Pepadi Lampung Berupaya Regenerasi Dalang

06 November 2016 - 10:13:55 | 2943 | SENI & BUDAYA

DL/06112016/Bandarlampung

---- Kesenian kolosal wayang kulit yang menjadi warisan leluhur Indonesia sesyogyanya tidak boleh sampai punah. Pelestarian buada Indonesia dari daerah maanapun di seluruh Nusantara harus terus diupayakan, agar generasi penerus tidak kehilangan jejak dan senia budaya asli Indonesia itu terkubur.

Demikian juga penyebaran kesenian daerah di seluruh Nusantara ini, termasuk salah satunya Wayang Kulit. Kesenian dengan durasi panjang ini memang sangat berat untuk dikembang dengan cepat, karena berbagai faktor.

Ketua Perhimpunan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Provinsi Lampung, Prof. Dr. Sugeng P Haryanto, mengatakan bahwa Pepadi Lampung terus berupaya melakukan langkah regenerasi pedalangan di Lampung, meskipun berada jauh dari tanah kelahiran wayang itu sendiri.

“Wayang Kulit, sebagai jenis kesenian yang terus menerus mengalami penyesuaian di sana sini dalam penyajiannya, untuk memberikan bukti bahwa kesenian ini bukan sakleg (tidak bisa berubah – red) dalam penyajiannya. Meskipun ada pakem-pakem yang tak  boleh dilanggar, namun ada segment yang bisa dipergunakan sebagai kolaborasi kesenian,” kata Sugeng, disela-sela Audisi Dalang Muda dan Bocah, di halaman SMP Al Husna, Pondok Pesantren Al Muttaqien Kemiling, bandarlampung, Minggu 6 November 2016.

Sugeng mengatakan bahwa jauh lebih sulit mengembangkan kesenian di Lampung ketimbang di pulau Jawa. Namun bagaimanapun ternyata masih bisa diupayakan. “Memang kendalanya banyak sekali, namun ya harus dilakukan semampunya,” katanya.

Penyesuaian terhadap visual wayang pada warna budaya daerah juga harus dilakukan untuk mendekatkan kepada masyarakatnya. Bahkan dalam segi bahasa, juga bisa diselipkan dalam segment khusus dalam wayangan itu.

“Bisa saja unsur Tapis Lampung dipergunakan untuk pakaian dalam tokoh pewayangan, namun juga tidak serta merta semua tokoh bisa diubah. Jadi semua harus hati-hati agar tidak saling bersinggungan, namun bisa menyatu,’ tambahnya.

Upaya untuk melakukan regenerasi dalang memang sulit, namun terus didorong agar anak-anak mau menggemari kesenian kolosal ini.

“Banyak cara untuk itu, namun sekali lagi kendalanya juga banyak. Harus ada kesatuan pandang soal budaya antara komunitas ini dengan pemerintah daerah. Jika tidak membuat perubahan yang signifikan pada tokoh-tokoh wayang, bisa saja mulai memasukkan pakaian para penabuh atau nayaga dengan Batik Lampung, agar bisa memulai ada perpaduan seni budaya di sini,” ungkap Sugeng.

Dalam audisi Dalang Muda dan Bocah ini akan memilih masing-masing dua dalang untuk mewakili Lampung di lomba Dalang Muda dan Bocah Nasional 2016 di Jakarta.

Kali ini ada 3 peserta Dalang Muda dan 4 Dalang Bocah yang mengikuti audisi. Menurut Sugeng, sebenarnya masih banyak dalang-dalang bocah dan muda yang ada di Lampung, namun saat ini tidak bisa ikut semua karena banyak bersamaan dengan berbagai keperluan.

“Ya, sebenarnya cukuplah untuk memberikan warna dalam audisi ini. Sambil melakukan regenerasi untuk memberikan kesempatan tampil dan menunjukkan keahliannya. Peserta yang ikut kali ini mulai dari Way Kanan, Pringsewu hingga Bandarlampung,” tambah Sugeng.

Audisi ini akan berlangsung dua haru, Minggu dan Senin (6-7 November 2016), diiringi oleh para penabuh gabungan dari seluruh provinsi Lampung. (Sapto)