Unesco Puji Kebebasan Pers di Indonesia

03 Mei 2017 - 21:52:26 | 516 | NASIONAL

DL/03052017/Jakarta

---- Kebebasan pers yang belakangan menjadi bahan pembicaraan terkait pelaksanaannya, menjadi sorotan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK), saat membuka peringatan Hari Pers Sedunia (Word Press Freedom Day/WPFD) 2017 yang diselenggarakan Badan Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) di Balai Sidang Jakarta (JCC), Rabu 3 Mei 2017.

“Memang kebebasan pers menimbulkan konsekuensi bahwa tanggung jawab bukan lagi pada censorship, tapi pada kredibilitas internal media dan masyarakat,” ujarnya.

JK mengakui bahwa Negara selalu memerlukan masukan yang kritis dari berbagai lembaga yang punya kapasitas untuk itu. Media sebagai pilar keempat demokrasi yang dapat memberikan kritik dan bersikap kritis kepada pemerintah. “Negara tanpa pandangan kritis tidak dapat menjalankan misi untuk menyejahterakan rakyat dan menjalankan negara yang baik dan adil,” katanya.

JK menyatakan apresiasinya atas ditunjuknya Indonesia sebagai tuan rumah peringatan Hari Pers Sedunia yang berlangsung 1 sampai 4 Mei 2017. “Terima kasih karena Indonesia menjadi tempat untuk memperingati Hari Pers Sedunia yang berarti mengukuhkan negara kita akan pentingnya menjaga kebebasan pers yang baik untuk kebaikan Negara. Selamat untuk kita semua,” katanya.

Wapres dalam pembukaan itu didampingi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.

Dalam kesempatan itu Direktur Jenderal Unesco, Irina Bokova, memuji kebebasan pers di Indonesia pasca reformasi 1998 dan kini menjadi contoh bagi negara-negara lain di dunia. “Terima kasih kepada Indonesia yang bersedia menjadi tuan rumah rangkaian acara peringatan Hari Pers Sedunia kali ini.” Ungkapnya.

Unesco telah bekerjasama dengan Indonesia sejak membangun Dewan Pers pada 1997. “Dan sejak itu kebebasan pers berkembang dan jadi salah satu panutan dunia.” Katanya. (Ryan)