Lambar, Polisi Terus Dalami Dugaan Penganiayaan Kades

27 April 2017 - 23:22:15 | 2835 | HUKUM & KRIMINALITAS

DL/27042017/Lampung Barat

----- Seorang oknum pegawai BPN Lambar, Hazairin dan anaknya Hariawan (Wawan) dilaporkan ke polisi oleh Sekdes Pekon Kotabesi, Mat Patoni dengan tuduhan penganiayaan. Namun kasus ini belum menemui titik terang, pasalnya Polisi baru memanggil Hazairin Kamis, 27 April 2017.

Kanit Reskrim Polsek Kecamatan Balikbukit Ipda. Irvan, kepada wartawan detiklampung.com saat dihubungi via Handhpone mengatakan kasus tersebut masih dalam penyelidikan, “Masih proses lidik, kita baru memanggil saudara Hazairin Kamis besok,” kata Irvan.

Menurutnya, proses penyelidikan masih berjalan, pihaknya baru mendatangi kantor BPN Minggu lalu guna melengkapi berkas dan meminta keterangan saksi-saksi yang menyaksikan perkelahian antara Hazairin dan M Patoni.

Terkait laporan pengeroyokan yang dilayangkan Sekdes Pekon Kotabesi Kecamatan Batubrak, Patoni, S.Sos, ke Polsek Kecamatan Balikbukit pada Rabu 19 April 2017, yang dilakukan oleh oknum pegawai BPN Lambar Hazairin bersama anaknya. Pihak kepolisian Polsek Balikbukit masih menunggu hasil Visum dari Rumah Sakit Alimuddin Umar Liwa.

Kanit Reskrim Polsek Balikbukit Ipda. Irvan, saat dikonfirmasi di ruang kerjanya Kamis 20 April 2019 membenarkan adanya laporan tersebut. “Laporan masuk jam 2 siang dan langsung kita lakukan pemeriksaan terhadap Patoni sebagai pelapor sampai jam 5, hari itu juga,” jelas Irvan.

Menurut Irvan, saat ini proses masih berjalan dan dalam tahap penyelidikan. Pihaknya masih mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk proses selanjutnya, “Kami masih menunggu hasil Visum dari Rumah Sakit, hari ini hasil Visum sudah selesai dan akan kita ambil. Selain itu kita juga akan mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengumpulkan data,” tuturnya.

“Rekaman CCTV yang ada di kantor BPN juga akan diminta untuk mengetahui kronologis perkelahian tersebut, rencananya hari ini kita akan ke kantor BPN, karena selain CCTV kita juga akan mencari tahu siapa saja yang ada di situ saat kejadian. Karena kabarnya selain pihak terlapor dan pelapor di sana juga ada pegawai BPN serta masyarakat umum,” ungkapnya.

Sementara terlapor Hazairin, juga akan segera dipanggil untuk dimintai keterangan, “Kami akan terus mendalami kasus ini. Terlapor akan kita panggil untuk dimintai keterangan. Masalah ini masalah klasik, Berdasarkan keterangan pelapor Patoni, permasalahan berawal dari pembuatan sertifikat di tahun 2016 yang sudah berjalan hampir 6 bulan.”Tambahnya.

Saat pelapor mendatangi terlapor untuk menanyakan perihal sertipikat tersebut terjadi cekcok mulut antara keduanya. Puncaknya adalah pelapor membanting Handphone dan terjadilah perkelahian. Pelapor mengatakan dirinya dikeroyok oleh Hazairin dan anaknya Hariawan (Wawan),” paparnya.

Tapi ini baru keterangan dari pihak pelapor. “Jadi belum dapat kita simpulkan apakah kasus ini pengeroyokan atau penganiayaan, tergantung hasil penyelidikan modusnya apa berdasarkan fakta, keterangan saksi-saksi dan bukti yang kita temukan nanti serta hasil pemeriksaan terhadap saudara Hazairin sebagai terlapor.” Ujar Irvan.

Jika memang terbukti ini merupakan pengeroyokan atau penganiayaan, maka proses hukum akan berjalan sesuai dengan aturan dan perundang-undangan yang berlaku di negara ini. (Anton)