Wisanggeni dan Anggara Peringkat Terbaik Audisi Dalang

07 November 2016 - 19:54:55 | 3456 | SENI & BUDAYA

DL/07112016/bandarlampung

--- Provinsi Lampung akhirnya mengirimkan 4 wakilnya dalam festival Dalang Muda dan Dalang Bocah tingkat nasional yang akan berlangsung di Jakarta akhir tahun ini.

Dari 6 peserta audisi  yang hadir, akhirnya dewan juri memutuskan peringkat peserta dengan ketentuan dua teratas akan mewakili Lampung ke nasional.

Dari kategori dalang Bocah akhirnya Wisnu Wisanggeni dari Pringsewu dan M Setya Anggara dari Way Kanan di kategori dalang Muda berhak mewakili Lampung ke tingkat nasional. Mereka di kelasnya didampingi seorang peserta lainnya yakni M. Anggara Putro dari Lampung Tengah untuk kategori dalang bocah dan Dimas Anggit dari Pringsewu untuk dalang Muda.

Mereka ini selanjutnya akan melakoni pembekalan oleh dalang-dalang senior sebagai mentor masing-masing untuk mempersiapkan diri ke nasional. Para dalang ini selanjutnya akan didaftarkan sebagai peserta audisi nasional.

Beberapa tahun belakangan ini Lampung selalu mengirimkan wakilnya dan rata-rata berprestasi di nasional. “Memang anak-anak Lampung punya reputasi bagus kalau sudah tampil di tingkat nasional, meskipun berkompetisi dengan para dalang muda dari pulau Jawa. Maka dari itu, anak-anak harus dipersiapkan dengan sebaik mungkin. Bahwa Lampung ada dan Lampung bisa berprestasi,” kata Sudarto ketua panitia audisi dalang muda dan dalang bocah provinsi Lampung, Senin 7 November 2016.

Sementara itu, Teguh Surono, ayahanda Wisanggeni menegaskan bahwa untuk kaderisasi dalang ocah dan dalang muda sebenarnya sangat sulit di Lampung ini, karena iklim budayanya tidak sekental jika berada di pulau Jawa. “Namun Alhamdulillah, bahwa teman-teman seniman dalang di provinsi Lampung ini mau untuk terus mengkader generasi baru untuk terus memegang estafet budaya kita ini,” katanya disela audisi, Minggu 6 November 2016.

Dia mengatakan siap terus mengawal kaderisasi dalang di Lampung ini, baik secara pribadi maupun secara paguyuban. “secara pribadi, saya sudah melakukan hal itu. Dengan mendidikan anak saya sendiri untuk menggeluti budaya leluhur ini, membuktikan bahwa kami sekeluarga sangat serius untuk ikut regenerasi budaya,” ujarnya.

Meskipun sarana dan prasarananya terbatas namun para seniman wayang terus melaju dengan sederet keterbatasannya. Namun demikian bisa disaksikan, sampai sekarang kesenian wayang kulit tetap digemari di seantero Indonesia, bahkan di Lampung sekalipun. (Sapto)