PB Parfi: Siapkan SDM, Baru Produksi

26 Maret 2017 - 12:50:02 | 297 | SENI & BUDAYA

DL/26032017/Bandarlampung

----- Ketua Umum Penurus Besar Persatuan Artis Film Indonesia (PB Parfi), Febriyan Aditya, menegaskan bahwa kehadiran Parfi saat ini jauh lebih berat ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Mengingat banyak sekali kejadian-kejadian yang secara pribadi sudah menyeret nama Parfi ke pusaran permasalahan tertentu.

Namun Aditya menegaskan bahwa ini merupakan tantang yang harus dihadapi oleh para pengurus Parfi baik di pusat maupun di seluruh daerah di Indonesia. “Persoalannya tidak sesederhana yang kita pikirkan. Parfi ini kan benda mati, jadi tak ubahnya dengan kendaraan. Mau dibawa kemana saja oleh supirnya, si kendaraan pasti ikut saja kan. Tetapi yang salah kan bukan kendaraannya. Supirnya kan?” kata Aditya diplomatis, via selulernya Minggu 26 Maret 2017.

Maka dari itu, kata Aditya, konsenterasi saat ini adalah pembinaan karakter terlebih dahulu. Diprioritaskan kegiatan pada pendidikan yang baik dan benar pada para calon artis muda yang harus dimuati dengan pesan moral yang baik.

“Kesan pergaulan selebriti yang selama ini mencuat itu, sebenarnya tidak semuanya begitu. Banyak artis yang tetap santun dalam kehidupan masyarakat dan bisa diteladani. Maka itu harus dibentuk sejak awal. Ini tugas Pengurus Daerah. Gampang soal produksi, yang paling urgen adalah membentuk SDM yang handal dan berkualitas lahir batin dulu,” tegasnya.

PR buat pengurus Parfi membenahi organisasi ini agar bisa diterima kembali di masyarakat seperti dulu, dan menjadi idola karena bermartabat. “Justifikasi terhadap Parfi saat ini berat. Kita harus mampu bahwa Parfi sesungguhnya bukan seperti yang dituduhkan seperti sekarang, dari peristiwa segelintir tokohnya. Itu kesalahan manusianya, bukan organisasinya to. Jadi itu PR terberat kita saat ini. Tapi saya yakin kita bisa mengatasinya,” ujar Febriyan Aditya.

Jadi, Parfi daerah yang harus memperkuat ini, dan menggembleng moralitas dan mentalitas artis-artis pemula, agar tidak menempuh jalan pintas yang tak lazim, dan akhirnya nanti juga tidak bagus pada endingnya.

Pengurus PD harus mampu menjadi contoh bagi anak-anak muda yang punya ekspektasi tinggi untuk menjadi seniman film yang baik. Jadi jika contohnya sudah baik, maka akan sangat besar harapannya yang mencontoh juga baik. “PD punya tugas berat. Bukan untuk diri mereka sendiri tapi untuk generasi muda yang akan menjadi penerus kita. Parfi harus mampu melakukan regenerasi dengan baik dan benar pula. Saya tak suka artis karbitan. Gak lama itu,” tambahnya.

Dukung 40 Persen Biaya Produksi

Salah satu pernyataan Febriyan Aditya yang membuat hadirin di ballroom hotel Emersia Sabtu malam 25 Maret 2017 terhenyak adalah dia akan menyiapkan bantuan 40 persen dari biaya produksi sebuah film di Lampung.

“Saya tantang nih. Kalau Lampung bisa memproduksi film kategori FTV dengan menonjolkan promosi wisata daerah, saya siap bantu 40 persen. Karena salah satu kesempatan meningkatkan PAD saat ini dengan film. Ini promosi jitu. Kalau biaya produksinya 100 juta misalnya, saya yang tanggung 40 jutanya,” kata dia.

Aditya menjelaskan bahwa dalam proses produksi harus ada kerjasama yang kuat. Maka dari itu dia minta untuk tantangannya ini tidak salah diterjemahkan. “Mari kita duduk bareng dulu. Rencanakan apa film yang mau dibuat, bagaimana skenarionya. Serahkan kami dulu kami pelajari. Lalu kita bicara tentang bagaimana cara produksinya, bagaimana artisnya dan sebagainya. Pokoknya bisa sampai detail agar semua berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan bersama,” kata Ketua Karyawan Film Televisi itu.

Jadi, lanjutnya, semua tahap akan dibicarakan bersama, sampai kesepakatan berapa keluar angka untuk produksi bersama ini. Berapapun nilai produksi itu muncul, maka Aditya akan menanggung 40 persennya. “Saya harap, di sini bisa memproduksi film latar belakang wisata dan bisa mengangkat PAD. Ya tentu ada pertimbangan komersiilnya dong,” katanya.

Untuk penyertaan artis, Adithya tidak berpatokan pada artis besar di ibukota. “Kalau di sini ada artis yang kapabel untuk bisa mengangkat nama Lampung, kenapa musti nyari artis ibukota. Komposisi 70 persen artis daerah dan 30 persen artis ibukota bisa juga. Artinya peran utamanya dari sini. Kalau memang bisa diakui dan punya kemampuan, kenapa tidak,” ujarnya.

Bina Kegiatan Sosial

Komunitas artis atau seniman bukan berarti tidak berkegiatan sosial. Artinya Parfi juga diharapkan mampu bekerjasama dengan berbagai institusi untuk melakukan kegiatan sosial.

“Ya jangan eksklusif lah. Apalah artinya artis ditengah masyarakat kalau tidak mendapat sambutan, lalu mau berkarya dimana. Kita tetap manusia biasa yang harus berhubungan dengan anggota masyarakat lainnya. Jangan coba-coba menjauh dari masyarakat lalu menganggap artis ini sudah segala-galanya. Itu salah. Biasa saja. Mereka harus melihat dari karya kita, kerja kita, bukan soal Parfinya,” tegasnya.

Aditya mencontohkan adanya satu unit kerja di Dinas Sosial yakni Tagana yakni Unit Tanggap dan Siaga Bencana. Tagana bisa disinergikan dalam program kegiatan sosial organisasi ini.

Mengenai kantor Parfi, Aditya mengaku sudah membisikkan kepada Gubernur Lampung Ridho Ficardo, untuk bisa memfasilitasi kantor untuk Parfi Lampung. “Beliau mengatakan siap mendukung ini. Sialhkan Ketuanya menghadap saya, “ kata Aditya menirukan Gubernur. (don)