Cuaca Dingin, Arinal dan Ribuan Orang Nonton Wayang

03 Juli 2017 - 06:39:59 | 1004 | SENI & BUDAYA

DL/03072017/Lampung Barat

----- Cuaca yang cukup dingin di kawasan Pekon Pampangan, Kecamatan Sekincau, Kabupaten Lampung Barat, tak menyurutkan niat ribuan orang untuk menyaksikan pentas wayang kulit semalam suntuk di lapangan sepakbola Persada Utama, Sabtu malam minggu, 1 Juli 2017.

Pementasan ini diselenggarakan oleh Jaringan Arinal Berkarya (JAYA) pimpinan Himawan Imron dalam rangka sosialisasi bakal calon Gubernur Lampung periode 2019-2024, Arinal Djunaedi.

Ribuan anggota masyarakat setempat penggemar seni budaya Indonesia, dari bakda shalat Isya sudah memadati tenda yang didirikan di lapangan itu, dengan tertib mengisi sekitar 1.500 an kursi di bawah tenda pementasan wayang kulit yang dibawakan oleh dalang asal Tegal Jawa Tengah, ki Enthus Susmono.

Ketika berangsur malam, ribuan orang terus merangsek di sekitar tenda dan sebagian besar menyaksikannya lewat layar lebar yang disediakan di kanan dan kiri tenda besar.

Ki Enthus, malam itu membabar lakon Wahyu Mahkutho Romo, sebuah lakon yang sarat dengan berbagai nasihat untuk para calon pemimpin negeri.

Pembawaan Enthus Susmono yang khas memadukan pentas seni tradisional dalam kemasan berbagai peralatan modern memberikan warna yang komplit seorang seniman yang penuh dengan inspirasi.

Bahasa yang dipergunakan pun ada beberapa yang dipilih, mulai dari bahasa Indonesia, bahwa Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat yang disesuaikan dengan daerah dimana banyak masyarakat berasal.

Pementasan yang berakhir pukul 03.00 wib itu tetap penuh dengan penonton yang ingin  menyaksikan jalannya cerita Wahyu Makitho Romo hingga tuntas.

Sebelumnya Arinal Djunaedi yang tampil dalam pembukaan malam itu menitipkan agar ki dalang memberikan pencerahan dan nasihat kepada masyarakat dalam rangka berkehidupan dengan sesama anggota masyarakat lainnya.

Arinal juga memberikan pesan kepada seluruh masyarakat agar tetap menjaga kelestarian hutan yang mayoritas masih terhampar luas di daerah ini, untuk dijaga, dilestarikan dan dibudidayakan untuk kesejahteraan masyarakat sekitar.

Ajaran 8 Pedoman Pemimpin

Wahyu Makutho Romo yang dikenal dengan nama ajaran Hastabrata yang artinya Hasta adalah 8 dan Brata adalah tingkah laku atau watak. Jadi Hastabrata adalah merupakan 8 guidance (pedoman) ilmu standar perilaku manusia dalam leadership & Manajemen

Pertama ilmu HASTABRATA Hastabrata telah diwejangkan oleh Raden Regowo (Titisan Bhatara Wisnu) dari Ayodya kepada adiknya Barata sebelum dinobatkan menjadi raja di Ayodya bergelar Prabu Barata (Dalam Cerita Romo Tundung). 

Yang kedua oleh Raden Regowo juga (Titisan Bhatara Wisnu) dari Ayodya kepada Raden Wibisono sebelum dinobatkan menjadi raja di Alengka yang berganti nama menjadi Sindelo bergelar Prabu Wibisono (Dalam Cerita Bedah Alengko). 

Delapan watak yang harus dimiliki seorang pemimpin menurut Hastabrata adalah:

1. Watak Surya atau matahari

Matahari memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan yang membuat semua makhluk tumbuh dan berkembang. Seorang pemimpin hendaknya mampu menumbuh kembangkan daya hidup rakyatnya untuk membangun bangsa dan negara dengan bekal lahir dan batin untuk dapat tetap berkarya.

2. Watak Candra atau Bulan

Bulan memancarkan sinar kegelapan malam. Cahaya bulan yang lembut mampu menumbuhkan semangat dan harapan-harapan yang indah. Seorang pemimpin hendaknya mampu memberikan dorongan atau motivasi untuk membangkitkan semangat rakyatnya, dalam suasana suka dan duka.

3. Watak Kartika atau Bintang

Bintang memancarkan sinar indah kemilau, mempunyai tempat yang tepat di langit hingga dapat menjadi pedoman arah. Seorang pemimpin hendaknya menjadi suri teladan (Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tutwuri Handayani). Tidak ragu lagi menjalankan keputusan yang disepakati, serta tidak mudah terpengaruh oleh pihak yang akan menyesatkan.

4. Watak Angkasa yaitu Langit

Langit itu luas tak terbatas, hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keluasan batin dan kemampuan mengendalikan diri yang kuat, hingga dengan sabar mampu menampung pendapat rakyatnya yang bermacam-macam.

5. Watak Maruta atau Angin

Angin selalu ada di mana-mana, tanpa membedakan tempat serta selalu mengisi semua ruang yang kosong. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat dan martabatnya, bisa mengetahui keadaan dan keinginan rakyatnya. Mampu memahami dan menyerap aspirasi rakyat.

6. Watak Samudra yaitu Laut

Laut, betapapun luasnya, senantiasa mempunyai permukaan yang rata dan bersifat sejuk menyegarkan. Seorang pemimpin hendaknya menempatkan semua orang pada derajat dan martabat yang sama, sehingga dapat berlaku adil, bijaksana, dan penuh kasih sayang terhadap rakyatnya.

7. Watak Dahana atau Api

Api mempunya kemampuan untuk membakar habis dan menghancur leburkan segala sesuatu yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan harus bisa menegakkan kebenaran dan keadilan secara tegas dan tuntas tanpa pandang bulu.

8. Watak Bumi yaitu Tanah

Bumi mempunyai sifat kuat dan bermurah hati. Selalu memberi hasil kepada siapa pun yang mengolah dan memeliharanya dengan tekun. Seorang pemimpin hendaknya berwatak sentosa, teguh dan murah hati, senang beramal dan senantiasa berusaha untuk tidak mengecewakan rakyatnya. (don)