Ada Sesuatu Dari Film Trinity, The Nekad Traveler

05 Maret 2017 - 00:28:21 | 1890 | HIBURAN

DL/04032017/bandarlampung

---- Nonton film rame-rame, ternyata membuat topic pembicaraan menjadi hangat justru sesudah keluar dari gedung bioskop. Dari setiap kepala mempunyai pendapat dan penilaian sendiri-sendiri. Apalagi film yang sebelumnya diharapkan dapat memberikan kepuasan bagi penonton, karena sudah dirilis lewat berbagai media.

Tak ubahnya dengan pemutaran perdana Film Trinity, The Nekad Traveler yang dibintangi artis ayu, Maudy Ayunda di bioskop XXI Mall Bumi Kedaton, Bandarlampung Sabtu malam, 4 Maret 2017.

Film ini mendapat kehormatan ditonton oleh para pemimpinan dan eksekutif muda dan senior di Lampung. Keluar dari ruang tontonan, maka semua kepala mulai bergolak dengan buah pikiran masing-masing.

Apa yang kemudian keluar dari benak mereka, berikut beberapa pendapat yang berhasil dihimpun detiklampung.com dari berbagai individu, termasuk grup WhatsAps FCL.

Gubernur Lampung yang seperti biasa langsung memberikan respon terhadap sebuah peristiwa mengatakan bahwa film ini tergolong menarik dan menghibur.

“Ketika film menjadi bagian dari promosi pariwisata daerah, hal tersebut merupakan sebuah upaya dalam memperoleh pencapaian publikasi secara massal, karena seringkali kita berkompetisi dengan daerah lain dalam pariwisata namun masih terasa lemah pada sisi promosi, ini menjadi menarik karena tingkat kepercayaan masyarakat terhadap film-film yang disutradarai oleh Rizal Mantovani sudah terkenal menarik dan menghibur untuk disaksikan,“ ujarnya.

Ary Meizari Alfian, Bandarlampung

Eksposure keindahan Lampung kurang maksimal, perlu dibuat film khusus untuk bisa mengeksplorasi beragam potensi wisata dan heritage Lampung, sehingga bisa membuat penonton terpesona atau terkagum dengan beragamnya potensi wisata yang ada, serta dikemas dengan cerita drama percintaan dan diselingi cerita humor yang segar.

“Kayaknya Lampung, atau Kita perlu mencari ikhtiar untuk bisa memproduksi dan mengemas film semacam ini. Barangkali kita yang tau apa yang kita mau,” katanya.

DR. Saptarini, Langit Sapta Lampung

Ketua Forum CSR Lampung ini membuka pendapat setelah melihat pemutaran perdana film ini.

“ Untuk awal, semangat mengenalkan Lampung nya Okey. Tapi bisa lebih baik lagi nanti. Jadi masih perlu waktu.” Katanya.

Menurut Rini, Film ini cukup menginspirasi untuk jalan-jalan, traveling. “Membuat Lampung terdengar. Tapi kalau untuk mengenal Lampung emang bener. Hayuu kita bikin flm sendiri. Khusus tentang Lampung,” Ajaknya.

Lain lagi praktisi pariwisata yang gencar mempromosikan Pohawang, Adiyatama, atau beken dipanggil Jendral. Dia memandang dari sisi seorang praktisi.

“ Sebelumnya mohon maaf. Melihat film ini, sebenarnya gak sesuai dengan harapan saya sebagai pelaku wisata. Awalnya saya senang ini sebagai awal kebangkitan pariwisata Lampung. Saya pikir seperti Laskar Pelangi yang mengeksplore wisata Lampung. Tapi tayangan film tersebut membuat saya kecewa, justru Maldive yang terexplore bukan Lampung. Ini yang bisa saya sampaikan dan bisa kita diskusikan kenapa pariwisata Lampung harus begini terus,” ungkapnya.

Adi menambahkan bahwa ini bukan sedang melakukan kritik pedas, tetapi justru ingin konstruktif demi membangun pariwisata Lampung secara bersama-sama.

“Kenapa saat di Krakatau tidak dibuat semenarik mungkin, logat tour guide nya tidak mencerminkan budaya Lampung, di Way Kambas tidak detail seperti apa Way Kambas. Makanan Lampung hanya terlihat pondokan rumah kayu, tidak diekspose makanan Lampung. Gigi Hiu yang hanya pintasan saja.....Duh sayang sekalee,” kata Adi.

Mungkin masih banyak harapan yang disampaiakn ribuan penonton yang melihat film besutan Rizal Mantovani ini, khususnya masyarakat Lampung. Intinya, ingin yang terbaik itu pasti.

Ada tantangan, harusnya ada yang berani menanggapi tantangan itu. Mak Ganta Kapan Lagi, Mak Kham Sapa Lagi. (don)