X

*** TERIMA KASIH ANDA TELAH SAKSIKAN DETIKLAMPUNG STREAMING TV SETIAP HARI ***      *** Video on Demand kami siapkan atas saran & permintaan masyarakat pembaca setia detiklampung.com *      MOHON MAAF SELAMA SEPEKAN, KAMI TIDAK DAPAT DIAKSES KARENA SEDANG ADA PERBAIKAN. NAMUN SAAT INI SUDA      

Pahawang Sejuta Warna, Sejuta Pemikiran

  • dibaca 483 kali

    DL/25052017/Pesawaran

    ----- Forum CSR Lampung (FCL) yang menggandeng Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI) dan Dinas Pariwisata Lampung, secara sporadis menyerang desa Pulau Pahawang, Kabupaten Pesawaran, Lampung, bersamaan dengan ulang tahun CCAI ke-25, Senin-Selasa (22-23 Mei 2017).

    Beberapa kegiatan secara bersamaan bergerak di sana. Mulai dari Beach Clean-up, bersih-bersih pantai di sekitar desa Pulau Pahawang, Penanaman Pohon Ketapang, layanan kesehatan gratis oleh tiga rumah sakit, edukasi memasak dengan menu bersih dan sehat oleh para Shef dari beberapa hotel di Bandarlampung, mengecat rumah dan mewarnai tembok-tombok di pinggir pantai.

    Salah satu dari kegiatan ini adalah forum group discussion (FGD) yang dipandu Asrian hendi Caya, digelar di balai desa Pulau Pahawang, pada Selasa 23 Mei 2017. Di sini dihadiri beberapa ahli lingkungan dan kehutanan dari Unila dan beberapa narasumber lainnya. Dan untuk anak-anaknya, Penamas membagikan ratusan alat tulis kepada Nak-anak Pulau pahawang, yang dengan super gembira menerimanya.

    Kepala Dinas Pariwisata Lampung, Budi Harto, menjadi pemapar pertama dari kondisi kepariwisataan Lampung. Menurut Budi, Lampung punya potensi luar biasa dalam segi pariwisata yang harus segera disikapi dengan arif dan bijakasana.

    “Kita bicara soal Pahawang saja misalnya. Ini destinasi yang mengejutkan dunia. Begitu cepat mencuat ke permukaan dunia, sehingga mampu menyedot begotu banyak masyarakat Jabodetabek beralih week end ke Lampung, ke Pahawang. Tapi apakah kita ini sudah siap untuk itu? Ini pertanyaannya. Kita semua mulai harus melakukan sesuatu. Tiga tahunan terakhir, wisatawan ke Pahawang bak air bah. Akibatnya memang kita semua tau, kerusakan alam tak terhindari. Maka ini persoalan yang pertama-tama harus dihindari dan diupayakan penanganannya dengan baik,” tutur Budi.

    Ia menambahkan bahwa kesadaran untuk kebersihan masih memprihatinkan, baik dari pengunjung maupun dari masyarakat setempat. “Harus ada tindakan konkrit untuk segera memngindahkan sisi ini, karena sangat penting untuk keberlanjutan Pahawang,” tambahnya.

    Siapa Berbuat Apa

    Ketua FCL, DR Saptarini, bahkan mengingatkan Pahawang sebagai sebuah destinasi yang booming dengan cepat ini kelak hanya akan tinggal cerita, karena sudah ditinggalkan masyarakat yang tidak lagi tertarik dengan destinasi ini karena sudah rusak dan kumuh.

    “Sebuah kondisi dimana ada kejenuhan, maka akan menimbulkan dampak yang luar biasa. Kejenuhan itu timbul tatkala lokasi ini, destinasi ini ya hanya begini-begini saja, tanpa ada sesuatu lannya yang menarik dan membuat orang penasaran untuk kembali ke sini. Jangan biarkan ini terjadi. Kita harus ambil peran. Siapa berbuat apa. Kalau pertanyaannya dimulai dari mengapa, ayo kita jawab bersama. Sebelum kita bicara lebih jauh, tentang siapa berbuat apa,” katanya.

