masyarakat tidak ramah. Tentu ini menjadi perhatian khusus pihak rumah sakit, agar nama baik RSUD A. Yani di mata masyarakat tetap baik, terlebih rumah sakit itu sudah berlabel dan berprestasi.

“Selain dari penekanan dalam pelayanan yang harus dijaga dan ditingkatkan, tentu harus dibarengi dengan peningkatan jasa pelayanan yang seimbang, ini penting. Pihak managemen RS. Harus berani bersikap tegas, demi menjaga nama baik pelayanan RS yang telah berlangsung, termasuk sikap yang tak patut dilakukan oleh seorang dokter itu,” tandasnya. (Igun)