X

*** TERIMA KASIH ANDA TELAH SAKSIKAN DETIKLAMPUNG STREAMING TV SETIAP HARI ***      *** Video on Demand kami siapkan atas saran & permintaan masyarakat pembaca setia detiklampung.com *      MOHON MAAF SELAMA SEPEKAN, KAMI TIDAK DAPAT DIAKSES KARENA SEDANG ADA PERBAIKAN. NAMUN SAAT INI SUDA      

Ini Alasan Shahirah Menyanyi Dengan Memejamkan Mata

  • dibaca 589 kali

    ----- Musik keroncong yang ditasbihkan sebagai musik Indonesia asli setelah masuk ke negeri ini dengan irama dan peralatan musik dari Portugis, kini sudah banyak perubahan yang lebih kental dengan budaya Indonesia, terutama di pulau Jawa.

    Namun musik keroncong yang pernah mengalami masa jaya dan pasang surut setiap jaman, belakangan terus merangkak kembali menuju ruang dengar dan pandang yang kian tegas.

    Musik keroncong juga mendapat ruang khusus selama ini sebagai musiknya orang tua. Jenis musik ini juga menjadi penghuni minoritas di kalangan anak muda di Indonesia. Karena anak-anak muda lebih cepat akrab justru dengan musik-musik cadas asal Eropa dan Amerika.

    Namun ternyata tidak semua anak muda yang kemudian larut dengan musik modern. Masih banyak potensi anak muda di Indonesia bahkan Asean atau Asia yang mulai beralih menggemari musik-musik berirama tradisional, dengan alat-alat akustik.

    Yang mengejutkan, justru kini musik keroncong berkembang di luar Indonesia dengan pelaku anak-anak muda. Seperti di Singapura dan malaysia misalnya.

    Bukti nyata, dalam pergelaran Musik Keroncong Rumpun Budaya Asean (RBA) yang digelar di Botani Square Bogor, Jawa Barat, tampil sebuah grup keroncong dari Singapura yang bernama Keroncong Kita. Pelakunya mayoritas anak muda yang bergabung dengan musisi-musisi kawakan negeri Singa itu. Ini pertanda baik untuk regenerasi.

    Empat penyanyinya masing-masing baru berusia 20-an tahun. Dan satu seniornya, Eddy Ali, memberikan persembahan yang mengesankan penonton di Mall milik IPB itu.

    Salah satu penyanyinya adalah Shahirah Jamaludin. Gadis berhijab ini mengakui bahwa belajar keroncong baru sekitar 2 bulan belakangan ini. Sebelumnya dia adalah penyanyi lagu-lagu daerah, lagu Melayu.

    “Saya belum lama mengenal keroncong. Kerana saya diserahi tugas untuk bernyanyi keroncong oleh Teratakseni Kita, maka saya mencoba belajar dari beberapa senior. Dan saya diberi petunjuk untuk mendengarkan CD atau VCD dari penyanyi Indonesia,” katanya, usai berlatih di Bogor, 17 Desember 2016.

    Beberapa lagu yang ia dengar dari Mus Mulyadi, Tuty Tri Sedya, Sundari Sukoco dan Hetty Kus Endang, telah memberikan inspirasi dan sebagai tuntunan mempelajari lagu-lagu keroncong.

    “Dari pak Eddy Ali, saya juga banyak dapat masukan dan referensi. Dalam waktu singkat itu, saya berusaha mencoba bernyanyi menuruti cengkok keroncong sebisanya. Maaf kalau kurang bagus cengkoknya. Sebab saya terbiasa menyanyi lagu Melayu.” Tutur Sha.

    Menyanyi, Memejam

    Ada ciri khas Shahirah dalam bernyanyi, yakni memejamkan mata sekejap sekejap. Kenapa ya? “Ada tiga hal kenapa saya sering memejamkan mata saat menyanyi. Pertama, saya kadang merasa lebih tenang. Kedua, untuk menghayati jiwa dari lagu itu dan ketiga, kadang untuk mengatasi nervous atau grogi.” Kilah lajang yang sudah menjadi pegawai negeri di Singapura itu.

    Memejamkan mata menjadi salah satu daya tarik pula dalam menyanyi. “Maka kadang tanpa disadari, saya otomatis memejamkan mata, atau mata saya terpejam sendiri dalam sebuah syair tertentu, dan itu tak direncana semula,” tambahnya.

    Dalam menyanyikan lagu jenis keroncong, Shahirah mengaku ada beberapa kesulitan terutama dalam mengatur pernafasan pada panjang pendeknya syair. Ini berbeda dengan kebiasaan dalam menyanyikan lagu jenis Melayu.

    “Lagu keroncong harus dinyanyikan dengan santai dan dihayati. Kita harus menyesuaikan dengan irama musiknya. Meskipun peralatan musik keroncong bisa dimainkan dalam irama Cha-cha misalnya. Tetapi dalam lantunan lagunya tetap terlihat santai,” ujarnya.

    Lagu Rangkaian Melati, Gambang Semarang dan Saputangan, serta satu lagu Melayu, Sorga Itu Dibawah Telapak Kaki Ibu yang dinyanyikan Shahirah menunjukkan bahwa lagu keroncong sudah mulai masuk dalam kekayaan intelektualnya.

    Dua rekan wanitanya, Siti Shahirah dan Aisyah juga memberikan penampilan yang tak kalah menawannya dari Shahirah. Sementara satu penyanyi muda pria, Syahwan juga memiliki satu suara khas yang cukup menggetarkan.

    Keempat penyanyi muda Singapura ini memiliki kelebihan masing-masing dengan karakter suara yang tak sama pula, sehingga memberikan warna lagu keroncong jadi lebih beragam.

    Nyatanya, media di Bogor banyak memuji penampilan para penyanyi muda dari Singapura itu. Bukan hanya pujian, tetapi kekaguman atas penguasaan lagu yang lebih dikenal sebagai lagu tradisional Indonesia, yakni keroncong. (don)

  • Berita Terkait

  • Way Kanan, Napi Titipan Tewas Tergantung

    Anna : Dalam Kebhinekaan Tidak Boleh Memaksakan Kehendak

    Andi: Setiawan Bisa Disembuhkan

  • Belum Ada Komentar

  • Isi Komentar