Seniman Singapura Semangat Kembangkan Keroncong

18 Desember 2016 - 01:51:16 | 3888 | SENI & BUDAYA

DL/18122016/Bogor

---- Untuk urusan seni budaya, rupanya hampir merata, seniman di Asia Tenggara khususnya, merasa gerah dengan menjalarnya seni dan budaya barat masih ke negeri mereka.

Salah satunya adalah para seniman senior dari Singapura, yang tergabung dalam komunitas Teratakseni Kita yang digagas oleh trio, Basir suparti, M Yusoff Mahmood dan Nadi Putra.

Teratakseni Kita ini akhirnya menjadi rumah dalam berbagai karya seni dan budaya, yang dikembangkan untuk generasi muda Singapura. “Kami punya keinginian, bahwa seni budaya kita ini jangan lantas punah dan ditinggalkan begitu saja, kerana anak-anak muda kita tak paham.” Kata Nadi Putra, kepada detiklampung.com, Sabtu, 17 Desember 2016 di Bogor.

Nadi, sebagai senior yang sebenarnya banyak berkecimpung di bidang teater dan film, lantaran dia adalah Sutradara dan Penulis Naskah, baik untuk media radio maupun film, memberikan gambaran yang konkrit mengenai tujuan yang akan diupayakan dari rumah seni mereka, Teratakseni Kita.

Lebih lanjut Nadi menegaskan bahwa di Singapura, untuk mengembangkan seni budaya juga banyak kendala. “Keroncong belakangan mulai bergairah di Singapura, dan mulai dilirik para seniman muda, itu tidak serta merta. Ada prosesnya. Karena musik keroncong ini sangat spesifik dan perlu pemahaman. Maka generasi muda kita harus diberikan pemahaman, sebab sebelumnya, musik ini sudah mulai ditinggalkan, jarang dimainkan di hadapan publik.” Tutur Nadi Putra.

Awalnya Teratakseni Kita bersemangat mengembangkan keroncong di Singapura, memang berlangsung cukup pelik. “Saat itu, teman kami Basir Suparti yang memperkenalkan kepada kami, bahwa ada tokoh keroncong di Indonesia yang siap support kami mengembangkan keroncong ini di negeri kami, yakni pak Suyitno dari Indonesia. Sejak itu semangat kami tumbuh  kembali,” ungkapnya bersemangat.

Rekrut Anak Muda

Berawal dari itulah maka Teratakseni Kita mulai melakukan rekruitmen para musisi dan penyanyi muda Singapura dan membentuk satu bidang dibawahnya dengan nama Keroncong Kita.

Beberapa anak muda yang diajak bergabung diantaranya Shahirah Jamaludin, Siti Shahirah Samad, Aisyah Salim dan Nurssyazwan Eddy untuk vokalis, sementara musisi yang menggawangi Keroncong Kita antara lain A Razak Ahmad (Cak Cuk), Juman Aman (Gitar), Aziz Hasim (Bass), Nur Fadly Majinin (Seruling) dan Wan Ibrahim Wan Embong, pemusik kawakan Singapura ini memegang keyboard. Sementara penyanyi senior ada Basir Suparti, Nadi Putra dan Eddy Ali.

Setelah merekrut musisi dan penyanyi muda, Keroncong Kita dijadwalkan latihan rutin setiap hari Senin malam. “Latihan rutin ini penting bagi kami, mengingat dalam grup ini terdiri dari berbagai personil dengan latar belakang musik yang berbeda. Maka harus ada penyesuaian lebih dalam,” kata Nadi.

Ternyata dengan kekuatan anak-anak muda digabung dengan senior ini memudahkan komunikasi dengan musik keroncong ini. Diakui Nadi bahwa musik keroncong bukan sembarang musik yang pernah ia dengar.

Dalam musik keroncong ada banyak hal yang bisa dipetik, salah satunya harmonisasi yang lembut dan mendayu. “Sepertinya akan sulit untuk dipadukan, antara pemusik muda dan senior untuk keroncong. Ternyata saya salah. Dengan aransemen yang dibuat dalam partitur, menimbulkan kesesuaian dua generasi pemusik jauh lebih asyik memainkan musik keroncong,” tuturnya.

Dengan undangan ke Indonesia dalam acara Silaturahmi Seni Budaya Asean ini, Keroncong Kita dari Singapura merasa bahwa ada kekuatan lain yang menggerakkan mereka untuk bersiap diri membuktikan kemampuan mereka di Botani Square Bogor Indonesia.

“Kami bersemangat sekali setelah diberikan motivasi untuk dapat membangkitkan musik keroncong di negeri kami. Pak Yitno juga menyemangati dengan memberikan garansi untuk membantu jika ada kekurangan dalam teknis dan nonteknis kami,” ujar Nadi.

Dengan jaminan itu, maka benar bahwa Silaturahmi Rumpun Budaya Asean adalah kegiatan yang memberikan dorongan kepada musisi keroncong Singapura untuk bangkit dan membuktikan bahwa mereka bisa.

Pembuktiannya adalah pementasan mereka di Botani Square, Minggu siang hingga malam di lantai 2 pusat perbelanjaan milik IPB Bogor itu.

“Kami siap tampil tentu dengan berbagai pertimbangan. Bahwa kami ingin menunjukan bahwa kami bisa bermain, kedua, kami sadar bahwa kami masih jauh dari harapan namun perlu terus diupayakan untuk meningkatkan kualitas bermain,” ujar Nadi.

Dengan penampilan ini diharapkan akan mampu memberikan kepercayaan kepada seluruh personil untuk terus menjaga keroncong lestari. (don)