Gebyar Wayang Pepadi Tutup Audisi Dalang Muda

07 November 2016 - 16:53:22 | 3456 | SENI & BUDAYA

DL/06112016/ Bandarlampung

----- Audisi Dalang Muda dan Bocah yang berlangsung sepanjang hari ini, Minggu 6 November 2016, di halaman SMP Alhusna Kompleks Pondok pesantren Al Muttaqien Kemiling Bandarlampung, ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk malam ini juga.

Ada 6 peserta yang terdiri dari dalang Muda 3 orang, Dimas Anggit Sukendro dari Pringsewu, Bambang Pramusinto dari Pesawaran, dan Sultan Wahyu Atmojo dari Tanggamus.

Sementara 3 peserta Dalang Cilik adalah Parasdiya Wisnu Wisanggeni dari Pringsewu, M. Anggara Putro dari Lampung Tengah, dan M. Setyo Mukti Wicaksono dari Way Kanan.

Semua peserta memainkan petikan lakon dalam waktu 45 menit dalam berbagai gaya, seperti gaya Surakarta dan Yogyakarta.

Audisi ini akan mencari dua wakil dalang muda dan dua wakil dalang cilik ke tingkat nasional mewakili Lampung.

Namun sebelumnya, Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Lampung, Prof. Dr. Sugeng P. Haryanto mengatakan rasa bangganya, bahwa di Lampung masih bisa melakukan audisi dalang muda dan dalang bocah untuk mengisi generasi berikutnya.

Pada resepsi malam ini digelar lakon Karno Tanding oleh dalang Ki Agus Sudarsono. Sebelum melakukan lakon tersebut, diserahkan tokoh wayang oleh Walikota Bandarlampung, Herman HN kepada dalang pelakon malam ini.

Herman mengatakan bahwa dalam rangka melestarikan kebudayaan Indonesia, seyogyanya dilakukan bersama-sama seluruh komponen masyarakat. “Saya turut bangga dengan cara regenerasi para dalang ini. Karena wayang kulit dan dalang ini tak dapat dipisahkan. Untuk melestarikan dan menyambungkan kepada generasi berikutnya,” katanya.

Dalang di Bandarlampung agar terus berkembang dan terus bertambah. Saya juga berharap orang Lampung juga harus diberikan pengertian soal budaya ini, minimal dengan bahasanya. Akhirnya kesenian wayang ini bisa menyatukan budayanya.

Bahkan saat ini sudah ada yang berbahasa Lampung di Lampung Barat, Way Kanan dan Bandarjaya misalnya. “Kebudayaan Indonesia harus sama-sama ditumbuhkembangkan, agar citra Indonesia di luar negeri lebih kuat dalam budaya. Kita harus menyatu agar dihargai orang lain. Kita harus punya prinsip dan berbudaya tinggi,” ungkap Herman disela menonton wayang.

Ikut Mengembangkan Budaya

Sementara pimpinan Pondok Pesantren Al Muttaqien, DR. Drs. KH Musthopa Wagianto, SH, MH, mengatakan bahwa sangat senang dipercaya sebagai tempat audisi Dalang Muda dan Dalang Bocah oleh Pepadi Lampung di kawasan Pondok Pesantrennya.

“Prinsipnya, kami adalah bangsa yang berbudaya tinggi. Kami juga memberikan kesempatan kepada budaya Indonesia untuk berkembang. Maka Pondok Pesantren pun mendukung upaya untuk melestarikan budaya Bangsa Indonesia. Kami tidak melihat hal-hal lain secara politis. Ini kebudayaan yang tidak akan lepas dari bangsa kita. Sementara pendidikan di Pondok Pesantren kan sudah baku. Maka dengan memperkenalkan seni budaya negeri ini, akan memberikan inspirasi kepada anak didik di sini agar tetap berwawasan NKRI,” katanya.

Hadir dan turut menyaksikan pagelaran wayang kulit dalam rangka memperingat hari Dalang Internasional ini, Komandan Kodim 0410 Bandarlampung, Letkol. Didik Harmono, dan pengurus Pepadi Lampung serta masyarakat sekitarnya. (sapto)