Alangkah Mahalnya Berobat di RSI Metro

01 November 2016 - 21:59:05 | 405 | BERITA DAERAH

DL/01112016/Kota Metro

---- Mujiati (55) ibu rumah tangga warga Jalan Kepiting RT 5 RW 12 Kelurahan Yosodadi Kecamatan Metro Timur Kota Metro, sangat kaget dan terpukul begitu akan menyelesaikan pembayaran administrasi perawatan anaknya Tria Sundari (19) di Rumah Sakit Islam (RSI) Kota Metro, karena sakit Demam Berdarah Dengue (DBD), Sabtu 29 Oktober 2016.

Pasalnya, saat menanyakan biayanya ke kasir diberitahukan bahwa biaya anaknya selama 4 hari perawatan sebesar Rp5,2 Juta.

Karena bingung dan panik serta tidak percaya, Mujiati langsung berkeluh kesah dan menceritakan tentang biaya anaknya di RSI kepada Fitrianawati, tempatnya bekerja selama ini sebagai buruh cuci baju.

Dengan ditemani Fitrianawati, Mujiati kembali ke kasir untuk menanyakan biayanya, termasuk apa saja rician-riciannya dan ingin melihat rekam medisnya, sehingga bisa muncul biaya yang begitu besar.

Tetapi begitu sampai kasir, alangkah kagetnya keduanya, karena rincian perawatan dan rekam medis hanya bisa diberikan kalau sudah menyelesaikan administrasinya.

Hal serupa juga dialami oleh Roni, warga Yosorejo Metro Timur, saat mengurus administrasi adiknya saat dirawat di RSI karena terkena DBD, pada 24 Pebruari 2016.

Roni kaget melihat biaya yang harus dikeluarkan mencapai Rp6,5 juta. Padahal adiknya yang bernama Yanti hanya dirawat selama 3 hari.

Yang membuat Roni lebih kaget lagi setibanya di rumah saat dirinya melihat kwuitansi pembayaran yang dikeluarkan oleh pihak RSI, di struk pembayaran tertulis pasien bernama Yanti menjalani perawatan selama 5 hari. Roni mengaku untuk membayar biaya rumah sakit dirinya harus menjual sepeda motor miliknya.

Atas kejadian tersebut, pihak Mujiati dan Roni mengadu ke DPRD kota Metro. Keduanya diterima langsung oleh Ketua Komisi II, Tondi Nasution di ruang kerjanya, Selasa 1 November 2016.

Dihadapan Wakil rakyat keduanya mengadukan nasibnya yang merasa dizolimi oleh pihak RSI.

Usai menerima pengaduan dua warga, ketua Komisi II Tondi Nasution kepada awak media mengatakan, pihaknya akan segera melakukan croscek dan pemanggilan kepada pihak RSI guna dimintai keterangan terkait hal ini.

“Kalau saya lihat dari bukti pembayaran di situ ada kekeliruan yang dilakukan pihak RSI. Dari masing-masing struk yang dikeluarkan di situ tidak tercantum rincian obat-obatan yang diberikan kepada pasien, baik jumlah obat maupun jenis obatnya,” Kata Tondi.

Lebih lanjut Tondi mengungkapkan, jika hanya pasien DBD dan masa perawatannya hanya berkisar 3-5 hari dengan biaya obat yang rata-rata di atas Rp2 juta, maka hal itu patut dipertanyakan. Terlebih pihak RSI tidak merinci secara jelas jenis obat dan harga satuannya.

“Hal ini tidak bisa dibiarkan, kami akan menindaklanjutinya supaya menjadi perhatian bagi RSI dan tidak berlaku semena-mena kepada pasien-pasien lainya,” tandasnya. (Igun)