    Pancingan permasalahan ini cukup untuk didiskusikan bersama-sama dalam FGD yang berlangsung sekita 70 menit itu.

    Berbagai masukan dari wakil perusahaan yang peduli dengan lingkungan seperti dari Coca-cola, Nestle, GGLC dan beberapa lainnya mengerucut pada bagaimana melakukan tindakan riil untuk misi penyelamatan Pahawang dengan berbagai ide-ide menarik.

    Bahkan soal pentas budaya, ikon-ikon yang memaksa untuk menjadikan Pahawang lebih kreatif dan lebih berwarna, mengalir dan semuanya sangat positif jika bisa dilakukan secara ideal.

    Diusulkan pula untuk melakukan pentas seni tradisional atau seni yang mampu memberikan kesan bahwa Pahawang ada Lampung, dan Lampung adalah Indonesia, dengan kesenian yang bisa memberikan kesan mendalam seperti di Bali.

    Contoh konrit bahwa Bali mempunyai sebuah pura yang dipergunakan untuk pertunjukan sendratari yang secara bergiliran bisa menghidupkan iklim berkesenian daerah oleh para pelaku seni di sanggar-sanggar setempat.

    Pahawang Sejuta Warna adalah sebuah gagasan agar Pahawang tidak pudar. Ini harus disikapi dengan konkrit tidak sebatas hanya memberikan wacana. Maka ditegaskan beberapa peserta yang dengan keras meminta penganggaran pemerintah daerah untuk memberikan perhatian khusus pula untuk daerah ini.

    Sementara dari Bappeda Pesawaran memberikan informasi bahwa saat ini sedang dilakukan pemetaan yang akan dilakukan secara detail dan mulai diajukan penganggarannya.

    Bagaimanapun juga dengan bupati baru yang juga masuk sudah menemukan posisi popularitas Pahawang sedemikian besar, memerlukan kajian mendalam untuk memberikan daya dukung yang konkrit dari pemerintah.

    Sementara itu dari Dinas Pariwisata Pesawaran mengatakan sudah ada beberapa langkah yang akan dilakukan dan termasuk menyiapkan beberapa peraturan tentang tarif yang jelas untuk trip-trip wisata di seputar Pesawaran termasuk pula Pahawang ini.

    Rancangan itu dikatakan sudah masuk ke Biro Hukum dan akan dilakukan kajian dan pengajuan kepada DPRD untuk disahkan menjadi Perda.

    Bekali Plastik Kebersihan

    Usulan menarik tentang kebiasaan kebersihan dari Agus Eka Putra, GGLC, bahwa setiap pengunjung ke Pahawang dan sekitarnya, ketika masuk dari beberapa pelabuhan seperti Ketapang atau pelabuhan lainnya harus dibekali dengan plastik untuk keperluan buang sampah.

    “Plastik itu menjadi tolok ukur dari beberapa hal, pertama, kedisiplinan pengunjung dan seberapa besar dampaknya terhadap penanganan sampah wisata dari pengunjung. Persoalannya kan saat ini tidak semua kapal pengangkut wisatawan itu ada kotak sampahnya. Sehingga pengunjung atau wisatawan dengan entengnya membuang sampahnya ke laut,” katanya.

    Menurut Eka, plastik juga bisa disediakan oleh perusahaan-perusahaan dengan logo masing-masing. “Intinya kita segera memulai,” katanya.

    Barankali FGD semacam ini sudah berlangsung beberapa kali dengan pemikiran yang semuanya ingin menjadikan semua destinasi wisaa di Lampung dalam kondisi yang baik dan semakin memikat. (don)

  • Berita Terkait

  • Karina: Kami Berusaha Memberikan Kail, Bukan Ikan

    Sudah 25 Tahun Coca-Cola Peduli Lingkungan

    Setetes Darah Kita Sangat Berarti Bagi Penderita Thalasemia

  • Belum Ada Komentar

  • Isi Komentar